HIDUP DARI BANTUAN TEMAN-TEMAN

70

HIDUP DARI BANTUAN TEMAN-TEMAN [1]

 

6 April 1964

 

Di bidang ekonomi keadaan tetap buruk. Harga bahan makanan sehari-hari menunjukkan gejala naik terus. Sebutir telur yang seb.ulan lalu turun menjadi Rp 25,00 kini naik lagi jadi Rp 40,00. Sebutir jagung berharga Rp 30,00 di Pasar Cikini. Harga susu naik lagi jadi Rp 60,00 setengah liter. Roti menjadi Rp 120,00 per biji. Beras yang di akhir bulan Puasa lalu mencapai antara Rp 250,00 dan Rp 300,00 per liter kini turun sedikit jadi sekitar Rp 200,00. Besok kabarnya di toko sandang pangan Rukun Tetangga saya akan ada pembagian beras lagi setelah dua bulan tak ada distribusi. Pembagiannya ialah dua liter satu jiwa dengan harga Rp 43,00 per liter

Paling sedikit saya memerlukan kurang lebih Rp 60.000,00 tiap bulan sekarang untuk menutup anggaran belanja rumah tangga. Akan tetapi dari mana saya mesti mencari uang begitu banyak? Tentu saya terpaksa minta bantuan dari teman-teman yang jadi pengusaha. Syukurlah bila kepepet datang pertolongan. Asmat Udin enak saja datang ke rumah saya lalu menyerahkan uang. Ia barusan menang main poker. Begitulah saya hidup dengan bantuan teman-teman.

saya mencoba mencari penghasilan dari karang-mengarang surat kabar Duta Masyarakat ruangan kebudayaanya “Muara” akhir minggu yang baru lalu ini dimuat karangan saya tentang “Islam dengan nama samaran Abu Luthfi. Tetapi apakah saya akan dapat honorarium dari situ? Gema Islam sejak Hamka ditangkap bulan Februari yang lalu tidak kedengaran apa-apa lagi dan walaupun saya penulis rubrik tetap dalam majalah itu dengan nama samaran AI Bahist namun sudah 1 1/2 bulan saya tidak diminta menulis.

Dalam majalah Pembina yang dipimpin oleh Ahmad Sahab saya menulis dengan nama samaran Mualiq dan Muwahid tentang soal-soal Islam di Indonesia tetapi sejak sebulan ini honorarium dari situ mandek. Dalam harian Aman Makmur di Padang pun saya menulis tentang soal adat istiadat Minang kabau dan masalah modernisasi tetapi honorariumnya adalah buat kakak saya di Padang yang sudah lama jadi janda.

Sempit juga rasanya hidup ini, apalagi kalau menjadi wartawan yang mau menegakkan pendirian yang teguh, maka hidup bisa menjadi runyam sekali . Mengapakah dulu saya pilih profesi wartawan? Ah,soal itu tidak usah dipikirkan berlarut-larut, apa yang akan terjadi-terjadilah saya tidak putus asa Tuhan melindungi saya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 443-444.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.