Ofensif Revolusioner PKI (5): Ofensif Revolusioner di Bidang Budaya

233

Ofensif Revolusioner PKI (5): Ofensif Revolusioner di Bidang Budaya [1]

cropped-monumen-icon.pngLembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) organisasi fungsional PKI, yang menghimpun kegiatan seniman budayawan[2] mempunyai tugas menjadikan realisme-sosialis suatu kenyataan dalam seni, sastra, dan budaya,[3] yakni pendidikan massa buruh tani revolusioner sehingga terbentuk masyarakat sosialis (komunis). Realisme sosialis menurut orang-orang Lekra adalah suatu “metode artistik yang prinsip dasarnya adalah penyajian konkrit berdasarkan sejarah, dan penuh kebenaran tentang kenyataan di dalam perkembangannya yang revolusioner, yang mempunyai tugas utama pendidikan komunis terhadap rakyat banyak. [4]

Konsep budaya (kultural) Lekra selaras dengan cita-cita partai (PKI). Karena itu aktivitas-aktivitas kultural Lekra selalu identik dengan ideologi dan politik komunis. Semboyan yang terkenal adalah “Seni untuk Rakyat” dan “Seni untuk Revolusi”.

Menurut Lekra, aktivitas kebudayaan rakyat adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat (baca komunis) pada umumnya. Ia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kelas buruh dan tani yaitu kelas yang menjadi pimpinan dan tenaga terpenting dan pokok dalam perjuangan rakyat. Fungsi dari kebudayaan rakyat (komunis) adalah sebagai senjata perjuangan untuk menghancurkan imperialisme dan feodalisme.[5]

Aktivitas-aktivitas budaya Lekra meliputi bidang seni sastra, seni rupa, seni suara, seni drama, film, filsafat dan olah raga. Untuk menampung aktivitas budaya ini oleh Lekra didirikan lembaga-­lembaga seperti Lembaga Film Indonesia, Lembaga Sastra, Lembaga Seni Rupa Indonesia, Lembaga Musik Indonesia, Lembaga Seni Drama Indonesia, serta Lembaga Ilmu Indonesia.[6]

Dalam dokumen resmi PKI hasil Kongres VI tahun 1959 tentang kebudayaan dan ideologi berisi antara lain:

  1. Memperbesar dan memperkuat partai dengan melipat gandakan anggota dan organisasi partai.
  2. Mempertinggi tingkatan politik, teori dan ideologi kader serta anggota.
  3. Mengorganisasi gerakan besar-besaran untuk meningkatkan taraf kebudayaan dengan cara mengadakan kegiatan dalam bidang pendidikan dan pengetahuan umum, mulai dari PBH (Pemberantasan Buta Huruf), Pendidikan Umum tingkat dasar dan menengah, dan mengorganisir pendidikan-­pendidikan khusus mengenai kejuruan dan kesenian pada akademi-akademi dan universitas.
  4. Melipatgandakan jumlah anggota organisasi massa dengan titik berat untuk menarik sebanyak mungkin anggota-anggota dari kalangan tani, wanita, serta intelektual ke dalam partai, dan memperhebat pekerjaan massa.[7]

Di samping masalah-masalah lain, PKI menaruh perhatian pada masalah kebudayaan, seniman, dan pendidikan. Di bidang pendidikan, PKI memperluas penyelenggaraan akademi-akademi Marxis, Universitas Rakyat (Unra), dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Seni yang juga diperhatikan adalah seni sastra dan seni lainnya, karena merupakan alat yang efektif untuk menjabarkan komunisme ke dalam bahasa rakyat. Oleh karena itu, PKI juga melakukan ofensif manipolis dan ofensif revolusioner di bidang seni-budaya. Tahun 1964, CC PKI memutuskan untuk mengadakan Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner berdasarkan Keputusan Sidang Pleno II PKI akhir tahun 1963, yang menekankan pentingnya sastra dan seni revolusioner bagi sastrawan dan seniman PKI.

Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) diselenggarakan di Jakarta dari tanggal 27 Agustus sampai 2 September 1964. Pembukaannya diadakan di Istana Negara pada tanggal 27 Agustus dengan amanat Presiden Soekarno yang berjudul: ” Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner bertujuan untuk membina kebudayaan yang berkepribadian”. Dalam amanatnya Presiden Soekarno antara lain mengatakan : “Kita berada dijalan Manipol. Suatu bangsa yang menjiplak bangsa lain, bangsa itu sesungguhnya tidak bisa merdeka. Maka penting sekali menegakkan kepribadian di lapangan kebudayaan”.[8]

Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner bagi PKI merupakan sarana konsolidasi kekuatan seniman dan memantapkan peranan seniman komunis dalam rangka ofensif manipolisnya. Dengan tema “Sastra dan seni yang mengabdi rakyat”,[9] para budayawan PKI mencoba merumuskan strategi kebudayaan baru.

