SEBABNYA RUSLAN ABDUL GANI EXIT

SEBABNYA RUSLAN ABDUL GANI EXIT[1]

 

9 Maret 1962

Ada sedikit kebingungan sekitar Lebaran tahun 1381 Hijriyah ini sebab ada yang merayakannya tanggal 7 Maret (Rabu) dan ada yang tanggal 8 Maret (Kamis). Kebingungan terjadi karena Muhammadiyah memutuskan berlebaran tanggal 7 Maret sedangkan Nahdatul Ulama tanggal 8 Maret. Dan karena NU duduk dalam pemerintah, maka lewat Mentri Agama dapat didekritkannya.

Lebaran jatuh tanggal 8 Maret. Saya bersembahyang Hari Raya tanggal 7 Maret di halaman mesjid AI Azhar di Kebayoran dengan Buya Hamka sebagai khatib dan imam. Hamka dalam khotbahnya mengatakan adanya dua Hari Raya Idul Fitri hendaknya jangan diartikan sebagai perpecahan di kalangan umat Islam karena mereka semuanya bernaung di bawah satu bendera Merah Putih dan bersemboyankan satu syahadat yang berbunyi :

“La Ilaha il-Allah Muhammad ar Rasul-Allah”.

Dalam pidato Presiden Sukarno yang diucapkan pada sembahyang Hari Raya tanggal 8 Maret soal sengketa dengan Belanda mengenai Irian Barat diulanginya. Ia mengemukakan Tri Komando Rakyat tidak dihentikan. Malah den,gan gigih harus dipergiat terus yang berarti angkatan perang harus terus dipersiapkan .Merah Putih harus dikibarkan di Irian Barat dan pembentukan Negara Papua oleh Belanda harus digagalkan serta mobilisasi rakyat harus dilaksanakan.

Tanggal 6 Maret “Reuter” mengabarkan dari Washington, Pemerintah AS kini secara aktif sedang berusaha membawa Indonesia dan Belanda ke meja perundingan untuk menyelesaikan sengketa Irian Barat. Kementerian Luar Negeri AS telah mengirimkan laporan mengenai hasil-hasil perundingan antara Menteri Luar Negeri Joseph Luns dan Menteri Luar Negeri Dean Rusk kepada Duta Besar AS di Jakarta dan laporan tersebut dijadikan landasan bagi diplomat-diplomat Amerika di Jakarta dalam usaha mereka menghubungi pejabat-pejabat Indonesia. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri RI mengatakan kepada saya, bukan mustahil dalam waktu dua minggu lagi akan dimulai secret talks atau perundingan tidak formal antara Indonesia dengan Belanda untuk menyelesaikan soal Irian Barat.

Topik politik yang jadi buah tutur sekarang ialah mengapa Ruslan Abdulgani yang umumnya dianggap segagai tangan kanan Presiden Sukarno sampai keluar alias exit dari kabinet. Kalangan-kalangan yang mengetahui mengatakan ada tiga alasan sebabnya  Ruslan sampai exit. Pertama, sudah sejak beberapa waktu ini Ruslan dalam percakapan-percakapan pribadi suka mengeluarkan ucapan atau pendapat yang bersifat sinis ke alamat rezim sekarang. Kedua, dalam keterangan-keterangannya kepada umum Ruslan kadang-kadang menyimpang dari semangat yang digariskan oleh Presiden. Ketiga, keadaan dalam Dewan Pertimbangan Agung yang Ruslan menjadi wakii ketuanya sudah lama kacau sehingga pembicaraan di situ sering bergalau. Cerita selanjutnya menyatakan Presiden tadinya menawarkan kepada Ruslan menjadi Koordinator bidang khusus dengan pangkat Wakil Menteri Pertama dan sekaligus merangkap Menteri Penerangan. Tetapi Ruslan yang menganggap hal itu sebagai suatu penurunan pangkat atau degradasi menolak tawaran tadi. Rupanya dia beranggapan dia onmisbaar bagi Presiden, jadi senantiasa diperlukan sebagai tangan kanan Presiden yang dipercaya. Karena sikap Ruslan demikian, maka Presiden mencoret Ruslan dari daftar kabinet.

Hari ini saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri Subandrio. “Hij heeft spijt dat hij niet aangenomen heeft (Ia telah menyesal dia tidak menerima). Itu kata Subandrio tentang Ruslan yang katanya mengakui kekecewaannya itu pada Djuanda. Dengan perkataan lain, Ruslan telah melakukan suatu perhitungan yang meleset sekali atau menurut istilah dalam percakapan saya dengan Subandrio a gross miscalculation.

Dari orang-orang yang mengunjungi uslan pada hari Lebaran saya mendapat keterangan Ruslan berusalia memperlihatkan wajah yang gembira, tetapi istrinya tampak down alias sedih sekali. Ini dapat dimengerti sebab dalam keadaan sekarang Ruslan tidak berarti apa-apa lagi. Tetapi seperti dikatakan oleh Subandrio, dalam masa yang akan datang niscaya Sukarno akan mencarikan pekerjaan yang lain untuk Ruslan.

Apa sebab Subandrio berpendapat begitu? Ia menjawab:

“Soal loyalitas Sukarno terhadap orang-orangnya.”

Saya tanyakan juga kepada Subandrio mengapa Mr. Sartono mau menerima jabatan sebagai Wakil Ketua DPA? Sebab hal ini merupakan suatu surprise bagi kalangan politik di lbu Kota. Subandrio hanya menjawab :

“Begitu ya? Padahal dia dulu begitu fel (keras) waktu meletakkan jabatan sebagai Ketua DPR pilihan rakyat?” (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 186-188.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*