SOMBA GEMBONG PERMESTA MELAPOR ?

SOMBA GEMBONG PERMESTA MELAPOR ? [1]

 

5 April 1961

Bekas Let.Kol. Somba, gembong Permesta beserta 25.000 anggota Permesta telah melaporkan diri kepada Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Mereka kembali kepangkuan RI dan membawa kurang lebih 8.000 pucuk senjata. Upacara pelaporan diadakan di Amurang di depan Kol. Sukandar, Panglima Sulawesi Utara, Somba menandatangani sebuah pernyataan.

Isinya antara lain: “Pertentangan antara kita dengan kita telah diakhiri”. Ini gelombang kedua penyerahan anggota Permesta yang dilakukan dalam jumlah besar tahun ini.

Gelombang pertama terjadi ketika pasukan Laurens Saerang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi beberapa waktu yang lalu. Apakah yang terjadi dengan mereka? Hari Minggu yang lalu tiba di Yogyakarta 259 anggota Permesta yang sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Dalam rombongan itu terdapat 90 orang bekas TNI yang menggabung kepada Permesta. Yang 169 orang adalah anggota keluarganya. Ketika mereka sampai di Yogya, komandan resimen setempat berkata:

“Di kota Yogya ini Saudara-saudara akan digembleng, di­ manipol-usdekkan agar semangat Saudara kembali ke semangat 1945.”

Juga di Aceh terjadi pelaporan diri oleh gembong DI/TII daerah Aceh Besar yaitu Wahab Brahim berikut 2.000 anak buahnya.

Di Sumatra Barat baru-baru ini Mayor Makinuddin menyerahkan diri kepada APRI.

Sementara itu terdengar pula orang-orang bekas TNI yang beberapa tahun ditahan di Madiun telah dibebaskan. Orang seperti bekas Let.Kol. Saleh Lahade dari Sulawesi Selatan yang pernah disebut namanya sebagai menteri dalam kabinet PRRI juga kabarnya akan dilepaskan dari tahanan di Madiun.

Akhirnya keterangan Penerangan Daerah Militer II (Sumatra Utara) mengenai hasil gerakan APRI triwulan pertama di Sumatra Utara menunjukkan kepada dua hal yaitu pertentangan semakin meruncing di kalangan pemberontak dan pemberontak semakin terjepit .

Pertentangan terjadi antara “Resimen 31 Bonabulu” dipimpin oleh P. Hasibuan dengan “Divisi Pusukbuhit” dipimpin oleh Oloan Sarumpaet. Setelah kota-kota Binanga, Baros, Natal dan Labuhan Batu sepenuhnya dikuasai oleh APRI, maka semua hubungan pemberontak ke luar melalui pantai sudah tertutup sama sekali. (DTS)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 27-28.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*