Pada hari berikutnya tanggal 28 Agustus 1964, di gedung SBKA Manggarai, Ketua PKI D.N. Aidit menyampaikan pidatonya yang berjudul “Dengan Sastra dan Seni yang berkepribadian Nasional mengabdi Buruh, Tani dan Prajurit; yang memakan waktu 5 jam 28 menit,[10] Peristiwa ini merupakan demonstrasi budaya dan komando ofensif budaya PKI. PKI mendemonstrasikan perhatiannya terhadap masalah seni dan nasib seniman, serta budayawan.

KSSR berakhir pada tanggal 2 September 1964 dengan menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut :

  1. Menyetujui pidato D.N.Aidit yang berjudul “Dengan Sastra dan Seni yang berkepribadian Nasional mengabdi Buruh, Tani, dan Prajurit” sebagai pedoman dan pegangan para sastrawan dan seniman komunis (Lekra) dalam membina dan mengembangkan sastra dan seni yang berkepribadian nasional yang mengabdi buruh, tani, dan prajurit, sesuai dengan garis yang ditetapkan dalam KSSR.
  2. Supaya Sastrawan dan Seniman Revolusioner meritul dan mengganyang Manikebu, sebab Manikebu melemahkan Revolusi.[11]

Karya D.N. Aidit tersebut dianggap oleh mereka sebagai karya monumental, sebagai “sumbangan proletariat Indonesia bagi pertumbuhan sastra dan seni, dan pegangan bagi para sastrawan dan seniman komunis dalam mengembangkan kreasi-kreasinya”. Dengan demikian KSSR tersebut mempunyai arti kebudayaan dan arti politik yang sangat besar. Keputusan-keputusan KSSR tidak hanya digunakan sebagai pedoman bagi budayawan komunis, tetapi juga memperkuat penegasan bahwa golongan komunis pada tahun 1964 sedang berjuang melaksanakan tiga prinsip yaitu berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.[12]

Keputusan-keputusan KSSR itu adalah pedoman bagi sastrawan dan seniman PKI, dalam melakukan ofensifnya di bidang budaya. Dengan berlandaskan pada garis-garis KSSR dan pidato TAVIP Bung Karno dalam bidang kebudayaan, maka sastrawan dan seniman Lekra lebih meningkatkan ofensifnya dalam bidang sastra dan seni. Kesenian – kesenian rakyat seperti reog, ludruk, wayang, ketoprak, angklung begitu pula seni rupa dan seni lukis, temanya diubah menjadi tema politik, seperti perjuangan klas buruh dan tani.

Dalam ofensif revolusioner ini, sastrawan-sastrawan PKI membentuk sanggar-sanggar kesenian, diskusi-diskusi dan juga kongres-kongres seni, seminar-seminar kesenian rakyat. Sebagai contoh pada tanggal 23 Januari 1965 di Jakarta, Sanggar Kesenian “Kesumba” menyelenggarakan diskusi tentang sastra dan seni yang disponsori oleh mahasiswa-mahasiswa CGMI. Dalam diskusi tingkat sanggar ini berbicara sastrawan dan seniman yang cukup terkenal antara lain Susilo (Lekra Cabang Jakarta Raya), S. Anantaguna (PP Lekra) dan Marah Jibal (PP Lembaga Seni Rupa)[13]Tokoh-­tokoh Lekra mengatakan bahwa “dengan sarana diskusi, bisa terjalin kerjasama di antara sastrawan dan seniman revolusioner dengan massa mahasiswa revolusioner. Para sastrawan dan seniman revolusioner bisa memassalkan sastra dan seni di kalangan mahasiswa revolusioner, yang berarti mengibarkan lebih tinggi lagi panji “Trilogi” untuk menjadikan setiap mahasiswa “Insan politik” dan kultur progresif dan sehat.

Dengan berpegang pada semboyan KSSR ”ada aksi ada kreasi”, maka seni dapat dikembangkan. Dalam kreasi ditekankan kepada para seniman bahwa seni revolsuioner harus dapat mencekam massa. Seni yang tidak mengandung “daya gugah” berarti kehilangan kekuatannya. Seni harus disentuhkan kapada sumbernya yakni massa rakyat yang merupakan faktor yang dapat menentukan ukuran. Seni harus menjadi “senjata ampuh” selaku alat komunikasi sosial revolusioner. Contoh lain dari ofensif manipolis di bidang seni ialah diselengarakan pameran nasional seni grafik di Paviliun Hotel Duta Indonesia, pada tanggal 18 sampai 28 Agustus 1964. Tema pameran ialah perjuangan klas buruh dan para petani, pengganyangan Malaysia dan perlawanan terhadap kebudayaan imperialis (AS)[14]N.G. Sembiring, yang pernah memenangkan hadiah sastra dan seni Harian Rakjat 1964, disanjung sebagai seniman yang paling produktif karena memamerkan beberapa cukilan kayu dengan tema-tema revolusioner.[15]

Untuk media komunikasi antar seniman Lekra/PKI diterbitkan majalah sastra dan seni Zaman Baru[16] yang terbit setiap bulan.

