SEKJEN PBB HAMMARSKJOELD TEWAS

SEKJEN PBB HAMMARSKJOELD TEWAS [1]

 

20 September 1961

Istri saya berulang tahun hari ini, umurnya 38 tahun. Kawan-kawan dan keluarga datang ke rumah mengucapkan selamat. Dalam bercakap-cakap tentu kami singgung juga kabar tentang tewasnya Sekjen PBB Dag Hammarskjoeld dalam kecelakaan pesawat terbang di Rhodesia Utara tanggal 18 September lalu. Sedikit sekali orang yang percaya kecelakaan pesawat terbang itu biasa sifatnya.

Ada syak wasangka Hammarskjoeld telah disabot pesawat terbangnya. Ia sedang dalam perjalanan di Kongo untuk menyelesaikan peristiwa Katanga di mana Tshombe masih terus bersikap separatis. Di Elizabethville timbul bentrokan senjata antara pasukan PBB dengan gendarmerie Katanga yang masih dipimpin oleh perwira-perwira Belgia dan Prancis. Untuk mengatasi ketegangan itu Hammarskjoeld terbang ke Ndola di Rhodesia Utara di mana Tshombe akan menemui dia guna membicarakan soal gencatan senjata di Katanga. Hammarskjoeld tidak pernah sampai mendarat di lapangan terbang Ndola. Ia gugur di medan tugas.

Kemarin di Den Haag Ratu Juliana mengucapkan Troonrede di depan parlemen Belanda. Mengenai masalah Irian Barat ia berkata:

“Pembicaraan dengan Indonesia mengenai hari depan New Guinea sayang sekali ternyata tidak mungkin dilakukan karena untuk melakukan pembicaraan semacam itu Indonesia mengemukakan syarat-syarat yang bertentangan dengan hak menentukan nasib sendiri.”

Presiden Sukarno yang sedang berada di Tokyo pada perjalanan kembali ke tanah air memberikan reaksinya.

“Hendaklah pemerintah Belanda segera melaksanakan yaitu jalan yang pernah saya kemukakan dalam pidato saya pada tanggal 17 Agustus 1961 dan dalam KTT negara-negara non-blok di Beograd. Inilah suatu jalan yang baik, jalan yang akan bisa menjamin normalisasi hubungan antara Republik Indonesia dan Belanda” kata Presiden.

Hari ini pihak Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) mengeluarkan keterangan “batas waktu pemberian amnesti dan abolisi kepada oknum-oknum pemberontak tidak akan diperpanjang dan tetap berakhir tanggal 5 Oktober – 1961”. Adapun yang belum menyerah sampai hari ini ialah Mohammad Natsir dan Dahlan Djambek di Sumatra Barat, Nawawi di Sumatra Selatan, Daud Beureueh di Aceh.

Abang saya Johnny Anwar yang jadi Kepala Staf Kepolisian Sumatra Barat dua hari yang lalu menginap di rumah saya dan dia bercerita tentang keadaan di Padang. Achmad Husein dan kawan-kawan, kerjanya pagi-pagi pergi main tennis dan setelah mereka menyerah itu mereka tidak begitu banyak dihiraukan oleh pihak Tentara. Hanya Zulkifli Lubis yang mendapat perhatian, dia diberi rumah penginapan dan diurus soal makannya. Zulkifli Lubis kerjanya mengaso dan berjemur-jemur di panas, demikian cerita Johnny. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 99-100.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*