PKI MENYERBU BALAI MUSLIMIN MADIUN: Kesaksian Poernomo

PKI MENYERBU BALAI MUSLIMIN MADIUN[1]

(Kesaksian Poernomo)[2]

Pada 1948, Poernomo adalah anggota Badan Perwakilan Rakyat Daerah (BPRD)  Karesidenan Madiun. Ia tercatat pula sebagai salah seorang ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Karesidenan Madiun di bawah Ketua Umum Moech. Koensyarwani. Terakhir, Poernomo menjabat Kepala Desa di Desa kelahirannya, Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Berikut penuturan kesaksiannya.

“Kami sekeluarga bisa selamat dari pembantaian PKI, tidak lain hanya kerena .pertolongan Allah semata. Orang yang tidak bertuhan seperti orang PKI, mengatakan ‘hanya kebetulan’. Tapi bagi orang beriman menganggap: ‘Tidak ada saat kebetulan, melainkan semua sudah diatur Allah semata,’ ” demikian Poernomo memulai kesaksiannya.

Jumat, 17 September 1948 malam. Suasana Kota Madiun terutama di sekitar Balai Muslimin di jalan Raya (kini Jalan Pahlawan) sungguh sangat sepi ‘tintrim’,sangat dingin mencekam, karena kemarau yang tengah mencapai puncak.

Sekitar pukul 02.30 dini hari, Sabtu 18 September 1948, kami sekeluarga bahkan seisi asrama Balai Muslimin yang berlokasi berdekatan dengan markas CPM dikejutkan suara tembakan senapan mesin yang memang ditujukan ke arah markas CPM.

Kami menyadari, apa yang selama sebelum ini dikhawatirkan, yaitu PKI akan memberontak melawan pemerintah, akhirnya menjadi kenyataan. Sebagai pendukung pemerintah. kami juga sadar akan menjadi sasaran mereka.

Peluru terus berdesingan. Nyaris saja saya menjadi sasaran tembak, yaitu ketika berusaha mengintip dari celah pintu kantor GPII Putri yang berada di lingkungan Balai Muslimin itu. Peluru menembus daun pintu tidak jauh dari tempat saya berada.

Seisi asrama sega:a bergegas menyembunyikan senjata dan memusnahkan surat-surat penting. Saya bersiap mengambil pedang, tapi saya batalkan, malah justru menyembunyikannya. Sejenak kemudian. masuk gerombolan tentara komunis dengan seragam hitam-hitam dan lehernya mengenakan syal dan ikat kepala wama merah. Kepada kami yang berwajah ketakutan mereka menanyakan apa ada tentara TNI. Saya memberanikan diri menjawab, “Tidak, kamiadalah pengungsi dari Surabaya.”

Tentara komunis kemudian menyatakan; “O, kalau begitu ‘konco dewek.’ Sebaiknya kalian tidak tidur di atas, tidur saja di lantai.” Saya menjawab, “Terimakasih bung. Menang Perang,” itu memang salam mereka yang umumnya  berasal dari Brigade 29 asal Sidoarjo yang menolak dan kecewa pada program Wakil Presiden dan Perdana Menteri Hatta. Hatta melancarkan program Rasionalisasi TNI yang dianggap memutus pengaruh PKI dalam tubuh tentara. Mereka membelot dan ikut mendukung Mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifuddin yang pro PKI.

Mendengar sambutan saya yang demikian hangat, mereka tampak senang. Mereka meninggalkan kami. Inilah pertolongan Allah yang pertama bagi kami sekeluarga.

Hari telah terang. Saya meminta semua penghuni asrama Balai Muslimin untuk segera menyingkir dan bersembunyi. Ketika itu di asrama Balai Muslimin sedang berkumpul dan menginap sejumlah tokoh partai politik dari PNI, PSI, Murba, BPRI dan Masyumi yang bersiap memenuhi undangan sidang BPRD dari Residen Madiun. Saya anjurkan pula pada mereka untuk segera menghindarkan diri dari kemungkinan terbunuh oleh gerombolan PKI.