Di Yogyakarta didirikan Sekolah Kader Ketoprak dengan mata pelajaran pokoknya Manipol, drama, sastra, dan organisasi. Siswa­-siswanya berasal dari para pengurus organisasi ketoprak anggota Basoksi Lekra dan para aktivis partai. Sekolah kader ini dipimpin oleh Rukinah, bersama Waspodo, Slamet Mukayat, Widodohadi, Sri Suparwati, dan S. Sudiardjo.[17]

Setelah KSSR, aktivitas seniman PKI dipacu untuk bekerja lebih maju dan lebih giat dan bergerak lebih intensif dalam bidang seni grafik dan cerita bergambar (cergam). Ceritera bergambar merupakan media untuk membawa seni rasa ke massa rakyat, buruh, tani, dan prajurit. Basuki Resobowo salah seorang seniman pelukis PKI mengatakan bahwa cergam merupakan suatu epos zaman baru dari seni rupa Indonesia.[18] Beberapa cerita yang digarap menjadi cergam di antaranya Pemberontakan Silungkang, Pak Sakerah, Api di Pematang, Peristiwa ATAR, Latini, Riwayat Hidup Kawan Aliarcham. Isi cerita-cerita bergambar ini pada umumnya memerankan “tokoh yang revolusioner”, pejuang pembela cita-cita komunis.

Di samping itu PKI membina para seniman muda atau seniman pemula dari kalangan Pemuda Rakyat atau mereka yang bersimpati. Karya dan ciptaan mereka dikomentari dengan pelbagai pujian sekalipun nilai seninya rendah. Kemudian karya itu dimuat dalam surat kabar atau mingguan PKI, seperti Harian Rakjat Minggu, atau majalah lainnya. Di sini diberikan contoh seorang seniman angklung dari sanggar Sri Tandjung (Banyuwangi, Jawa Timur) bernama Arief. Ia menciptakan lagu – lagu bernada “progresif revolusioner”. Lagu ciptaannya yang paling terkenal adalah Genjer-genjer.[19] Seniman Arief diangkat sebagai pekerja kebudayaan dalam seni suara yang aktif dan kreatif, yang berjasa mengangkat kesenian rakyat untuk menjadi senjata perjuangan bidang budaya. Para seniman senior setiap tiga bulan sekali wajib mendiskusikan pekerjaaan, organisasi, dan gerakan turun ke bawah (turba). Gerakan turun ke bawah ini adalah metode kerja PKI agar para sastrawan dan seniman lebih dekat dengan kebidupan kaum buruh dan tani di pedesaan. Menurut istilah mereka “satu dengan rakyat” artinya satu pandangannya, satu sikapnya, satu nadi, dan denyut jantungnya.

Menjelang G 30 S/PKI, kesenian rakyat dan tontonan ludruk, wayang, angklung, reog, ketoprak, drama dan seni tari merupakan alat efektif untuk meramaikan suasana ofensif revolusioner. Tontontan adalah sarana untuk mengumpulkan, memobilisasi massa, tanpa perlu ijin dari pemerintah. Setiap berkumpulnya massa dimanfaatkan oleh PKI untuk agitasi dan propaganda. PKI tahu, bahwa rakyat di pedesaan haus akan hiburan. Seni rakyat seperti ketoprak, dan reog, diangkat ke panggung politik nasional.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     PERSEPSI, Edisi Khusus. Desember 1989. hal. 168

[3]     Ibid.,hal. 167

[4]     Ibid.,hal. 164

[5]     PERSEPSI, Tahun III, No, ! April, Mei, Juni 1981, Yayasan Pancasila Sakti, Jakarta. 1981 hal. 69

[6]     Ibid., hal. 71

[7]     Plan 4 Tahun PKI (Dokumen)

[8]     Amanat Presiden Soekarno pada Pembukaan Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Istana Merdeka pada tanggal 27 Agustus 1964, yang dimuat dalam Harian Rakjat, 28 Agustus 1964

[9]     Harian Rakjat, 22 Agustus 1964

[10]    Harian Rakjat, 3 September 1964

[11]    Keputusan-keputusan KSSR, Harian Rakjat, 7 September 1964

[12]    Resolusi KSSR tentang Referat DN. Aidit: Dengan Sastra dan Seni yang berkepribadian Nasional Mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit, yang dimuat dalam Harian Rakjat, 6 September 1965, hal. 1

[13]    Harian Rakjat Minggu, 14 Februari 1965

[14]    Harian Rakjat Minggu, 23 Agustus 1964

[15]    Harian Rakjat Minggu, 23 Agustus 1964

[16]    Harian Rakjat, 18 Djanuari 1965

[17]    Harian Rakjat, 7 Februari 1965

[18]    Harian Rakjat Minggu, 17 Djanuari 1965

[19]    Harian Rakjat Minggu, 2 Agustus 1964 Lagu ini pada tahun 1965 menjadi populer karena hebatnya propaganda PKI. Menjadi lagu pokok pada latihan Pemuda Rakyat di Lubang Buaya. Genjer-genjer konon kata sandi dari Jenderal-Jenderal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.