PERUNDINGAN TIDAK MENCAPAI KEMAJUAN

PERUNDINGAN TIDAK MENCAPAI KEMAJUAN[1]

 

25 Maret 1962

Setelah kemarin dua jam lamanya diadakan pertemuan di Istana Bogor, Menteri Luar Negeri Subandrio menerangkan kepada pers, “Perundingan rahasia antara Indonesia dengan Belanda mengenai masalah Irian Barat pada umumnya boleh dikatakan sama sekali tidak mencapai kemajuan.”

Minggu yang lalu diadakan perundingan dekat Washington dan kemudian para perunding melakukan reses untuk berkonsultasi dengan masing-masing pemerintah. Adam Malik yang mengetuai delegasi Indonesia kembali ke Jakarta menyampaikan laporan dan tiba hari ini. Laporannya sama semangatnya dengan apa yang diutarakan oleh Subandrio tadi.

Dapat dibayangkan sejak semula perundingan akan buntu. Indonesia hanya mau berunding dengan formal apabila atas dasar penyerahan kedaulatan serta pemerintahan atas Irian Barat kepada Indonesia. Mengenai ini pihak Belanda masih memperlihatkan sikap perlawanan yang keras. Saya mempunyai firasat soal Irian Barat ini akan meledak juga berwujud perang.

Beberapa waktu yang lalu Sir Leslie Munro, Sekretaris Jenderal Komisi Yuris-yuris Internasional mengunjungi Indonesia dan kemudian memberikan wawancara yang disiarkan oleh Radio Australia. Menurut siaran itu, Sir Leslie telah memprotes kepada MKN Nasution tentang peristiwa penangkapan terhadap bekas Perdana Menteri Sjahrir dan lain-lain serta terhadap tidak adanya kebebasan pendapat umum. di Indonesia yang ditindas baik di kanan maupun di kiri.

Sir Leslie mengatakan, jika protesnya tidak diindahkan, dalam makna tidak segera dilepaskannya kembali para tahanan politik tadi atau dibawa ke depan pengadilan, maka Komisi Yuris-yuris Internasional yang beranggotakan sebanyak 40.000 ahli hukum di seluruh dunia akan melancarkan protes resmi kepada pemerintah Republik Indonesia. Ada orang yang bertanya kepada saya apakah keterangan Sir Leslie tadi ada hubungannya dengan dipindahkannya Sjahrir baru-baru ini ke Madiun? Saya menjawab tidak mengetahui tentang hal itu. Konon Hasjim Ning telah membicarakan dengan Presiden bahwa penahanan terhadap Sjahrir tidaklah tepat. Presiden mengatakan kepada Hasjim:

“Ik zal zien wat ik eraan kan doen, voor zover het nog mogelijk is om wat te doen.

Ini berarti Sukarno sudah bersilepas tangan atas keadaan Sjahrir? (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 195-196.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*