“TUHAN MENYURUH SAYA”

19

“TUHAN MENYURUH SAYA”[1]

 

22 Mei 1962

Dalam pidato pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei lalu Presiden Sukarno mengatakan sudah lima kali orang mencoba membunuh dia, akan tetapi lima kali. pula Tuhan melindunginya. Dikatakannya barangkali ini adalah pembenaran Tuhan atas segala isme dan politik yang diberikannya kepada rakyat. Politik apakah itu? Sukarno menegaskan :

“Manipol, Usdek, samenbundeling van alle revolutionaire krachten, penggalangan kekuatan dan gotong royong atas dasar Nasakom, selfreliance, selfhelp, tiga kerangka Manipol, persatuan, masyarakat yang adil dan makmur, persahabatan dengan semua negara atas dasar kerja sama yang membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme, perdamaian dunia”.

Menarik juga untuk dicatat bahwa seraya mencari pembenaran atau justification atas segala tindakannya sampai sekarang pada Tuhan yang melindunginya, pada waktu bersamaan dalam nafas yang sama,pembunuhnya di waktu sembahyang shalat Idul Adha dan yang kini telah ditangkap itu pun mencari kekuatannya pada Tuhan. Kabarnya pembunuh itu selain mengatakan ia diperintah oleh Kartosuwiryo untuk membunuh Presiden, untuk selebihnya dia tidak mau mengaku dan hanyalah menjawab atas pelbagai pertanyaan: “Tuhan menyuruh saya.”Begitulah keyakinan pembunuh itu.

Pada tanggal 20 Mei Pemerintah mengumumkan bahwa telah diputuskan untuk sementara menunda pemilihan umum dan tidak melangsungkan pemilihan umum dalam tahun 1962 sampai kembalinya Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia dalam tahun 1962 itu juga.

Pada tanggal 19 Mei Pemerintah mengumumkan apa yang dinamakannya Garis-garis Besar Pimpinan Ekonomi Nasional tahun 1962 menjelang pembebasan Irian Barat.

Kemarin Presiden membicarakan dengan Ganis Harsono dan Boes Effendi dari Deparlu perihal kantor berita “UPI”. Beberapa waktu yang lalu “UPI” Singapura menyiarkan berita sensasional bahwa Presiden Sukarno telah mati terbunuh waktu sembahyang ldul Adha. Walaupun berita itu kemudian diralat oleh “UPI ” yang mengakui kesalahannya, toh tekanan golongan kiri atas pendapat umum keras sekali yaitu supaya “UPI” dilarang bekerja di Indonesia. Presiden rupanya setuju dengan agitasi golongan kiri. Maka kemarin diputuskannya supaya kantor “UPI” di Jakarta ditutup. Boes Effendi menceritakan kepada saya ketika dia dan Ganis Harsono melaporkan pembicaraan mereka dengan Presiden kepada Dr.Subandrio, maka satu-satunya reaksi ialah : “Hebben jullie de President tegen gesproken ?”  (Apakah kalian membantah Presiden?” Mereka menjawab : Natuurlijk niet “(Tidak tentunya). Subandrio mengangguk -anggukkan kepalanya. “Dat is goed. Als d e President zegt, sluit de Ufl, tutup maar. “(Itu baik . Kalau Presiden mengatakan tutup “UPI “, tutup sajalah). (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 217-218.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.