“SAMPEYAN NIKU MESTI MENGERJAKANNYA”

“SAMPEYAN NIKU MESTI MENGERJAKANNYA” [1]

 

26 Oktober 1962

 

Setelah mendapat izin Peperti pada tanggal 14 Oktober Lalu saya pergi ke Madiun mengunjungi Sjahrir di dalam penjara. Dua hari berturut-turut saya sempat berbicara dengan Sjahrir, Subadio dan lain-lain. Mereka sehat wal’afiat. Pada Sjahrir tampak keinginan untuk keluar dari penjara karena dalam penjara dia merasa tidak dapat sepenuhnya mengikuti perkembangan kejadian di tanah air.

Menteri Pertama Djuanda sudah kembali dari beristirahat di Jepang. Ternyata ia masih sakit-sakitan. Karena itu Presiden kemarin menetapkan  Leimena dan Subandrio menggantikan Djuanda dalam melakukan pekerjaan sehari-hari Djuanda Dalam hari-hari belakangan  ini terjadi beberapa  kematian Prof.Muhammad Yamin yang menjabat sebagai Menteri Penerangan meninggal dunia, pada tanggal 17 Oktober. Ia minta dikuburkan  di Talawi , Sumatera Barat di samping makam ayahnya Sukardjo Wirjopranoto yang menjabat sebagai wakil Indonesia di BB mendapat serangan jantung dan meninggal dunia pada tanggal 23 Oktober.

Pada tanggal 20 Oktober meninggal dunia di Solo Prof.Dr.Mohammad Saleh Mangundiningrat, Presiden Universitas Islam Tjokroaminoto. Dr. Saleh adalah ayah Soedjatmoko. Seminggu sebelum meninggal saya masih bercakap-cakap dengan Dr. Saleh di rumahnya dan kami membicarakaan tentang “manusia berjiwa Tuhan” dan tentang usaha manusia mencari “kepribadiari abadi”.

Selain mengunjungi Sjahrir saya juga pergi ke Jawa Timur dan di Pasuruan saya bercakap-cakap .dengan dua orang Kiai, Nahdatul  Ulama. Seorang di antaranya bercerita tentang penderitaan rakyat karena susahnya penghidupan. Rakyat benci kepada orang-orang yang hidup senang akan tetapi tidak memperlihatkan kebencian itu. Semuanya disimpannya di dalam batinnya. Saya tanya kepada Kiai itu apakah yang diperbuatnya sebagai pemimpin rakyat untuk memperbaiki nasib rakyat? Kiai menjawab ia hanya mengangkat tangan saja dan berdoa kepada Tuhan semoga perbaikan datang untuk kehidupan rakyat.

“Tetapi berdoa saja tidak cukup. Bukankah meminta rakyat. bersabar tidak akan menolong keadaannya? Siapakah yang mesti membela rakyat supaya nasibnya dapat diperbaiki?” tanya saya.

Kiai menjawab: “Kalau boleh saya berterus-terang sebetulnya sampeyan niku yang mesti mengerjakannya.”Saya pun terdiam dibuatnya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 263-264.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*