TERDAKWA PERISTIWA CENDRAWASIH DIHUKUM MATI

TERDAKWA PERISTIWA CENDRAWASIH DIHUKUM MATI [1]

26 November 1962

 

Hari ini berita “PIA” menyatakan Mahkamah Angkatan Darat Dalam Keadaan Perang (Mahadper) untuk Indonesia bagian Timur dalam sidangnya tanggal 22 November lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Ida Bagus Surya Tenaya. Ia terdakwa kedua “Peristiwa Cendrawasih” belum lama ini sidang Mahadper menghukum mati Sersim Mayor Marcus Octavianus Latuperisa sebagai pelaku utama “Peristiwa Cendrawasih”, yaitu rencana pembunuhan dan pelemparan granat terhadap Presiden Sukarno dalam bulan Januari 1962 di Makassar si terhukum Ida Bagus Surya Tenaya dalam komplotan itu berkedudukan sebagai Koordinator RPI (Republik Persatuan Indonesia) sebagai lanjutan dari PRRI/Permesta dengan pangkat Kolonel. Ia dilahirkan di Singaraja dan beragama Hindu-Bali, demikian “PIA”.

Membaca berita ini saya teringat bekas Kolonel Zulkifli Lubis yang kurang lebih dua minggu lalu ditangkap oleh Peperti dan yang kabarnya bersama bekas Letkol Nawawi tidak lama lagi akan diajukan ke depan pengadilan militer. Zulkifli Lubis akan harus mempertanggungjawabkan “Peristiwa Cikini.”

Ia harus membuktikan ia tidak bersalah. Suatu omkering van de bewijslast. Bagaimanakah Zulkifli Lubis akan membuktikannya apabila diingat pelempar-pelempar granat dalam peristiwa Cikini sudah menjalani hukuman mati dua tahun yang lalu?

Kemarin Presiden Sukarno berbicara pada penutupan Muktamar Muhammadiyah ke-35 dan Peringatan Muhammadiyah genap setengah abad. lni pidato Presiden yang pertama di depan umum setelah ia kembali dari perjalanan ke Jepang. Tetapi tidak ada yang penting dikemukakannya.

Pekan yang lalu saya menghadiri sebuah sidang tertutup Muktamar Muhammadiyah di Mesjid AI Azhar di Kebayoran Baru. Saya bisa masuk sebagai seorang penulis tetap di majalah Gema Islam yang dipimpin oleh Buya Hamka. Apa yang saya dengar dalam sidang itu menunjukkan masih adanya sikap perlawanan di kalangan sebagian anggota Muhammadiyah untuk bekerja sama dengan pemerintah Sukarno sebagaimana telah digariskan oleh pimpinan Muhammadiyah. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 291-292.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*