SJAHRIR YANG SAKIT DIBAWA KE JAKARTA

SJAHRIR YANG SAKIT DIBAWA KE JAKARTA [1]

24 November 1962

 

Dua orang tiba kemarin di Jakarta. Suatu kebetulan? Yang satu ialah Presiden Sukarno. Yang lain ialah Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Republik Indonesia yang pertama di tahun 1945.

Dengarlah berita “Antara” tentang Sukarno:

“Dengan badan yang segar dan wajah mengandung senyum Presiden Sukarno Jumat petang tiba kembali di Jakarta setelah mengadakan perjalanan dari kunjungan di Jepang, Manila dan Bangkok. Sekalipun perjalanan di luar negeri itu semula dimaksudkan untuk istirahat tetapi ternyata dipenuhi dengan acara pembicaraan-pembicaraan rencana kerja sama ekonomi dengan Jepang dan Jerman Barat di samping kesibukan memenuhi permintaan khusus dari pemerintah-pemerintah asing agar Presiden membantu menyelesaikan persengketaan India-RRT.”

Bagaimana pula dengan keadaan Sjahrir ketika dia tiba di Stasiun Gambir pukul 10 malam dengan menumpang kereta api dari Surabaya?

Saya melihat dia letih walaupun dia tersenyum dan mencoba berlaku gembira tatkala melihat istri dan keluarganya serta kawan-kawan dari PSI datang menyambutnya. Setelah dimintakan perhatian penguasa tentang kesehatan Sjahrir yang sedang terganggu maka ia dipindahkan dari penjara Madiun ke rumah sakit di Jakarta untuk di rawat. Penyakit tekanan darah tingginya gawat sifatnya.

Toh diperlukan l hari sebelum pihak penguasa dapat melaksanakan pemindahan Sjahrir ke rumah sakit. Masih dapatkah dipulihkan kesehatan Sjahrir yang tampaknya kurus itu?. Hanya Tuhan yang Maha tahu. Sjahrir diiringi dari Madiun oleh anggota-anggota CPM dan di Stasiun Gambir ia disambut oleh CPM pula lalu terus dimasukkan ke dalam mobil dan kemudian dengan cepat dibawa ke rumah sakit. Kami sekelompok kecil kawan-kawan yang datang menyambut Sjahrir sedih melihat dia diperlakukan demikian. Amat pendeklah rupanya ingatan orang Indonesia ini.

Lupakah mereka ketika bangsa Indonesia berjuang melawan imperialisime Belanda, revolusi bergolak, ketika Sukarno gugup dan khawatir akan ditangkap oleh pihak Sekutu sebagai penjahat perang karena dipandang oleh Sekutu selaku kolaborator Jepang, maka Sjahrirlah yang menjadi tameng bagi Presiden Sukarno dan maju ke depan memegang kemudi pemerintah sebagai Perdana Menteri?

Saya menyaksikan seorang mayor dari Peperti datang ke Stasiun Gambir lalu bertanya kepada Nyonya Poppy Sjahrir untuk apa datang ke sana? Nyonya Sjahrir menjawab :

“Menunggu orang yang dari Madiun.” Perwira itu hanya berkata : “Oh” Ia tidak merasa perlu bersikap ramah terhadap Nyonya Sjahrir dan mempersilakannya duduk dalam kamar tunggu stasiun.

Ia pergi saja dan sikap perwira itu bagi saya menyingkapkan lagi betapa sekarang ini sikap acuh tak acuh telah merajalela di kalangan para penguasa. Acuh tak acuh terhadap duka derita sesama manusia. Kalau ada hal yang sangat terasa dalam demokrasi terpimpin sebagai suatu kekurangan besar, maka hal itu ialah tidak adanya sikap berperi kemanusiaan, adanya onverschilligheidjegens het mimselijk leed (masa bodoh terhadap penderitaan manusia). Teringat lagi saya percakapan saya dengan Subadio Sastrosatomo ketika saya mengunjunginya di penjara Madiun bulan Oktober lalu.

“Apakah yang kurang di Indonesia sekarang, Kiyuk?” tanya saya. Dan Subadio menjawab: “Liejde.Memanglah liefde atau cinta kasih itu yang kurang di Indonesia sekarang.

Kemarin Nyonya Sjahrir, Nyonya Roem dan Nyonya Prawoto mengunjungi Pejabat Presiden Djuanda. Mereka menanyakan bagaimanakah dengan nasib para tahanan di Madiun apabila SOB telah dihapusan? Djuanda menjawab walaupun nanti SOB di bulan Mei 1963 telah dihapuskan, namun Presiden akan mempunyai kekuasaan istimewa untuk menahan orang-orang yang disangka atau telah melakukan delik ekonomi dan politik. Untuk itu akan dibikin peraturan hukum tersendiri.

Hal ini mengingatkan saya pada exorbitante rechten yang dipunyai oleh Gubernur Jenderal di zaman penjajahan Hindia Belanda. Djuanda menerangkan juga, diharapkan akan meringankan status para tahanan itu berangsur-angsur mulai Januari 1963 dan hal itu diselesaikan sebelum Mei 1963. Misalnya dari tahanan penjara diubah,menjadi tahanan rumah, kemudian jadi tahanan kota. Tetapi ditambahkan oleh Djuanda, “segala sesuatu bergantung akhirnya pada putusan Presiden.” Di masyarakat politik Ibu kota tersiar berita sejak tanggal 13 November lalu bekas Kolonel Zulkifli Lubis dan bekas Letkol Nawawi, keduanya bekas tokoh PRRI telah ditangkap kembali.

Tadinya mereka berada dalam karantina politik setelah mempergunakan kesempatan amnesti yang diberikan pada bulan Oktober 1961. Kabarnya Zulkifli Lubis dan Nawawi ditangkap kembali bertalian dengan “Peristiwa Cikini” tahun 1957. Mereka dituduh tersangkut dalam peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno waktu itu. Saya ingat dulu orang mengatakan Zulkifli Lubis menyerah atas under standing bahwa “Peristiwa Cikini” tidak akan disinggung­singgung lagi.

Apakah semua ini berarti janji yang dulu diberikan kepada Zulkifli Lubis kini telah ditarik kembali? Satu berita lagi yang tersilir dalam pers. Bekas Menteri Agama K.H. Wahib Wahab telah dijatuhi vonis enam tahun oleh hakim dalam perkara korupsi yang dituduhkan padanya. Terdakwa menerima keputusan hakim dan akan memajukan grasi kepada Presiden. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 288-290.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*