PUNCAK SUKARNO di IRIAN BARAT DITAKLUKKAN

PUNCAK SU KARNO di IRIAN BARAT DITAKLUKKAN [1]

 

19 Maret 1964

 

Gunung yang diliputi salju abadi di Irian Barat dulu bernama Wilhelmina-top. Sejak Irian Barat kembali ke wilayah RI ia dibabptiskan menjadi Puncak Sukarno. Tinggi gunung itu 5060 meter. Pada akhir 1963 sebuah ekspedisi gabungan lndonesia-Jepang yang dipimpin oleh Letkol. H. Azwar Hamid dari Jawatan Topografi dan Prof. Kato dari Universitas Kyoto berangkat ke Kotabaru dengan tujuan menaklukkan gunung tersebut, mengibarkan Sang Merah Putih di puncaknya dan melakukan penyelidikan ilmiah tentang keadaan flora, botani, fauna, biologi, meteorologi, geologi.

Tim-tim pendaki dan ilmiah itu mula-mulanya mengalami kesukaran, terutama tim pendaki akan tetapi akhirnya pada tanggal 1 Maret yang lalu diwartakan tim pendaki yang terdiri dari tiga orang berhasil mencapai puncak. Letnan I Sudarto dari RPKAD, Pembantu Letnan S. Sugiri dari RPKAD dan Fred Atabu mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Cendrawasih Kotabaru telah mengembangkan Sang Merah Putih dan memaku keempat ujungnya di Puncak Sukarno. Sedangkan anggota ekspedisi dari Jepang menancapkan bendera Hinomaru kecil dengan disertai bendera kecil dari Universitas Kyoto.

Kemarin anggota-anggota ekspedisi Cendrawasih itu kembali di Jakarta dan mendapat sambutan meriah di Kemayoran. Mereka terus dibawa ke Istana Negara dan disambut sendiri oleh Presiden Sukarno. Menurut “Antara” Presiden berkata antara lain: “Apa yang dicapai oleh para pendaki Indonesia merupakan hal yang membanggakan karena prestasinya dalam mengibarkan Sang Merah Putih itu merupakan prestasi revolusi serta dilakukan atas perintah Pemimpin Besar Revolusinya.”

Presiden juga menguraikan: “Revolusi kita membawakan rising demands rakyat. Jika dulu kita puas makan sehari dua kali, sekarang menuntut tiga kali. Jika dulu puas dengan lampu cempor di rumah, sekarang menuntut listrik bahkan radio dan televisi. Jika dulu kita hanya mengusir imperialisme dari negara kita sendiri, revolusi kita sekarang menuntut kita harus mengusir imperialisme yang berada di luar negeri kita yang bernama Malaysia,” demikian ujar Presiden. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 434-435.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*