Strategi Front Persatuan Nasional (4): Pendekatan PKI Terhadap Organisasi Pemuda, Mahasiswa dan Pelajar

715

Strategi Front Persatuan Nasional (4): Pendekatan PKI Terhadap Organisasi Pemuda, Mahasiswa dan Pelajar [1]

 

Di bawah kepemimpinan Aidit, PKI memperhatikan pemuda dan oganisasi massa pemuda. Organisasi Pemuda PKI yang semula bernama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang didirikan pada bulan November 1945, jumlah anggotanya berkisar antara 50.000 orang sampai 100.000 orang.

Ketika terjadi pemberontakan PKI Madiun, hampir semua pemimpin dan anggota Pemuda Sosialis Indonesia terlibat dalam pemberontakan tersebut. Sekalipun terlibat dalam pemberontakan Pesindo tidak dibubarkan.

Pada tanggal 4-12 November 1950 Pesindo mengadakan kongresnya yang ketiga di Jakarta, yang dihadiri oleh 149 cabang. Pada kesempatan ini nama Pesindo diubah menjadi Pemuda Rakyat (PR). Dalam kongres ini, mereka memasang gambar Presiden Soekarno yang berukuran besar di samping gambar Mao Ze Dong (dulu Mao Tse Tung) pemimpin partai komunis Cina.

Pemasangan gambar ini merupakan indikasi untuk memperbaiki citra mereka karena pernah terlibat dalam pemberontakan Madiun. Kongres ini dianggap sebagai kemenangan bagi Aidit dan groupnya, yang kemudian menguasainya. Pada kongres ini Wikana yang menentang kebijaksanaan grup Aidit disingkirkan dari kepemimpinan PR

Setelah kongres November 1950 itu, Pemuda Rakyat (PR) menyebut dirinya bukan organisasi massa PKI, meskipun sehari­-hari menyuarakan politik PKI. Selain itu Konstitusi Pemuda Rakyat yang baru membolehkan setiap pemuda dari golongan manapun masuk ke Pemuda Rakyat.

Pada bulan Juni 1953 Dewan Nasional Pemuda Rakyat mengayunkan langkah pertama memperluas keanggotaan dari 70.319 orang menjadi 150.000 orang pada akhir tahun 1953. Kampanye Pemuda Rakyat ke pedesaan rupanya berhasil dengan baik sebab 75% anggotanya adalah petani miskin.

Akhir tahun 1955 80% anggotanya adalah petani sedangkan sisanya adalah buruh, karyawan, pelajar dan mahasiswa, dan yang lain adalah pedagang kecil dan nelayan. Dari jumlah itu 5%-nya adalah wanita.

Pada kongres ke-5 Pemuda Rakyat yang diadakan pada bulan Juli 1956, masalah pendidikan kader diangkat sebagai tema kongres. Realisasi dari hasil kongres itu diadakan usaha-usaha menyediakan materi-materi publikasi yang dapat digunakan oleh para kader, tetapi rupanya kurang berhasil, Selama kampanye pemilu untuk memilih anggota Dewan Konstituante, Comite Eksekutif Pemuda Rakyat menginstruksikan kepada anggotanya untuk mempelajari tulisan Aidit yang berjudul Untuk kemenangan Front Persatuan Nasional dalam Pemilihan Umum.

Kongres menyebutkan bahwa pendidikan kader hendaknya dikonsentrasikan pada tingkat pusat dan propinsi serta kabupaten dengan cara diskusi kolektif untuk semua pemimpin dan anggota group. Dalam diskusi ini dibicarakan mengenai masalah cara menerapkan teori Marxisme-Leninisme dan hubungannya dengan perjuangan PKI.

Di samping itu ditekankan oleh para pemimpin Pemuda Rakyat bahwa kunjungan ke negara-negara blok Soviet adalah sama pentingnya dengan pendidikan. Sebagai contoh pada tahun 1951, 63 orang Pemuda Rakyat dikirim ke Berlin, tahun 1953 sebanyak 600 orang dikirim ke Bukares, 1955 ke Warsawa, tahun 1957 ke Moskow.[2]

Sampai akhir tahun 1957 telah terbentuk 802 cabang Pemuda Rakyat dan mempunyai 800.000 anggota. Pada bulan Juli 1958 Dewan Nasional mempunyai target 1.200.000 anggota. Pada Seksi Perkotaan, Pemuda Rakyat meluaskan keanggotaannya pada pelajar SLTA dan mahasiswa dan menerbitkan majalah organisasi Generasi Baru.

Aktivitas politik Pemuda Rakyat sejalan dengan kebijaksanaan PKI. Sukatno Sekretaris Jenderal Pemuda Rakyat, menulis pada tahun 1955, bahwa melalui jalan atraksi massa, pemuda mengetahui adanya kebangkitan pemuda dan pelopornya Pemuda Rakyat.

Sebagai contoh, program umum tuntutan Pemuda Rakyat dikemukakan pada kongres bulan Juli 1956, berisi dua puluh tuntutan umum, tujuh tuntutan untuk buruh pemuda, sebelas untuk petani dan lima belas untuk mahasiswa.

Ruang lingkup dari tuntutan yang demikian luas ini menyangkut kepentingan buruh muda, seperti perbaikan gaji, keamanan kerja dan kondisi kerja, penghapusan diskriminasi gaji berdasarkan jenis kelamin dan umur, pembagian kebutuhan pokok yang harganya terjangkau dan bea siswa pendidikan dari pemerintah maupun pemilik pabrik.

Program tuntutan yang penting biasanya dilakukan oleh Pemuda Rakyat sendiri, hanya kadang-kadang bekerja sama dengan PKI atau organisasi massa PKI yang lain.

