SJAHRIR BEROBAT KE SWISS

SJAHRIR BEROBAT KE SWISS [1]

 

21 Juli 1965

 

Saya sedih hari ini. Sjahrir berangkat ke Zurich, Swiss untuk berobat. Dia tidak bisa berbicara lagi. Akhir bulan Februari yang lalu dia mengalami sebuah operasi kecil. Dokter mau membuat foto tentang otaknya dan untuk itu suatu cairan kontras dimasukkan ke dalam aortanya. Ternyata lama sekali kemudian dia baru sadar dari pembiusan dan yang menyedihkan ialah dia tidak dapat berbicara. Dia sudah ditahan oleh pemerintah Sukarno sejak tanggal 16 Januari 1962 dan sampai sekarang tetap tidak jelas apa yang dituduhkan kepada Sjahrir.

Dia pernah ditahan di Madiun tetapi pada bulan November 1962 dipindahkan ke Jakarta karena sakit. Tekanan darahnya sangat tinggi. Dia dirawat di RSPAD. Ia ditahan di Jalan Keagungan di daerah Kota bersama-sama Hasan, Princen, lmron Rosjadi dan Assaat kemudian tanggal 19 Januari ia dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM). Di sana di kamar mandi dia jatuh. Penyakitnya kambuh lagi dan dia dibawa ke rumah sakit.

Ketika dilakukan operasi tadi akibatnya fatal artinya dia kehilangan sama sekali kemampuan berbicara. Berkat usaha teman-teman saya akhirnya pihak pemerintah dapat dibujuk mengizinkan Sjahrir pergi berobat ke Swiss dengan harapan semoga dia dapat pulih berbicara. Pemerintah memberikan fasilitas itu walaupun status Sjahrir tetap sebagai tahanan. Dia tidak boleh berhubungan, dengan orang-orang lain. Ia berangkat ke Swiss disertai oleh istrinya, Poppy, dan kedua anaknya, Buyung serta Upik.

Ketika saya pamitan dengan Sjahrir saya cium kedua belah pipinya dan saya katakan :

“Bung akan baik lagi”.

Dia mengerti apa yang saya katakan tetapi jawaban yang keluar dari mulutnya hanyalah bunyi yang tidak dapat ditangkap maknanya. Maklum, ia sudah bisu. Di dalam hati saya tidak begitu yakiti dia akan dapat sembuh kembali kecuali jika terjadi suatu mukjizat. Ya Tuhan, mengapa orang ini harus menderita begitu? Di zaman penjajahan Belanda Sjahrir telah memberikan segala-galanya untuk perjuangan kemerdekaan bangsanya. Dia dibuang ke Boven Digul dan Banda Neira.

Ketika pada permulaan revolusi fisik bersenjata Sukarno berada dalam kekhawatiran akan ditangkap oleh Sekutu karena dianggap sebagai kolaborator Jepang di zaman perang, maka atas persetujuan Sukarno tampilah Sjahrir ke depan sebagai Perdana Menteri untuk berdiplomasi dengan pihak Sekutu dan menyelamatkan bahtera Republik lndonesia. Tetapi Sukarno dalam mabuk kekuasaan tidak pernah mempunyai setia kawan. Ia tega menjebloskan Sjahrir ke dalam penjara. Ia tidak melihat keadaan Sjahrir yang sudah kelu lidahnya.

Apakah memang begini politik kekuasaan itu? Tidak mengenal peri kemanusiaan, tidak mengenal moral? Saya pikir tidak seharusnya begitu. Selama saya bergaul dengan Sjahrir selalu diajarkannya kepada saya supaya dalam berpolitik itu jangan sampai meninggalkan kemanusiaan dan nilai-nilai moral. Rupanya Sukarno mempunyai tafsiran lain. Mumpung-mumpung lagi berkuasa, segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuan. Sjahrir menjadi korhan dari sikap demikian. Saya tidak dapat membayangkan akan bertemu lagi dengan Sjahrir, seorang pemimpin yang menjadi guru dan sahahat saya. Inilah yang membuat saya sedih sekali hari ini. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 524-526.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*