Presiden Soekarno Tanggal 1 Oktober 1965 (2): Presiden Soekarno di Pangkalan Udara Utama Halim

Presiden Soekarno Tanggal 1 Oktober 1965 (2):  Presiden Soekarno di Pangkalan Udara Utama Halim [1]

Presiden Soekarno bersama rombongannya tiba di Ko. Ops. AU di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada pukul 09.00. Pada kesempatan itu, Brigjen Supardjo melapor kepada Presiden bahwa ia berhasil menindak para pimpinan TNI-AD, kecuali Jenderal A.H. Nasution lolos dari penculikan. Namun reaksi Presiden tidak seperti yang diharapkan Brigjen Supardjo. Presiden Soekarno memerintahkan agar Brigjen Supardjo menghentikan gerakannya untuk menghindari pertumpahan darah. Di samping itu, Presiden memerintahkan pula kepada Brigjen Supardjo untuk memberikan bukti-bukti yang dijadikan alasan atas pelaksanaan penculikan maupun pembunuhan terhadap para pimpinan TNI-AD.

Brigjen Supardjo kembali ke Cenko II untuk menyampaikan perintah mengenai penghentian gerakan kepada Sjam. Mereka mendiskusikan hal itu. Kesimpulan hasil diskusi, perintah itu tidak menguntungkan Gerakan Tiga Puluh September, karena menimbulkan suasana ragu-ragu. Akhirnya, Sjam memutuskan untuk tidak mematuhi perintah tersebut. Setelah beberapa saat berada di Ko. Ops. AU, Presiden Soekarno beserta rombongan meninggalkan Ko. Ops. AU menuju rumah Komodor Susanto pada pukul 11.00. Dengan gugurnya Men/Pangad Letjen A. Yani, maka Presiden Soekarno bermaksud menunjuk Men/Pangad baru. Untuk maksud tersebut, Presiden Soekarno memerintahkan para ajudan untuk memanggil Waperdam II Dr. J. Leimena, Jaksa Agung Brigjen Sutardhio, Men/Pangal Laksamana Madya Laut Martadinata, Men/Pangak Irjen Pol. Soetjipto Judodihardjo, dan Pangdam V/Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah. Brigjen Sabur diperintahkan membuat pengumuman bahwa Presiden Soekarno dalam keadaan sehat dan selamat.

Untuk menentukan Men/Pangad baru, Presiden Soekarno memimpin rapat di rumah Komodor Susanto. Hadir dalam rapat itu Dr. J. Leimena, Laksamana Madya Omar Dhani, Laksamana Madya R.E. Martadinata, Inspektur Jenderal Pol. Soetjipto Judodihardjo, Brigjen Sutardhio, Brigjen Sabur dan Brigjen Supardjo. Dalam rapat itu diajukan 5 orang calon, yaitu Mayjen Mursyid, Mayjen Basuki Rachmat, Mayjen Pranoto, Mayjen Ibrahim Adjie dan Mayjen Soeharto. Pihak PKI melalui Brigjen Supardjo mengajukan 2 orang calon yaitu Mayjen Rukman dan Mayjen Pranoto.

Setelah melalui penilaian, Presiden Soekarno memutuskan bahwa Pimpinan Angkatan Darat dipegang sendiri, dan untuk pelaksanaan sehari-hari ditunjuk Mayjen Pranoto sebagai care taker. Presiden juga memerintahkan agar semua pasukan tetap di posnya masing-masing dan menghindari pertumpahan darah.

Dengan selesainya penunjukan care taker Men/Pangad, sekitar pukul 17.00 Presiden Soekarno memerintahkan salah seorang ajudan yaitu Kolonel KKO Bambang Widjanarko untuk memanggil Mayjen Pranoto. Setelah dicari ke berbagai tempat, ia tidak bertemu dengan Mayjen Pranoto. Kemudian Kolonel KKO Bambang Widjanarko datang ke Kostrad untuk menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, dan menyampaikan perintah Presiden Soekarno tersebut. Meskipun Mayjen Pranoto saat itu berada di dalam ruangan Markas Kostrad, namun sesuai prosedur ia menyampaikan pesan itu melalui Mayjen Soeharto.

Setelah Pangkostrad mendengar laporan, kemudian terjadi dialog seperti berikut :

“Bambang, sekarang Bapak ada di mana ?”

“Berada di Halim, Pak”. Jawab Kolonel Bambang Widjanarko “Mbang, saat ini Panglima AD, Jenderal Yani tidak ada. Pimpinan untuk sementara di tangan saya. Sampaikan pada Bapak agar semua instruksi mengenai AD harap disampaikan kepada saya. Jenderal Pranoto saat ini tidak dapat menghadap”.

“Siap, Pak”

“Dan padamu, Mbang, saya minta usahakan sedapat mungkin agar Bapak secepatnya ke luar dari Halim”.

“Siap, Pak. Saya kerjakan”.[2]

Ketika Kolonel Bambang Widjanarko tiba di Halim, waktu telah menunjukkan pukul 20.00 lewat. Ia segera menghadap Presiden Soekarno di ruang tengah. Pada waktu itu hadir Leimena, Omar Dhani, dan Sabur. Sewaktu ia akan menyampaikan laporan, masuk pula seorang Brigjen AD, yaitu Brigjen Supardjo. Selanjutnya Bambang Wijanarko melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa Mayjen Pranoto berada di Kostrad dan tidak dapat menghadap. Selain itu, ia menyampaikan pula pesan Pangkostrad tentang prosedur instruksi yang menyangkut AD tersebut.

Mendengar laporan tersebut, Presiden Soekarno marah. Namun demikian, Bambang tetap tidak surut untuk menyampaikan pesan Pangkostrad agar Presiden segera meninggalkan Halim sebelum pukul 12 malam. Tanpa menyebut nama Mayjen Soeharto lagi, demi menjaga perasaan Presiden, kemudian ia menyampaikan pesan tersebut dengan berdalih kesaksiannya sendiri terhadap peristiwa-peristiwa yang dilihatnya. Seperti kejadian di pagi hari, yaitu disaksikannya sejumlah pasukan yang tidak dikenal di sekitar Istana dan pada malam hari masih melihatnya lagi. Sewaktu berada di Kostrad, ia mendengar pula laporan bahwa gedung RRI telah dikuasai kembali oleh Kostrad. Di samping itu, pasukan-pasukan AD pun telah siap siaga dan bergerak di sekitar Monas. Dengan adanya kejadian-kejadian tersebut, ia menyimpulkan bahwa malam itu juga atau paling lambat besok pagi, pasukan Kostrad pasti akan menyerbu Halim. Oleh karena itu, ia memohon pada Presiden agar secepatnya mau meninggalkan Halim. Selain itu, Bambang menyampaikan pula pesan tersebut kepada Dr. J. Leimena.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2] Bambang Widjarnarko, Sewindu Dekat Bung Karno, Jakarta, PT Gramedia, 1988, hal. 179-180

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*