THOMAS CRITCHlEY MENYAMPAIKAN PENDIRIAN AUSTRALIA

THOMAS CRITCHlEY MENYAMPAIKAN PENDIRIAN AUSTRALIA [1]

 

 

8 Maret l963

 

Belum lama berselang Thomas Critchley, Komisaris Tinggi Australia di Kuala Lumpur datang ke Jakarta. Ia bertemu dengan Presiden Sukarno. Critchley orang yang tidak asing bagi Indonesia karena pada tahun 1948 ia pernah menjadi anggota Komisi Tiga Negara yang dibentuk oleh PBB untuk menyelesaikan persengketaan Indonesia-Belanda.

Dalam masyarakat politik di lbu kota tersiar Critchley mengatakan kepada Sukarno, Australia akan bertindak dengan sepenuh kekuatannya apabila Indonesia mengganggu Malaya, Kalimantan Utara atau Irian Timur (Papua). Critchley mengatakan pembentukan Malaysia adalah suatu barang yang pasti dan tidak dapat ditahan lagi.

“Apakah lantas sikap Indonesia?” tanya Tom Critchley Sukarno menjawab : “I remain opposed.” (Saya tetap menentang).

Critchley kemudian mengemukakan sebenarnya jika Presiden Sukarno mau, maka dalam tempo 24 jam bisa dihentikan sikap permusuhan Indonesia terhadap Malaysia. Presiden tersenyum dan mengatakan, “hal itu tidak semudah demikian. “Menurut para diplomat Australia, biang keladi di belakang politik konfrontasi dengan Malaya ialah Dr. Subandrio yang telah meyakinkan Presiden Sukarno perlunya bersikap terhadap Malaya sebagaimana yang tampak sekarang ini.

Mereka menganggap Subandrio sebagai orang yang tidak dapat dipercaya sama sekali. Dulu waktu Subandrio berkunjung ke Canberra ia memastikan di depan para menteri Australia bahwa Indonesia tak akan pernah menggunakan kekerasan senjata dalam soal Irian Barat. Tetapi pengalaman selama pelaksanaan Trikora menunjukkan kebalikannya dan sejak itu Australia tidak percaya lagi akan omongan Subandrio.

Seorang pejabat Deparlu memberikan keterangan penilaian para diplomat Australia tadi tidak benar. Sesungguhnya ide pertama untuk bersikap begitu terhadap Malaya datangnya dari Sukarno yang merasa Indonesia kini dikepung dan oleh karena itu haruslah ditegakkan sikap keras terhadap Malaya. Ide itu kemudian disuruhnya uitwerken atau dijabarkan oleh Subandrio. Lahirlah politik konfrontasi terhadap Malaya.

Para diplomat Australia berpendapat Sukarno sekarang ini adalah “the naughty boy of Southeast Asia” (anak nakal dari Asia Tenggara). Selanjutnya mereka mengatakan pendapat umum di Amerika Serikat makin bersikap tidak sabar terhadap Sukarno. Sikap ini terdapat tidak saja di kalangan Congress tetapi juga di kalangari Gedung Putih di Washington. Saya tentu tidak dapat mencek sampai di mana benarnya keterangan pihak Australia ini. Tetapi di Jakarta tampaknya sikap Duta Besar Amerika Howard Palfrey Jones tetap baik serta manis terhadap Sukarno. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 346-347.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*