RAKYAT LAPAR DAN “AVOND ETEN ECONOMIE”

RAKYAT LAPAR DAN “AVOND ETEN ECONOMIE” [1]

 

24 Januari 1963

 

Dua hari yang lalu keluar pengumuman Deparlu bahwa pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat dalam waktu singkat akan menandatangani sebuah persetujuan mengenai pembelian bahan-bahan baku penolong dan suku cadang dari AS yang meliputi 17 juta dolar. Jumlah itu berupa pinjaman yang disediakan oleh pemerintah AS melalui Agency for International Development (AID). Pembelian bahan-bahan baku penolong dan suku cadang itu dilakukan dalam rangka program stabilisasi ekonomi.

Beberapa waktu sebelum pengumuman itu James Forestall, pembantu Presiden Kennedy untuk urusan Timur Jauh datang ke Jakarta mengadakan pembicaraan di antaranya dengan Presiden Sukarno. Pengaruh semua ini tampak pada turunnya harga-harga untuk beberapa hari lamanya. Harga emas yang tadinya berkisar sekitar Rp 2200,00 per gram turun menjadi Rp 1700,00.

Harga 1 Straitsdollar turun dari Rp 480,00 menjadi Rp 360,00. Harga karet pun turun. “AP” menyiarkan dari Washington dalam anggaran belanja yang diminta oleh Kennedy kepada Congress untuk bidang bantuan luar negeri, maka untuk Indonesia disediakan untuk tahun 1964 jumlah $ 250 juta guna program stabilisasi ekonomi, di antaranya $ 82,5 juta akan diberikan melalui International Monetary Fund (IMF) dan sisanya $ 167,5 juta akan diberikan oleh AS. Apakah kejadian­kejadian ini mengakibatkan gejala turunnya harga-harga tidaklah dapat dipastikan. Tetapi perbaikan ekonomi memang diharapkan benar.

Seorang Ajun Komisaris Besar Polisi menceritakan kepada saya, di daerah Jakarta Kota kedapatan surat-surat sebaran yang dicetak berisi perkataan

“Rakyat lapar”

Tentu PKI ada hubungan dengan kegiatan ini karena diwaktu belakangan ia banyak mengerahkan demonstrasi-demonstrasi rakyat menuntut beras. Dalam keadaan banjir seperti sekarang penderitaan rakyat kian bertambah.

Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani dalam ceramahnya di depan Catur Tunggal Tasikmalaya melontarkan istilah baru yaitu avond eten economieatau ekonomi makan malam . Katanya, dewasa ini di Indonesia banyak buruh, pegawai negeri maupun pedagang yang pergi ke tempat kerja tanpa sarapan lebih dulu.

Demikian pula mereka ini sering tidak makan siang. Dan mereka mengecap makan malam bilamana kelihatan ada untung dari hasil kerjanya di siang hari. Dewasa ini gaji bulanan yang diterima oleh rata-rata buruh dan pegawai negeri hanya cukup untuk 10 hari saja. Namun ternyata buruh dan pegawai negeri itu hidup juga. Hidup kita penuh dengan akrobatik, kata Ruslan Abdulgani. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 326-327.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*