SEBUAH KISAH TENTANG PRESIDIUM KABINET

SEBUAH KISAH TENTANG PRESIDIUM KABINET [1]

 

21 Agustus 1965

 

Hari Jumat tanggal 20 Agustus 1965 sedikit lewat pukul 4 petang Menteri Perdagangan Dalam Negeri Brigjen Achmad Jusuf disuruh masuk oleh Presiden ke dalam kamarnya di Istana Merdeka. Presiden mengatakan kepada Jusuf dia telah memutuskan akan menjadikannya anggota ke-4 Presidium Kabinet. Hingga saat itu Presidium terdiri dari 3 orang yaitu Dr. Subandrio, Dr. Leimena dan Dr. Chairul Saleh. Jusuf menjawab sebagai seorang warga negara dari 105 juta rakyat Indonesia dia merasa mendapat kehormatan besar karena keputusan Presiden itu, akan tetapi dia minta waktu berpikir sebelum menerima pengangkatan Presiden itu.

Jusuf insaf benar dia hanya seorang junior generaal dan pengangkatannya itu mungkin menimbulkan serba pertanyaan dalam tubuh korps TNI. Yang penting pula dia harus mendapat dukungan komandan korpsnya yaitu Letjen A. Yani. Sebab duduknya dalam Presidium ialah sebagai wakil Tentara dan apabila dia tidak menjernihkan soalnya terlebih dulu dengan Yani niscaya dia bisa mendapat kesukaran nanti betapa pun dia disokong penuh oleh Presiden.

Pemberitahuan Presiden itu tidaklah mengejutkan Jusuf. Sebab dia sudah mendengar dari Chaerul Saleh tentang keputusan Presiden itu. Pada tanggal 18 Agustus seusai pawai rakyat di muka Istana, Presiden memerintahkan kepada ajudannya supaya memanggil Presidium bersidang. Dalam sidang itu Presiden memberitahukan maksudnya hendak menjadikan Brigjen A. Jusuf anggota Presidium. Apakah ada yang keberatan? Leimena mengemukakan Jusuf is een wilde man (orang yang liar) dan selain daripada itu dia mempunyai kecenderungan “untuk menekan terlalu banyak ke pihak kiri”.

Subandrio juga keberatan dan alasannya ialah “Jusuf terlalu liberal, masih muda dan belum matang dalam politik”. Chaerul Saleh menyatakan persetujuannya.

“Soal umur tidak penting dalam hal ini, lagipula saya kira Presiden sudah memutuskan akan memasukkan Jusuf ke dalam Presidium,” kata Chaerul.

Presiden dengan kontan menyambung : “Ya” Chaerul pun memberikan pengakuannya, pada hakikatnya “Presiden telah gagal dalam pekerjaannya dan begitu juga saya sendiri merupakan kegagalan”.

Sebelum rapat Presidium tadi pada paginya yakni sebelum dimulai pawai rakyat Presiden telah mengadakan pembicaraan empat mata dengan Jusuf. Pembicaraan ini ialah atas permintaan Presiden yang sebelum itu di Kemayoran tanggal 14 Agustus waktu Presiden Rumania Stoica tiba mengatakan kepada Jusuf : “Ik wil jou confronteren(saya akan mengkonfrontasikan engkau). Jusuf tidak begitu paham apa maksud Presiden dengan “mengkonfrontasikan” itu.

Tetapi dia ingat pada tanggal 1 Agustus hari Minggu di Istana Bogor dia mengadakan pembicaraan lama dengan Presiden. Mereka membicarakan berbagai soal yang menyangkut negara. Akibat pembicaraan tersebut keesokan harinya atas permintaan Presiden Jusuf menyampaikan sebuah memorandum tertulis kepada Presiden yang dinamakannya “Menyusun Kekuatan untuk Berdikari”. Apakah pembicaraan tanggal 18 Agustus itu ada hubungannya dengan memorandum tadi? Apakah “mengkonfrontasikan ” berarti Jusuf akan dihadapkan kepada ketiga anggota Presidium?

Teman-teman saya telah membantu Jusuf merumuskan pokok-pokok kebijakan ekonomi yang dituangkan ke dalam memorandum tadi. “Ketika Jusuf bercerita tentang masalah inflasi yang harus ditanggulangi, maka Presiden tidak banyak menyela. Pembicaraan berlangsung kurang lebih setengah jam. Presiden harus menyaksikan pawai rakyat di muka istana. Sehabis pawai Presiden memanggil supaya Presidium bersidang dan di situ dinyatakannya Jusuf akan dijadikannya anggota ke-4 Presidium.

Dalam pertemuan Jumat sore di Istana itu Jusuf menolak tawaran Presiden untuk menjadikannya Wakil Perdana Menteri. Dia harus berunding dulu dengan Yani. Presiden lantas berkata: ”Roep maarje baas op”(Panggilah bossmu). Maka diperintahkan kepada ajudan supaya segera mencari Yani dan meminta dia datang ke Istana. Dalam pada itu Presiden sudah harus menerima delegasi Uni Soviet yang datang menghadiri perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-20 dan terdiri dari Wakil PM I Murasov  Wakil Menteri Luar Negeri Jacob Malik dan Duta Besar Soviet di Jakarta Sitenko.

