“THE NEW EMERGING FORCES”

“THE NEW EMERGING FORCES” [1]

27 November 1962

 

Kemarin Pangeran Norodom Sihanouk tiba di lapangan Kemayoran untuk kunjungan kenegaraan. Presiden tidak lupa mengatakan, “Indonesia dan Kamboja sama-sama termasuk the new emerging forces of the world. “Yang belakangan ini istilah baru penemuan Sukarno. Akan tetapi Sihanouk dalam pidato sambutannya tidak menggunakan istilah tadi. Ia menyebutkan “Dunia Ketiga” (Third World).

Beberapa bulan yang lalu ketika Presiden Rumania Georgiu Dej mengunjungi Jakarta, pihak Indonesia ingin mencantumkan dalam komunike bersama istilah the new emerging forces. Akan tetapi pihak Rumania berkeberatan karena menurut pahamnya yang doktriner tidaklah dikenal the new emerging forces sebagai lawan daripada the old established forces.

Yang dikenalnya sebagai komunis hanyalah “dunia kapitalis” dan “dunia komunis” yang saling bertentangan. Kalau Georgiu Dej menerima istilah yang diajukan oleh Sukarno, maka niscaya dia akan mendapat pertanyaan yang tidak sedap dari pihak pemikir partainya di Rumania. Sampai Dej meninggalkan Indonesia ia tetap bersikeras menolak penggunaan istilah the new emergingforces dalam komunike bersama.  Kalangan Indonesia agak mendongkol karena sikap Rumania  itu.

Kalangan yang mengetahui mengatakan, rupa-rupanya perjalanan Presiden Sukarno tidak membawa basil yang kongkret. Dari Jepang tidak diperoleh sesuatu apa berupa pinjaman. Dari Soviet juga tidak di Bangkok Sukarno bertemu dengan Menteri Luar Negeri Jerman Barat Gerhard Schroeder. Tetapi di sini juga ia tidak memperoleh apa-apa walaupun dalam berita pers disebutkan tentang kredit Von Merkatz yang Jerman bersedia memberikannya kepada Indonesia.

Tinggal lagi dari pihak Amerika Serikat yang mengambil sikap tunggu dan lihat. Jadi Sukarno tetap menghadapi kegawatan ekonomi dan keuangan. Anehnya kesadarannya akan krisis ekonomi rada tipis. Sebab di Tokyo ia memutuskan membeli tiga pesawat Convair full jet seharga 7 juta dollar masing-­masing. Dari mana dicari uang untuk membayarnya sedangkan Indonesia kekurangan devisa?

Di samping itu sikap foya-foya tidak berkurang selama rombongan Presiden berada di Tokyo. Ketika rombongan kembali ke Indonesia maka sebuah pesawat Hercules AURI spesial mesti dikirim ke Jepang untuk mengangkut barang­-barang bawaan rombongan Presiden yang sama banyaknya dengan muatan empat truk. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa pulang pesawat televisi merk NEC. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 292-293.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*