“Sayang, para tokoh partai politik anggota BPRD ini tidak percaya pada anjuran saya. Mungkin karena saya ini hanya anggota yang masih belia, belum 20 tahun. Tapi, mereka umumnya tidak percaya, karena terasa tidak mungkin jika PKI akan berbuat tega terhadap bangsa sendiri,” papar Poernomo.

Tidak mempedulikan para tokoh partai yang masih mencoba bertahan, Poernomo kemudian memilih segera meninggalkan Balai Muslimin menuju rumah Moh . Komar, familinya di kawasan Kauman. Salah satu putra keluarga Moh. Komar saat itu sedang sakit stres yang cukup berat. Sehari-hari mengenakan ikat kepala warna merah layaknya pasukan PKl. Bagi yang tidak mengetahui, memang mengira ia dari Pasukan Merah. Karena demikian Ielah, di rumah ini Poernomo tertidur dan baru terbangun sekitar Pk  10.00.

Poernomo bermaksud meneruskan perjalanan, tapi anak stres tadi membentak dan dengan nada perintah seorang komandan, ia melarang pergi.

“Heran, saya ko ya menurut saja, dan memilih melanjutkan tidur .” Sekitar pukul 14.00, anak stres ini membangunkan dan kali ini memerintahkan agar saya berangkat cepat-cepat melalui Jembatan Manguharjo yang melintasi Kali Madiun, untuk menuju ke kawasan Jiwan. Penjagaan demikian ketat di ke dua sisi jembatan. Tiba-tiba datang dokar (delman) yang membawa kiriman jatah makan para penjaga ini. Mereka menghambur berebut bagian, dan lengah ketika Poernomo dengan mudah lolos dari pengawasan mereka. “Ini adalah pertolongan Allah yang kedua bagi keselamatan saya,” ungkap Poernomo.

Pertolongan Allah yang ketiga dirasakan Poernomo ketika ia lolos dari patroli tentara PKI di seberang jembatan di dekat Kanal I sebelum mencapai Jiwan. Di  tempat yang sama, Poernomo juga melihat truk mengangkut banyak mayat. Menilik baju seragam yang dikenakan tampak kalau mereka adalah golongan PKI.Poernomo mengangkat topi untuk menutupi wajah, . sebagai gerak seolah tengah menghormat pada jenazah.

Di kawasan Jiwan, Poernomo bersembunyi di rumah Badjuri di Desa Bagag. Dari tempat ini berbagai informasi dari luar dapat dengan mudah diperolehnya. Termasuk ada pula tenaga-tenaga yang dapat membantu sebagai kurir penghubung. Ia menyebarkan surat-surat kilat yang menyerukan agar anggota Masyumi, GPII Putra/Putri serta segenap bawahannya, segera menghindar dan tidak lagi bertahan di rumah. “Salah satu surat saya mendapat balasan, yaitu dari Eyang RM Koesein, Wakil Ketua BPRD Kabupaten Madiun. Disamping meminta agar menjaga keselamatan diri sendiri, juga mengabarkan di Desa Banjarsari saat itu, tengah dilakukan konsolidasi kekuatan bekas Laskar Hizbullah di bawah arahan komando Letkol. Moech . Koensyarwanie, yang memang sebelumnya adalah Komandan Hizbullah Karesidenan Madiun dan juga saat itu menjabat Ketua . Umum GPII Karesidenan Madiun.

“Menyelamatkan diri sendiri? Apa yang mesti dilakukan?” gumam Poernomo sambil melihat Ibu Badjuri menjemur singkong untuk dijadikan gaplek. Terbersit ide, singkong yang masih basah itu diambil dan dengan pisau yang cukup tajam, segera saya buat sebuat stempel Kepala Desa,” papar Poernomo. Dengan stempel seolah dari Desa Karangkajen Yogyakarta, dibuatkan surat keterangan bepergian sebagai pedagang kapuk kapas yang saat itu tengah pergi mencari dagangan dengan tujuan Kediri.

