PIKIRAN MEMBENTUK MAPHILINDO

PIKIRAN MEMBENTUK MAPHILINDO [1]

 

15 Juni 1963

 

Perubahan suasana membawa sekedar kesegaran dalam pandangan dan pikiran saya ketika saya bersama Koko pergi ke Manila menghadiri sebuah seminar internasional. Saya bertemu di sana dengan sarjana-sarjana kenamaan seperti Clifford Geert2 yang pernah melakukan penelitian tentang santri dan abangan di Jawa Timur, Dr. Bellah yang dipandang sebagai ahli sosiologi agama di Amerika Serikat, Dr. Dube juga seorang ahli sosiologi dari India Dr. Cesar Majul seorang ahli Islam Filipina.

Selama beberapa hari kami asyik bertukar pikiran tentang masalah agama dan kebudayaan di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kegunaan seminar saya Iihat semata-mata dari sudut kebutuhan menambah pengetahuan dan informasi. Ibarat accu mobil sekali-sekali perlu diisi, maka begitu pula sikap saya terhadap seminar.

Kembali di tanah air saya dengar tentang telah berlangsungnya pertemuan antara Presiden Sukarno dengan PM Tengku Abdul Rahman di Tokyo pada tanggal 2 Juni. Mereka bertemu di tempat kediaman Menteri Luar Negeri Jepang Masayoshi Ohira. Sebuah komunike bersama dikeluarkan yang menyatakan kembali kepercayaan kepada : Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dengan Persekutuan Tanah Melayu yang ditandatangani pada tahun 1959. Presiden pergi dari Tokyo ke Wina dan tiba di Ibu kota Austria pada tanggal 4 Juni. Dua hari kemudian tanggal 6 Juni ia merayakan hari ulang tahunnya ke-62,

Apakah pertemuan di Tokyo berarti ketegangan dengan Malaya menjadi berkurang? Belum tentu. Setibanya Menteri Luar Negeri Subandrio di Kemayoran tanggal 5 Juni ia menerangkan kepada pers, “Indonesia akan tetap menentang pembentukan Malaysia”. Keesokan harinya tanggal 6 Juni Subandrio menuju ke Manila memimpin delegasi Indonesia di komperensi tingkat Menlu Indoneia Filipina-Malaya yang dimulai tanggal 7 Juni. Perundingan tingkat Menlu berjalan dan tanggal12 Juni pers menyiarkan beberapa sudut runcing masih harus diratakan antara delegasi Indonesia, Filipina dan Malaya di Manila untuk membulatkan pendirian mereka.

Pada asasnya usul delegasi Filipina dapat disetujui Usul itu ialah untuk membentuk sebuah konfederasi dari ketiga rumpun melayu. Indonesia dan Malaya sebenarnya lebih menyukai apabila kerja sama antara ketiga negara itu pada taraf sekarang ini tidak berbentuk federasi. Tetapi pikiran membentuk apa yang dinamakan Maphilindo telah diajukan dan ditanggapi dengan baik oleh pihak bersangkutan. Menurut “Antara”, kalangan yang mengetahui mengatakan, mungkin sebuah badan musyawarah akan dibentuk untuk membina kerjasama antara ketiga negara.

Dalam pada itu koran-koran penuh dengan betita tuntutan berbagai organisasi, terutama dari golongan kiri supaya pemer.intah menurunkan harga-harga dan tarif yang kini meningkat. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 372-374.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*