Pemuda Rakyat keanggotaannya terdiri atas pemuda segala lapisan masyarakat. Aktivitasnya di bidang olah raga, menarik perhatian klub-klub olahraga pemuda seperti cabang bola volly, badminton, sepak bola, tenis dan catur.

Festival Sport Nasional di bulan November 1958 yang diadakan oleh Pemuda Rakyat diikuti hampir semua organisasi pemuda di Indonesia. Aktivitasnya di bidang budaya belum begitu menonjol.

Di samping pemuda, PKI juga mendekati pelajar. Organisasi pelajar yang didekati adalah Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). IPPI adalah organisasi pelajar yang dibentuk di Yogyakarta bulan September 1945. Dalam organisasi ini anggotanya terdiri para pelajar SLTA dan beberapa di antaranya mahasiswa.

Dalam bulan Februari 1948 bersatu dengan Serikat Mahasiswa Indonesia yang kemudian menjadi Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Pada waktu perang kemerdekaan IPPI aktif memobilisasi para pemuda untuk menentang Belanda.

Pada tahun 1950 Sujono Atmo seorang komunis terpilih menjadi pimpinan IPPI. Sejak tahun 1950 itu orang-orang komunis telah menguasai beberapa cabang IPPI di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pemimpin-pemimpin non komunis menjadi sadar dan kemudian mencoba untuk merebut IPPI dan dalam pemilihan pengurus IPPI tahun 1954, IPPI bebas dari pengaruh komunis.

Namun sesudah itu terjadi perpecahan dalam tubuh IPPI Jakarta, antara yang komunis dan non komunis. Pada tahun 1957, karena pusat tidak dapat mengadakan kongres agaknya takut pemimpinnya jatuh ke tangan orang komunis, maka IPPI Bandung mengambil inisiatif mengadakan kongres yang didukung oleh pemimpin, komunis yang lain. Kongres kemudian memilih dewan pengurus baru dan IPPI kemudian terpecah dua yang masing-masing saling mengklaim dirinyalah yang sah.

Pemimpin komunis dari IPPI mengkonsentrasikan kegiatannya pada bidang olah raga, sosial dan budaya dan mereka sering mendapat bantuan dari Pemuda Rakyat. Akan tetapi dalam praktek, IPPI digunakan sebagai alat politik oleh PKI, terutama dalam mendukung program PKI, demonstrasi dan protes-protes.

Pendekatan PKI terhadap mahasiswa kurang berhasil karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga sedikit saja mahasiswa yang tertarik pada ideologi komunis. Hal ini akibat dari sikap dan pernyataan para pemimpin PKI, yang bersikap memusuhi golongan intelektual dan menyatakan bahwa ideologi borjuis dan individualisme dominan dalam universitas.

Pelajar-pelajar yang memasuki perguruan tinggi semangat progresifnya luntur berganti dengan ideologi borjuis. Untuk mengatasi kendala ini PKI melakukan aksi sosial membantu pelajar yang miskin dengan maksud memelihara kesadaran politiknya.

Awal mula pendekatan baru terhadap mahasiswa, adalah mendirikan organisasi perkumpulan mahasiswa lokal pada tahun 1950 di Bandung, Bogor dan Yogyakarta, yang sama sekali tidak nampak komunis.

Pada bulan November 1956 oleh organisasi­-organisasi lokal itu dibentuk Consentrasi Gerakan MahasiswaIndonesia (CGMI) yangjumlah anggotanya 1180 orang.

CGMI menampakkan wajahnya sebagai organisasi mahasiswa yang tidak berpolitik dan netral terhadap agama. Untuk menarik simpati pemuda pelajar, CGMI mengajukan program:

  1. Menentang keras upacara perpeloncoan pada waktu penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.
  2. Memperjuangkan “kepentingan mahasiswa”, sebagai contoh, delegasi dari CGMI menemui Menteri Pendidikan menuntut penurunan harga buku dan bea siswa diperbesar.
  3. Secara aktif mendukung garis kebijaksanaan Presiden Sukarno dan menentang pemberontakan PRRI/Permesta.
  4. Menentang “budaya Rock-n-roll” dan menganjurkan kembali ke kebudayaan Indonesia sendiri.

Di samping itu sejak tahun 1959 CGMI juga mulai mengorganisasi kelompok belajar (Studie Club) untuk menarik mahasiswa masuk ke kelompoknya.

Dengan semua aktivitasnya ini, CGMI dapat menarik mahasiswa yang baru, karena mempunyai karakter yang unik. Para mahasiswa baru yang belum memiliki kesadaran politik dan agama, mudah terbujuk oleh CGMI, karena CGMI adalah “satu-satunya jalan” bagi mereka.

Ada pertanyaan yang besar mengapa pada periode ini banyak mahasiswa tidak tertarik pada PKI, dan PKI gagal menarik para mahasiswa ke dalam kubu komunis?

Jawabannya adalah, pada dekade tahun lima puluhan mayoritas mahasiswa Indonesia berasal dari golongan menengah. Mereka berasal dari keluarga yang mendukung PNI, Masyumi, NU, PSI atau pegawai negeri yang secara tradisi tidak berpartisipasi dalam bidang politik.

Di antaranya ada yang berasal dari keturunan bangsawan yang sudah barang tentu sulit dipengaruhi oleh komunis.

Hampir semua pemimpin organisasi pemuda dan mahasiswa menyatakan bahwa program politik kurang sesuai dengan aspirasi kaum muda. Secara umum para pelajar dan mahasiswa, dekade 1950 ­an cenderung acuh tak acuh dan curiga pada setiap partai politik.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid III: Konsolidasi dan Infiltrasi PKI Tahun 1950-1959, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Harian Rakjat, 10 Juli 1953, 28 Juli 1955, 10 September 1957 dan 28 Juni 1962.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.