Presiden mengatakan kepada Jusuf supaya. turut bersama dia dalam pembicaraan dengan delegasi Soviet sebab kata Presiden : “Je bent nu al lid van het Presidium en je moet goed luisteren naar wat Bapak zegt” (Engkau kini sudah jadi anggota Presidium dan engkau harus mendengarkan betul apa kata Bapak). Maka duduklah Jusuf di samping Presiden dan Subandrio berhadapan dengan delegasi Soviet. Subandrio yang sudah tahu tentang keputusan Presiden hendak menjadikan Jusuf anggota Presidium sangat ramah sikapnya terhadap Jusuf. Waktu dia melihat Jusuf datang bersama Presiden, maka dengan segera dirangkulnya Jusuf sambil membisikkan:

“Sekarang kita kerja sama, Ucup.”

Jusuf tentu sudah tahu dalam rapat Presidium, Subandrio menyatakan tidak setuju Jusuf dijadikan anggota Presidium. Tidak lama kemudian A. Yani datang di Istana hanya pakai sandal dan baju jaket. Dia minta maaf kepada Presiden dia hanya berpakaian demikian sebab tidak sempat berpakaian lebih rapi karena dia mendapat panggilan mendadak sontak. Tetapi Presiden rupanya sedang in een goede luim (dalam perasaan enak) dan dia mempersilahkan Yani untuk menghadapi delegasi Soviet.

Jusuf segera berdiri dari kursinya dan menyerahkannya kepada Yani sambil dia sendiri duduk di kursi di belakang Yani dan dari sana dia memberitahukan kepada Yani apa yang telah terjadi. Pembicaraan dengan orang-orang Rusia bagaikan tak habis-habisnya sebab semuanya harus diterjemahkan dahulu dan Presiden telah melihat-lihat ke jam tangannya tanda dia tidak sabar. Tiba-tiba Presiden berkata kepada orang-orang Rusia: “Excuse me for five minutes, I have something important to discuss” (Maafkan saya selama lima menit ada sesuatu yang penting hendak saya bicarakan). Presiden berdiri dan membawa Yani dan Jusuf ke luar kamar dan berdiri di gang serta berbicara di sana sedangkan Subandrio ditinggalkannya dengan orang-orang Rusia.

Presiden lalu menanyakan pendapat Yani tentang Jusuf mau dijadikannya anggota Presidium. Yani mengatakan Jusuf “masih terlalu muda” untuk jadi anggota Presidium. Yani mesti mengingat perimbangan dan suasana dalam Tentara dan untuk menyelamatkan Jusuf baiklah dia jangan dijadikan anggota Presidium. Jusuf mengulangi apa yang telah dikatakanya sebelumnya kepada Presiden ketika berbicara berdua saja yaitu  supaya  “Pak  Yani  dijadikan  anggota  Presidium.” Tetapi Presiden di depan Yani berkata : Ach nee, hij weet niks van economie af Ik wil jou hebben” (Ah, tidak, dia tidak tahu suatu apa tentang ekonomi. Aku inginkan kau).

Di dalam kamar sebelumnya Presiden telah mengatakan kepada Jusuf mengapa dia menghendaki Jusuf dalam Presidium dan bukan orang lain. Alasannya ialah karena kalau tidak, maka nanti Presidium datang lagi kepadanya dengan masalah-masalah ekonomi padahal “ik benal moe ik ben al sempoyongan. Ik kan niet meer denken. Ik wil jou ideeen hebben

(Saya sudah capek. Saya sudah sempoyongan. Saya tidak dapat berpikir lagi. Saya mau gagasan-gagasanmu), ujar Presiden.

Melihat Yani bersikap demikian, maka Presiden berkata : “Bagaimana kalau saya toh memutuskan menjadikan Jusuf anggota Presidium? Yani menjawab, jika demikian halnya tentu akan diusahakannya supaya Tentara memberikan backing penuh kepada Jusuf.

“Tetapi kalau saya diminta nasihat” kata Yani.

Di sini Presiden menginterupsi :

“Ya, dan bagaimana  nasihatmu?” Dengan tenang Yani menjawab : “Jangan” Akhirnya Presiden memutuskan supaya Yani” dan Jusuf uitpraten (membicarakan tuntas) soalnya dan besok sore pukul setengah 6 datang ke Istana Bogor untuk membawa pendapat mereka apakah mereka mempunyai usul alternatif.

Sesudah percakapan di gang itu Yani membawa jusuf ke tempatnya dan mereka membicarakan persoalan yang dihadapkan oleh Presiden itu. Yani mengatakan kepada Jusuf justru karena Jusuf temanya, maka dia memperlihatkan sikap demikian kepada Presiden. Mereka lantas mencari suatu modus vivendi, suatu bentuk yang tidak bersifat penolakan total terhadap pendirian Presiden tetapi dalam pada itu dapat mencapai tujuan yang mereka bayangkan yaitu memastikan kedudukan Jusuf dan dengan begitu kedudukan Tentara dalam pimpinan pemerintahan.

Yani berpendapat sebaiknya Jusuf memegang sektor-sektor kegiatan ekonomi-keuangan dengan kedudukan Menteri Koordinator (Menko) yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden dan Yani akan menginstruksikan kepada semua anggota TNI yang menjadi Menteri supaya tunduk kepada Jusuf.

Setelah percakapan Jusuf dengan Yani itu, maka pada malamnya dia menceritakan kepada teman-teman saya tentang jalan pembicaraannya dengan Presiden dan Yani. Oleh karena dia pada tanggal 21 Agustus pukul 8 pagi harus berbicara lagi dengan Yani untuk mempersiapkan memorandum yang hendak disampaikan kepada Presiden oleh pimpinan TNI, maka Jusuf meminta kepada teman-teman saya menuliskan beberapa catatan yang diperlukannya untuk memorandum tersebut. Hal itu dikerjakan oleh teman-teman saya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 531-535.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*