Presiden Soekarno Tanggal 1 Oktober 1965 (3): Menuju Bogor

Presiden Soekarno Tanggal 1 Oktober 1965 (3):  Menuju Bogor [1]

 

 

Akhirnya atas usul Leimena, Presiden Soekarno memutuskan untuk siap meninggalkan Halim. Tanpa sepengetahuan Omar Dhani, kemudian dr. Leimena dan para ajudan Presiden yaitu Saelan, Sumirat, Mangil, dan Bambang Widjanarko menyiapkan segala keperluan menuju kota yang disepakatinya yaitu Bogor. Sekitar pukul 23.00 sebuah mobil sedan kecil “Prince” disiapkan, dengan pengawalan di depan dan belakang. Ketika Presiden ke luar rumah, ia langsung dipersilakan masuk ke mobil dan Leimena duduk di sebelahnya, sedangkan Bambang Widjanarko duduk di samping sopir. Presiden Soekarno saat itu tidak mengetahui rencana tujuan dari kepergiannya tersebut.

Pada waktu mobil berada di Jalan By Pass, dan membelok ke kiri menuju selatan, Presiden bertanya, “Bambang, kita akan ke mana? Mengapa tidak ke kapal terbang ?” Pak Leimena yang duduk tepat di belakang Bambang langsung menepuk bahunya, dan memberi isyarat agar menjelaskan kepada Presiden. Bambang pun menjawab pertanyaan tersebut. “Pak, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Bapak kami bawa ke Bogor”. “Mengapa, Mbang”.

“Ada tiga alasan mengapa Bapak kami bawa ke Bogor. Pertama, saya yakin betul bahwa Halim pasti akan segera di serang dan saat demikian sebaiknya Bapak jangan berada di tengah pertempuran. Kedua, Bogor tidak jauh dari Jakarta, sehingga apabila terjadi sesuatu akan dapat menguasai keadaan serta mengatasi segala persoalan yang muncul. Ketiga, adanya kekhawatiran apabila Presiden meninggalkan Halim dengan pesawat terbang yang hanya bisa dikendalikan oleh seorang pilot yang belum tentu dapat dipercaya loyalitasnya. Sebaliknya dengan melalui jalan darat ini apapun yang terjadi kami masih tetap dapat menjaga Bapak”.

Mendengar penjelasan tersebut, Presiden Soekarno terdiam. Lima menit kemudian ia bertanya, “Mbang, apakah jalan ke Bogor ini aman?” “Aman, Pak. Bapak tidak usah khawatir, kami akan membawa Bapak dengan selamat sampai ke Istana Bogor”.

Perjalanan memang berjalan mulus, dan sekitar pukul 23.45 konvoi kecil memasuki halaman Istana Bogor melalui pintu Utara. Begitu melewati pintu gerbang para asisten tersebut menarik nafas lega dan tidak lupa pula mengucapkan syukur dan terima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melindungi Presiden Soekarno beserta rombongan dengan selamat.

Begitu mobil mendekati pavilyun di mana Presiden Soekarno dan Ibu Hartini berdiam, Bambang mengatakan bahwa tugasnya telah selesai.

“Terima kasih, Mbang” jawab Presiden.

12_resultTugas yang masih menggelayuti ajudan Presiden tersebut ialah kewajiban melapor kepada Pangkostrad, di Jakarta. Malam itu dari Bogor ia menghubungi Pangkostrad melalui telepon. “Laporan, Pak. Mission. accomplished. Kami telah membawa Bapak Presiden ke luar dari Halim. Sekarang Bapak berada di Istana Bogor. Laporan selesai”.

“Terima kasih, Mbang”, jawab Pangkostrad Mayjen Soeharto.[2]

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]    Ibid

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*