“POWER LEADER” DAN “MORAL LEADER”

9

“POWER LEADER” DAN “MORAL LEADER”[1]

 

14 April 1962

Ny . Fatmawati Sukarno datang berkunjung ke rumah Ny. Siti Wahyunah Sjahrir beberapa waktu yang Ialu. Ia datang pukul setengah delapan malam dan baru pulang pukul sebelas. Asyik juga mereka berbicara. Fatmawati mengenangkan lagi zaman awal Revolusi dulu ketika ketiga orang itu yaitu Sukarno, Hatta, Sjahrir bekerja sama mempertahankan kehidupan Republik Indonesia. Tetapi sekarang mereka sudah berpisah-pisah tampaknya. Fatmawati berpesan kepada Poppy Sjahrir supaya menyampaikan salamnya kepada Bung Sjahrir bilamana Poppy berkirim surat kepada suaminya di Madiun.

Poppy mengatakan suratnya kepada Sjahrir harus melewati kantor. Apakah baik kalau dituliskannya di situ “Fatmawati kirim salamnya“? Dengan tegas Fatmawati menjawab dia tahu hal itu niscaya akan disampaikan kepada “Bapaknya Guntur” (maksudnya Presiden Sukarno), namun biarlah, sampaikanlah salamnya kepada Bung Sjahrir. Saya anggap sikap Fatmawati ini simpatik sekali. Ia belum melupakan sama sekali kawan-kawan lama. Tanda ia punya karakter.

Teringat saya percakapan saya dengan seorang diplomat Asia tiga minggu yang lalu dan ia juga mernpersoalkan tentang Sjahrir walaupun dari segi lain. Diplomat itu berkata, pada awal Revolusi dulu di luar negeri yang dikenal orang hanyalah nama Sutan Sjahrir. Pemimpin-pemimpin Asia mengidentifikasikan Indonesia dengan Sjahrir yang menghadiri Konperensi Asia di New Delhi pada tahun 1947.

Ketika itu Sjahrir diperkenalkan kepada para peserta konperensi oleh Nyonya Sarojini Naidu sebagai “bom atom Asia“. Sesudah Nehru hanyalah Sjahrir yang terkenal di Asia. Sjahrir pula yang paling cakap dan bijak menjelaskan di depan mimbar Dewan Keamanan PBB di Lake Success tahun 1947 perihal perjuangan dan cita-cita bangsa Indonesia.

Sesudah Sjahrir berhenti sebagai Perdana Menteri kemudian ia hilang dari gelanggang politik . “Saya tidak mengerti,” kata diplomat Asia itu. “Apakah yang terjadi dengan diri Sjahrir? Apakah gerangan soalnya antara dia dengan Sukarno yang menyebabkan dia lenyap begitu saja? Seolah-olah dia biarkan saja dirinya tersisih ke pinggir atau menguap di dalam udara. Why does he let himself wither away? And now this arrest of him. Why? I dont understand.

Saya tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan diplomat Asia itu. Empat malam yang lalu ketika saya bercakap-cakap dengan Daan dan Wibowo, maka entail karena apa kami memperbincangkan tentang Sjahrir. Daan berpendapat Sjahrir bukanlah orang yang tepat untuk memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI). Sebabnya ialah karena Sjahrir tidak mempunyai kemampuan eksekutif sebagai organisator partai padahal justru yang diperlukan oleh PSI ialah organisasi yang rapi dengan disiplin yang ketat. Ideologi saja terbukti tidak mencukupi.

Ketika pada tahun 1955 diadakan Kongres PSI di Jakarta, sebenarnya waktu itulah saatnya menyerahkan pimpinan partai kepada seorang organisator manager, misalnya Dr.nSumitro. Tetapi bukannya memberikan tempat itu kepada Sumitro, malahan sebaliknya yang terjadi. Kaum ideoloog dari PSI tetap mempertahankan kekuasaan mereka  sedangkan sudah jelas mereka itu yaitu seperti Djohan Sjahruzah, Sitorus dan lain-lain telah gagal dalam mengakarkan partai ke bawah. Pemilihan umum yang kemudian diadakan menunjukkan kegagalan total PSI.

Dan sekarang ini di mana PSI sudah menjadi tercerai-berai tanpa tujuan dan cita-cita bersama, maka kemerosotan lebih jauh hanya dapat dicegah bilamana leader ship baru muncul yang bukan berjiwa seperti Sjahrir melainkan berjiwa eksekutif dan manajer yang mampu mengorganisasi dengan efisien dan efektif, demikian pendirian Daan.

Saya waktu itu tidak menyangkal pendirian Daan walau pun dia tidak seluruhnya benar. Saya berpendapat dalam per soalan ini kita menghadapi dua unsur yaitu power atau kekuasaan, dan morality atau keakhlakan.

Kita tahu seorang politician atau orang yang berpolitik tidak boleh tidak akan berurusan dengan  unsur power itu. Kalau ia membawa-bawa unsur morality  kedalam  politik, maka sebaiknya ia jangan jadi politician. Benar, power hanya dapat disusun dengan organisasi yang rapi. Diukur dengan sudut pandangan ini, maka Sukarno sebagai politician tampak­ nya jauh  lebih berhasil.  Ia dapat disebut  sebagai seorang power leader. Sebaliknya, Sjahrir tampaknya sebagai seorang moral leader.

Ia tidak terpesona mentah-mentah oleh hanya power. Padanya ada pertimbangan-pertimbangan lain yang lebih penting seperti pertimbangan kemanusiaan, keadilan, kerakyatan. Benarkah ini? Kalau ini benar, maka menjadi pertanyaan jenis pemimpin manakah yang diperlukan oleh Indonesia? Power leader ataukah mora/leader? Sukarno kini sebagai power leader mempunyai kekuasaan mutlak. Toh dia tidak berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang menimpa rakyat Indonesia. Lalu bagaimana? Demikian tanya saya?

Daan mengakui apa yang saya katakan tadi. Sjahrir sebagai moral leader belum memperoleh giliran. Timbul pertanyaan apakah semua itu berarti jika power leader tidak berhasil, maka dengan sendirinya moral leader yang menggantikan tempatnya? Wibowo cenderung kepada pendapat terakhir ini akan tetapi hanyalah apabila Sukarno sebagai power leader menyele­saikan pekerjaannya yang harus dikerjakannya sekarang yakni menghancurkan susunan lama baik secara politik, sosial, ekonomi maupun mental.

Dalam tahapan berikut setelah itu tibalah masanya untuk seorang moral leader, kata Wibowo. Saya tidak sependapat dengan mereka sebab pada hemat saya yang diperlukan oleh Indonesia tetaplah seorang pemimpin yang menyelaraskan pada dirinya secara harmonis kedua unsurpowerdan morality itu. Pada hakikatnya kedua unsur itu inherent terdapat dalam. masyarakat Indonesia. Demikian halnya dahulu, demikian sekarang dan juga di masa yang akan datang. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 207-210.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.