RAPAT PERSIAPAN KONPERENSI A-A KEDUA

RAPAT PERSIAPAN KONPERENSI A-A KEDUA [1]

 

14 April 1964

 

Sejak tanggal 10 April lalu berlangsung di Jakarta rapat persiapan Konperensi Asia-Afrika Ke-2 yang dihadiri oleh para wakil 22 negara di atas tingkatan duta besar walaupun ada 5 negara yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri atau menteri lainnya.

Hari ini dimaksudkan sebagai hari sidang terakhir dan dalam pers telah tersiar Konperensi A-A Ke-2 akan diadakan pada tanggal 10 Maret 1965 di salah satu negara di Benua Afrika. Adapun yang menarik perhatian orang ialah usul India supaya Uni Soviet diikutsertakan dalam Konperensi A-A Ke-2 dengan alasan bahwa 8 dari 15 republik-republik Uni Soviet seperti Uzbekistan, Tajikistan dan lain-lain terletak di Asia selanjutnya bahwa Uni Soviet dapat memberikan sumbangannya dalam mencapai tujuan-tujuan Konperensi A-A Ke-2 yakni dalam bidang perdamaian, perlucutan senjata dan mendukung perjuangan kemerdekaan nasional bangsa-bangsa.

Pihak RRT yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Chen Yi menentang keras usul India tadi. RRT mengemukakan dapat saja dicari-cari alasan mengundang Amerika Serikat mengingat di AS terdapat banyak penduduk Negro yang berasal dari Afrika.

Kabarnya 15 dari 21 delegasi yang hadir tatkala India memajukan usulnya tadi berdiri di belakang India dan para peninjau politik berpendapat move India itu brilyan untuk mencegah jangan sampai Koneprensi A-A Ke-2 nanti semata-mata didominasi oleh pihak RRT. Bila Uni Soviet juga hadir, maka dia dapat mengimbangi RRT yang bersikap radikal ekstrem itu. Bagaimana kesudahan usul India ini belum jelas hari ini. Tetapi kabarnya di kalangan Indonesia sudah timbul kesuraman karena jalannya sidang tidak menurut harapannya. Indonesia selam ini selalu mengatakan dia tidak keberatan Konperensi A-A Ke-2 diadakan di tempat lain akan tetapi begitu para delegasi telah berdatangan di Jakarta, maka secara informal Indonesia melakukan “tekanan halus” supaya Konperensi toh diadakan di Bandung.

Kebanyakan delegasi tidak menerima hal tadi sehingga “lndonesia is hurt” (Indonesia merasa dilukai) seperti kata seorang anggota delegasi India kepada saya. Kejadian ini menunjukkan pula para duta besarindonesia yang diakreditasikan di beberapa negara Asia dan Afrika tidak­ lah memberikan laporan dan penilaian yang sebenarnya tentang sikap negara-negara itu bertalian dengan Konperensi A-A Ke-2.

Mereka menggambarkan semua beres dan hanya India yang biang keladi penentang Konperensi A-A Ke-2. Padahal ini tidak benar sehingga pemerintah Indonesia tidak begitu siap dalam rapat persiapan Konperensi A-A Ke-2 Itulah kalau diplomat-diplomat Indonesia hanya melaporkan apa yang disenangi oleh “bapak-bapak” saja menjadi juru bicara Manipol Usdek di luar negeri dengan mengorbankan ukuran-ukuran obyektif dalam laporan mereka. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 449-450.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*