Berbekal surat keterangan jalan tersebut, Poernomo bergegas berangkat menuju stasiun KA Barat, sekitar 15 km arah barat Kota Madiun. Namun di tengah jalan ia dihadang para anggota GPII Putri yang menyamar dengan mengenakan pakaian rok pendek, menghilangkan cirinya sebagai muslimah yang senantiasa berpakaian panjang. Para anggota GPII Putri ini mencegah Poernomo, sebab perjalanan KA saat itu sudah tidak ada lagi, disamping kondisinya sungguh sudah sangat berbahaya: Mereka mengajak Poernomo mengungsi ke Sambirembe.

Di lokasi persembunyian ini, Poernomo lebih leluasa bekerja. Poernomo mendapat kiriman mesin tik yang memungkinkannya membuat selebaran dan siaran gelap menyerukan perlawanan kepada komunis. Ia bekerja dengan mesin tik pada siang hari bersamaan dengan riuhnya orang-orang sedang menumbuk padi.

Pada suatu sore, datang rombongan tentara PKI. Poernomo ditanya surat keterangannya, dan segera mengeluarkan surat keterangan yang dibubuhi cap dari Stempel yang dibuat dari gaplek (singkong dikeringkan) . Nasib sungguh bergantung pada Allah semata. Tidak lama pemeriksaan dilakukan, surat dikembalikan dan mendapat pernyataan beres.

“Alhamdulillah, Stempel gaplek mengarahkan saya mendapatkan pertolongan Allah yang keempat,” kata Poernomo.Seiring dengan kedatangan Tentara Siliwangi, Poernomo mendapat izin menempel siaran dan selebaran secara terang-terangan. Masyarakat berkerumun membaca penerangan itu yang umumnya berisi penjelasan tentang pengkhianatan PKI terhadap bangsa dan negara Rl. Di garis belakang PKI menghasut rakyat miskin untuk merebut tanah dengan menggunakan Undang­ Undang Agraria, seolah mereka adalah pembela rakyat kecil. Tapi sebenarnya PKI bermaksud membuat keadaan kacau dan menunjukan bahwa pemerintah pusat tidak dapat mengatasi dan menyerah. PKI kemudian bermaksud tampil memimpin. Untuk tujuan itu, mcreka tidak segan-segan bekerjasama dengan Belanda. ltulah garis besar isi pamflet yang dibuat Poernomo.

Setelah keadaan mulai aman, Poernomo baru mendengar kabar bahwa RM Koesein bersama sejumlah kiai dan tokoh di Kecamatan Dagangan, telah hilang diculik PKI. Poernomo kembali ke Balai Muslimin untuk memberikan layanan penerangan terhadap seluruh umat yang kehilangan sanak keluarganya .

Poernomo juga tercatat ikut sebagai sukarelawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) yang ketika itu bersama TNI bergerak ke arah Kresek Dungus (timur .Madiun) untuk mencari dan mengambil jenazah para korban keganasan PKI. Ratusan korban ditemukan, umumnya dalam kondisi yang sudah sangat menyedihkan. Ada yang sudah tidak berkepala, ada yang matanya sudah keluar dari kelopak, ada pula yang bibirnya jontor bengkak sebesar piring karena hantaman popor senapan. Seluruh jenazah yang ditemukan dalam kondisi menyedihkan itu, segera diangkut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kota Madiun.

[1] Dikutip dari buku “KESAKSIAN KORBAN KEKEJAMAN PKI 1948, Kesaksian Pesantren             Tremas, Pacitan “, Komite Waspada Komunisme, Jakarta:2005, hal 67-78

[2] Poernomo: Anggota Badan Perwakilan Rakyat Daerah (BPRD) karesidenan Madiun dan        salah seorang ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) tahun 1948

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*