Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (1): Rencana Operasi

2427

Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (1): Rencana Operasi[1]

Pengangkatan Kolonel Soengkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur serta ketetapan Jawa Timur sebagai Daerah Militer I diumumkan melalui radio pada tanggal 19 September 1948. Pengangkatan Soengkono merupakan upaya pemerintah guna mengatasi kemelut dan kekosongan kepemimpinan TNI Jawa Timur, dalam rangka menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Keesokan harinya, tanggal 20 September 1948, Kolonel Soengkono mengumpulkan para pembantu terdekatnya guna membicarakan tindakan yang akan dilaksanakan. Komandan Brigade 2 (Surachmat) dan para perwira bekas anggota Staf Divisi VI Narotama serta beberapa perwira lain hadir pada pertemuan tersebut. Gubernur Militer dalam pertemuan itu memberikan beberapa arahan sebagai berikut :

  1. Menyiapkan pasukan penggempur yang terdiri dari batalyon-batalyon yang berada di bawah Brigade Surachmat.
  2. Menanyakan sikap dari beberapa batalyon yang berada di bawah komando Brigade XXIX (ikut RI atau ikut PKI).
  3. Menyusun rencana operasi untuk merebut Madiun dari tangan pasukan pemberontak PKI. Tugas ini diserahkan kepada Letnan Kolonel Surachmat.

Sementara itu pihak Brigade XXIX juga melakukan pelbagai aktivitas guna mendukung “Proklamasi Sovyet Madiun”. Kelompok pasukan PKI telah mengambil langkah-Iangkah pengamanan demi kelancaran tindakannya. Letnan Kolonel Dahlan mengadakan pendekatan terhadap Komandan Brigade 2. Pada malam hari tanggal 19 September 1948, ia mendatangi rumah Letnan Kolonel Surachmat yang ketika itu belum mengetahui situasi terakhir bahwa PKI telah melancarkan pemberontakan di Madiun. Letnan Kolonel. Surachmat menerima tamunya dengan wajar. Sementara pembicaraan berlangsung, isteri Letnan Kolonel Surachmat yang baru saja mendengar siaran radio, bahwa PKI dengan dukungan pasukan Brigade XXIX telah memberontak di Madiun, segera memanggil suaminya ke ruang tengah. Kepada suaminya diberitahukan tentang berita radio yang baru saja didengarnya.

Dalam berita tersebut dinyatakan, ada perintah dari pemerintah RI untuk menangkap Letnan Kolonel Dahlan beserta dua orang pengawalnya. Untuk mempersiapkan penangkapan, maka tamu itu perlu “ditahan” lebih lama di rumah. Sementara itu secara diam-diam Surachmat memerintahkan kepada Kepala Staf Brigade 2, Mayor Jonosewoyo yang tinggal di paviliun rumah Komandan Brigade, untuk menangkap tamu itu. Letnan Kolonel Dahlan beserta kedua pengawal berhasil ditangkap. Pada saat itu pula Letnan Kolonel Dahlan dipaksa untuk menandatangani surat seruan kepada anak buahnya agar menyerahkan diri kepada pasukan Pemerintah.[2] Namun tidak seluruhnya menaati seruan Komandannya.

Tindakan selanjutnya adalah mengamankan kota Kediri. Pasukan Sukri (Kompi Dekking Pengawal Staf Brigade XXIX) yang berkekuatan 300 orang segera dilucuti. Komandan Brigade 2, Letnan Kolonel Surachmat yang mendapat perintah untuk merebut kembali Madiun dari tangan kaum pemberontak, mengerahkan sekitar tiga batalyon serta tiga kompi sebagai kekuatan tempur. Batalyon-batalyon yang dikerahkan adalah :

  • Batalyon Mudjajin di Blitar
  • Batalyon Harsono di Tulungagung
  • Batalyon Sunaryadi di Nganjuk
  • Kompi Sampurno, KompiJarot dan Kompi dari Yon Sabarudin masing-masing di Kediri.

Rencana penguasaan kembalikota Madiun diputuskan sebagai berikut:

  1. Dari arah selatan (Blitar – Mojoroto – Ponorogo).
  • Yon Mudjajin diperintahkan untuk bergerak dari Blitar menghantam pasukan Maladi Jusuf di Mojoroto yang telah bergerak meninggalkan daerah Kediri, yang diduga menuju Ponorogo.
  • Yon Harsono diperintahkan untuk menghadang gerakan pasukan Maladi Jusuf di Karangrejo. Menurut perkiraan, Maladi Jusuf akan bergerak ke Karangrejo, sebab jalan ke Tulungagung dan ke Blitar telah ditutup oleh pasukan TNI.
  1. Dari arah utara (Nganjuk – Caruban – Madiun).

Yon Sunaryadi ditugasi untuk merebut Madiun dari arah utara lewat Nganjuk, Caruban, Madiun. Batalyon ini diperkuat dengan 1 Baterai Artileri dan Mobiele Brigade Polisi.

  1. Dan arah timur (Kediri – Madiun).

Serangan dari arah Timur dijadikan poros serangan. Poros ini berkekuatan Kompi Sampurno yang diperkuat oleh Kompi Jarot dan dua kompi dari Yon Sabarudin. Seluruhnya berkekuatan satu batalyon yang dipimpin oleh Mayor Sabarudin.

Sementara itu pada tanggal 20 September 1948 bantuan pasukan dari Polri mulai datang melapor kepada Gubernur Militer I. Pasukan dari Polri ini berkekuatan satu batalyon (4 kompi) terdiri dari :

  1. Satu kompi, Batalyon 2 MBB (Mobiele Brigade Besar) Jawa Timur, dipimpin oleh K. Wiranto.
  2. Satu kompi, Batalyon 3 MBB (Mobiele Brigade Besar) Jawa Timur, dipimpin oleh M. Sukari. ,
  3. Satu kompi MBK (Mobiele Brigade Kecil), dipimpin oleh Jusuf Djajengrono.
  4. Satu Kompi MBK (Mobiele Brigade Kecil), dipimpin oleh Kusnadi.

Pasukan-pasukan ini segera diperintahkan untuk menggabungkan diri dengan pasukan yang bergerak dari arah timur. Adapun bantuan dari Polri ini merupakan perintah dari Kepala Kepolisian Negara kepada Komandan MBB Jawa Timur, Komisaris Polisi M. Yasin agar polisi ikut bergabung dalam operasi menumpas pemberontak PKI.[3] Perintah dari Kepala Kepolisian Negara ini diterima oleh M. Yasin lewat Komisaris Polisi Moh. Suprapto Komandan Mobiele Brigade Karesidenan Bojonegoro yang diterjunkan ke Jawa Timur oleh pesawat AURI.

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Jonosewojo, Jakarta, 11 Maret 1976 dan Brigjen (Pur) Surachmat, Jakarta, 24 Agustus 1976.

[3]     Pinardi, Peristiwa Coup Berdarah PKI September 1948 di Madiun, Inkopak, Hazera, Jakarta, 1967, ha1. 137 Moh.Suprapto merupakan anggota Polri yang pertama diterjunkan dari udara.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.