Tokoh Sasak Kisahkan PKI di Lombok

Mataram – MEI 1965. Aroma pergesekan antar anak bangsa di Nusa Tenggara Barat (NTB), juga mulai muncul. Aroma itu dapat dirasakan saat pelaksanaan peringatan ulang tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) ke-45 yang dipusatkan di lapangan Malomba, Ampenan. Kader PKI -termasuk Gerwani (organ dibawah PKI)- datang dengan berjalan kaki dari berbagai pelosok. Sulit dibayangkan, PKI bisa menghimpun massa sebanyak itu. Sekaligus mengejutkan untuk Pulau Lombok yang dikenal sebagai basis Masyumi.

Seperti dituturkan Drs. H. Mudjitahid dalam buku Mudjitahid Kepemimpinan Sasak  -Nusantara (Bani Akbar : 2015), untuk menandingi aksi PKI itu, tokoh muda Islam di NTB kemudian bersatu membentuk Gerakan Muda Islam (Gemuis) dan merencanakan untuk melaksanakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW sebulan setelah apel akbar PKI. Tepatnya pada Juni 1965.

Acara itu diakui setengah dipaksakan karena belum pernah terjadi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan dengan menggelar apel. Tapi harapannya, dari kegiatan ini nyali warga yang ciut karena ‘gertakan’ dedengkot PKI akan bangkit.

“Tidak mau kalah dengan aksi PKI, pawai akbar kalangan muda Islam diusung  untuk satu tujuan, yakni guna menunjukkan bahwa kaum muda Islam Pulau Lombok tidak takut terhadap gertakan PKI. Esensi utama kegiatan itu adalah agar rasa cemas masyarakat atas kemunculan PKI yang tidak terduga, tidak terus berkecamuk,” kata Mudjitahid sebagaimana ditulis Hermansyah Pany.

Pengerahan massa kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan berkeliling Pulau Lombok untuk maksud menyampaikan undangan pawai. Saat tiba hari yang ditentukan, masyarakat tumpah ruah dalam acara tersebut. Warga sengaja diundang dalam jumlah besar. Massa yang hadir menyemut memenuhi Lapangan Mataram hingga meluber ke jalan-jalan di Cakranegara dan Ampenan. Jumlah tersebut merupakan rekor terbesar dalam penghimpunan dan penggalangan massa di Mataram.

Dari situlah, sedikit demi sedikit, kewaspadaan warga pada PKI, dibangkitkan. Penggalangan massa dalam jumlah amat besar, kurang lebih 20.000 orang dimaksudkan sebagai kesiapan menghadapi kiprah PKI yang kian terasa ganjil. “Kami menggerakan massa dalam jumlah besar karena sudah tercium kesan bahwa secara sadar PKI memiliki keinginan untuk melakukan kudeta,” kata Mudjitahid.

AWAL SEPTEMBER 1965, pergesekan mulai makin terasa. Ketegangan akibat pengerahan massa yang saling berhadapan tersebut, mulai menimbulkan riak. PKI secara teratur berkeliling Kota Mataram. Hampir setiap hari mereka meneriakkan yel-yel ‘ganyang jenderal kapitalis’, ‘setan desa’, ‘setan kota’ (kapitalis birokrat atau kabir), dan celotehan lainnya.

Beberapa pekan kemudian, tepatnya pada tanggal 30 September 1965, terjadilah peristiwa penculikan dan pembantaian tokoh revolusi nasional di Lubang Buaya. Indonesia Berduka. Kebencian terhadap PKI semakin menggelegak dan kian tak tertahankan. Aktivis pemuda di berbagai daerah di nusantara juga berkecamuk mendengar pemberitaan sejumlah jenderal diculik PKI. Aktivis Gemuis dan warga Mataram mendengar semua kabar tersebut melalui radio, dengan menahan amarah.

Afiliasi tokoh muda Mataram lalu berkumpul di wisma daerah (Kantor PT. Bank NTB sekarang) yang juga kediaman Mudjitahid sekaligus markas HMI Cabang Mataram. Para pemuda pada malam itu memutuskan untuk memulai penyerbuan ke rumah aktivis PKI. Obyek yang diserbu adalah rumah pimpinan PKI.

10 OKTOBER 1965, Mudjitahid bersama beberapa tokoh muda saat itu, menginisiasi pembentukan Panitia Sembilan untuk menggagas pelaksanaan apel besar. Keanggotaan Panitia Sembilan antara lain terdiri dari Putradi, Muharto (Pemuda Katolik), Yakobus Frans, HM Said Ketua Banser (Kabag Perkotaan Pemda NTB/Paman dari TGH. M. Zainul Majdi – Gubernur NTB).

Emosi anggota Panitia Sembilan dan aktivis pemuda se-Pulau Lombok kian menggelegak karena beberapa hari sebelum itu radio Beijing menyiarkan berita provokatif yang keberatan atas rencana pembubaran PKI.

16 OKTOBER 1965, apel siaga pun terselenggara di Lapangan Mataram. Apel tersebut dimaksudkan untuk menuntut pembubaran PKI dan resmi dinyatakan sebaga organisasi terlarang. Keberadaan PKI harus dihentikan.

Berbagai organisasi penentang PKI kemudian menuntut tokoh PKI ‘dihabisi’. Oleh pada pemuda, tokoh PKI tersebut “diselesaikan” di kawasan Rembiga. Beberapa aktivis pemuda terheran-heran, mengetahui beberapa anggota PKI yang menjelang dijatah, tiba-tiba minta diazankan. Beberapa anggota PKI yang dibunuh dilaporkan tidak tembus ketika badannya di tombak. Pembunuhan massal tokoh PKI berlangsung di beberapa tempat. Mereka dihabisi oleh massa rakyat yang sudah sangat marah karena sebelumnya sering di teror PKI.

Kiprah para pemuda di Mataram yang tergabung ke dalam Kesatuan Aksi Pengganyangan PKI (KAP Gestapu), tidaklah berhenti pasca pembunuhan tokoh PKI di berbagai tempat. KAP Gestapu NTB kemudian bergeser menggarap isu lain. Yakni, gerakan menurunkan orde lama. Akhirnya Soekarno tumbang. PKI lumpuh. []

 

 

Sumber: http://lombokpress.com/tokoh-sasak-kisahkan-pki-di-lombok/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*