Rencana Penumpasan PKI Madiun ke Utara (3): Pasukan yang Dikerahkan

Rencana Penumpasan PKI Madiun ke Utara (3): Pasukan yang Dikerahkan[1]

 

Untuk operasi penumpasan pemberontakan PKI ke daerah­-daerah Purwodadi, Kudus, Pati, Cepu, Gubernur Militer membentuk Komando Operasi ke Utara karena letak daerah-daerah tersebut berada di sebelah utara Solo. Pasukan yang digerakkan untuk operasi ini berintikan dua batalyon dari Brigade 12/KRU-Z (Siliwangi). Karena komandannya adalah Letnan Kolonel Kusno Utomo, maka brigade ini dikenal dengan nama Brigade Kusno Utomo. Markas Komando Brigade Kusno Utomo berkedudukan di Yogyakarta. Brigade ini berkekuatan 4 Batalyon, yaitu :

  • Batalyon Kosasih, di bawah pimpinan Kapten A. Kosasih berkedudukan di Magelang.
  • Batalyon Kemal Idris di bawah pimpinan Mayor Kemal Idris berkedudukan di Yogyakarta.
  • Batalyon Achmad Wiranata kusumah, di bawah pimpinan Mayor A. Wiranatakusumah, berkedudukan di Yogyakarta.
  • Batalyon Daeng di bawah pimpinan Mayor Daeng Mohammad Ardiwinata, berkedudukan di Yogyakarta.[2]

Dua batalyon dari Brigade ini yaitu Batalyon Achmad Wiranatakusumah dan Batalyon Daeng telah dilibatkan dalam gerakan pertama operasi ke Timur. Untuk sementara kedua batalyon itu berada di bawah perintah Brigade 13 (Brigade Sadikin) yang bergerak dari Solo ke arah timur langsung menuju Madiun. Akan tetapi Batalyon Daeng setelah berhasil membebaskan Ngawi dan sekitarnya diperintahkan oleh Menteri Pertahanan Hatta bergerak ke utara dengan tugas pembebasan kota cepu dan meneruskan gerakannya ke Blora. Sedangkan Batalyon Achmad Wiranatakusumah sejak awal sampai selesai penugasan tetap berada di bawah Komando Brigade Sadikin. Adapun yang menjadi kekuatan Brigade ini adalah Batalyon Kosasih dan Batalyon Kemal Idris, dari Komando Operasi Pembebasan daerah Utara. Disamping kekuatan inti dari Brigade 12 KRU-Z beberapa kesatuan lain di bawah perintahkan kepada komando ini.

  • Batalyon Soeryosoempeno dari Resimen Sarbini[3] yang berkedudukan di Magelang. Batalyon ini semula bertugas sebagai batalyon Polisi Militer, untuk mengamankan kota Solo atas perintah dari Panglima Besar Soedirman.
  • Satu Kompi dari bekas Hizbullah (Yon Muchdi) ; Satuan Artileri di bawah pimpinan Kapten A. Satari ;
  • Satu Kompi Mobrig (sekarang Brimob) dari Karesidenan Banyumas di bawah pimpinan Inspektur Polisi TK.I R.M. Bambang Suprapto Dipokusumo ; dan
  • Satu Kompi TP (Tentara Pelajar) dari Solo di sekitar Kudus dan Pati;
  • Satu Kompi dari Batalyon Chris Sudono (Brigade Sunarto) yang berkedudukan di Cepu ;
  • Satu Kompi plus Batalyon Suprapto Sokowati dari Brigade 1 (Sunarto) yang berkedudukan di Maospati di bawah pimpinan Lettu Subandono BR.[4]

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kusno Dtomo, Jakarta, 2 Juni 1976.

[3] Perbedaan sebutan Kesatuan disesuaikan dengan kondisi saat itu : sebagian telah menyelesaikan reorganisasi-rekonstruksi kesatuan masing-masing, sebagian tertunda karena pecah pemberontakan PKI. Resimen Sarbini kemudian menjadi Sub Teritorial Comando (STC) Magelang dipimpin letkol Sarbini.

[4]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih, Jakarta, 16 Juni 1976.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*