DJUANDA BERTANYA KEPADA HOWARD JONES

107

DJUANDA BERTANYA KEPADA HOWARD JONES [1]

18 November 1962

Situasi pengangkutan sekarang sudah rumit. Sebuah berita “Antara” menyiarkan keterangan pihak pimpinan Organisasi Angkutan Darat Bermotor Indonesia, Jawa Barat. Harga ban Dunlop /Goodyear untuk bis dan truk perstel di Bandung sudah sampai Rp 30.000,00. Perbandingan eksploitasi pengangkutan dengan harga karcis penumpang telah memperlihatkan ketimpangan. Tambah hari tambah sulit orang kecil bepergian dari Bandung ke tempat lain.

Dalam laporan Humphrey tentang ekonomi Indonesia yang disusun oleh sebuah tim ahli Amerika Serikat atas persetujuan Presiden Kennedy dan Presiden Sukarno diberikan perhatian khusus kepada sektor transport. Tetapi sampai sekarang laporan Humphrey ini belum digubris oleh pemerintah Indonesia.

Selama Sukarno bepergian ke Jepang dan Djuanda menjadi pejabat Presiden tampak sekonyong-konyong Djuanda menjadi aktif sekali di bidang ekonomi keuangan Tanggal 13 November lalu Djuanda menerangkan kepada Antara” usaha-usaha pemerintah dalam bidang stabilisasi ekonomi dan keuangan diperkirakan akan memakan waktu antara dua dan tiga tahun.

Apakah sebabnya Djuanda menjadi aktif? Apakah setelah sakit begitu lama ia mau memastikan kembali kepemimpinannya di bidang ekonomi? Apakah ia mau mengatakan Subandrio tidak tepat diserahi pekerjaan mengurus soal ekonomi? Adakah rivalitas antara Djuanda dengari Subandrio? Dalam masyarakat politik. di Ibu Kota orang memperbincangkan bahwa rivalitas itu kian tajam.

Djuanda memperoleh sekutu dalam bentuk diri Nasution dan Ruslan Abdulgani sehingga Subandrio menjadi sedikit terdesak. Tetapi di depan khalayak Subandrio terus memperlihatkan diri sebagai orang yang belakangan ini sedang sibuk dan keras memikirkan soal- soal ekonomi. Hanya ucapan-ucapannya tentang soal ekonomi berupa platitudes atau kata-kata hampa basi belaka.

Djuanda lebih real ketika ia berterus terang mengatakan kepada Duta Besar Amerika Howard P. Jones beberapa hari yang lalu bahwa situasi ekonomi Indonesia sudah dalam keadaan desperate atau sangat menyedihkan. Lalu Djuanda bertanya apakah Amerika dapat memberikan bantuan? Jones menjawab ia masih tetap menantikan permintaan yang terperinci dari pemerintah Indonesia untuk bantuan ekonomi.

Sikap Jones ini sesuai dengan isi surat Presiden Kennedy kepada Presiden Sukarno belum lama berselang. Kennedy mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas sikap RI dalam krisis Kuba yang bersifat tidak lebih mempersulit krisis itu. Kemudian Kennedy menegaskan ia telah memberikan instruksi kepada Ambassador Jones untuk membicarakan tentang kesediaan Amerika Serikat membantu Republik Indonesia di bidang pembangunan ekonomi.

Di pihak lain Uni Soviet juga tidak tinggal diam. Dalam pertemuan antara Duta Besar Uni Soviet Mikhailov dengan Subandrio beberapa hari yang lalu disinggung tentang kesediaan Uni Soviet memberikan kredit perdagangan sebesar $ 100 juta kepada RI.

Tetapi kalangan peninjau bertanya, cukupkah jumlah demikian untuk mengatasi kemerosotan ekonomi Indonesia? Dan barang-barang apakah yang dapat diberikan oleh Uni Soviet dalam jangka kredit perdagangan demikian? Uni Soviet hanya dapat memberikan barang-barang modal seperti mesin-mesin, padahal Indonesia membutuhkan barang yang variasinya lebih banyak terdapat di dunia Barat. Bagaimana pun juga, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet sama-sama menunggu move apakah yang akan dilakukan oleh Indonesia dan Sukarno?

Dalam minggu yang akan datang ini Sukarno telah kembali di tanah air. Sesudah itu barulah diketahui move apa yang akan dilakukannya. Seorang ahli sosiologi Indonesia bertanya bagaimana Sukarno harus menjawab pertanyaan menyelesaikan tiga spender alias pemboros. di Indonesia sekarang? Ada tiga spender besar di lndonesia, katanya, yaitu Sukarno, Angkatan Bersenjata dan Koruptor. Sudah tentu ahli sosiologi itu hanya berkelakar.

Hari ini Poppy Sjahrir, Koko dan Dr. Supandi berangkat ke Madiun untuk mengadakan pemeriksaan atas kesehatan Sjahrir dan menyusun laporan yang kemudian akan disampaikan kepada Peperti. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 282-284.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.