RAKYAT MUDAH KETAKUTAN

RAKYAT MUDAH KETAKUTAN[1]

 

16 September 1961

Saya membaca sebuah berita di koran. Hari Minggu lalu Biro Pemuda Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan mengadakan razzia untuk memeriksa penduduk mana yang masih buta huruf. Razzia itu dilancarkan di daerah Senen, Jakarta, dalam rangka gerakan pemberantasan buta huruf.

Mulai dari pukul 6 pagi selama lima jam regu kerja pemuda itu menahan rakyat di jalan dan menanyakan apakah mereka sudah bisa baca dan tulis atau tidak. Menurut berita koran, “dalam gerakan razzia Pemberantasan Buta Huruf (PBH) itu ada hal-hal yang lucu terjadi, misalnya ada orang yang disuruh membaca dan menulis malah memberikan uang kepada petugas regu kerja, ada yang menangis, ada yang mendadak sakit demam, ada yang lari menyusur gang atau lewat di halaman orang dan ada yang mengatakan razzia PBH menakut-nakuti orang yang masih buta huruf itu.”

Perasaan saya setelah membaca berita ini ialah betapa tidak berdayanya rakyat kita, betapa mudahnya ia jadi panik dan ketakutan. Apakah ini suatu indikasi akan alam kehidupan rakyat yang diliputi oleh suasana ketakutan terhadap segala sesuatu yang berbau penguasa? Pelaksanaan bebas dari takut freedom from fear harus menunggu masa yang masih lama? (DTS)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 98-99.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*