PERUNDINGAN PENDAHULUAN TENTANG IRIAN BARAT

PERUNDINGAN PENDAHULUAN TENTANG IRIAN BARAT[1]

 

15 Maret 1962

 

Setelah mengadakan sidang kabinet tanggal 12 Maret pemerintah Belanda di Den Haag mengumumkan menerima baik usul Amerika Serikat mengadakan perundingan pendahuluan dalam waktu yang singkat antara Nederland dan Indonesia dengan dihadiri oleh peninjau pihak ketiga untuk mencari penyelesaian masalah Irian Barat.

Kemarin Menteri Luar Negeri Subandrio dengan mengenakan pakaian seragam selaku Laksamana Muda Udara Tituler terbang ke Bali menemui Presiden Sukarno yang lagi beristirahat di sana. Sekembalinya dari sana Subandrio menerangkan kepada pers, “Presiden Sukarno dapat menerima usul pemerintah AS untuk mengadakan pertemuan rahasia dan informal antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat.” Perundingan pendahuluan mungkin akan diadakan di sebuah tempat dekat Washington.

Dalam pertemuan Halal Bihalal dengan pegawai-pegawai Deparlu kemarin dulu Dr. Subandrio mengemukakan:

“Sekali kita dapat menyelesaikan soal keamanan dan Irian Barat, maka pembangunan akan berjalan pesat dan cepat.”

Wakil Menteri Pertama Bidang Distribusi Dr. J. Leimena mengatakan:

“Tri program Pemerintah dan Tri Komando Rakyat harus selesai tahun 1962 ini sehingga pada waktu ayam berkokok tanggal 1 Januari 1963 menyingsinglah fajar yang terang.”

Saya belum melihat tanda-tanda akan adanya fajar yang terang itu. Kemarin dulu harga beras di Jakarta tercatat Rp 62,50 per kilo. ”Antara” mencatat situasi harga di pasar Jakarta sesudah Lebaran dan mewartakan sabun cuci, sabun mandi, minyak kelapa hilang dari pasar. Telur ayam sebulan yang lalu berharga Rp 4 ,00 per biji, kini jadi Rp 8,00. Daging naik dari Rp 60,00 per kg sebulan lalu menjadi kini Rp 120,00. Terigu dari Rp 40,00 sekilo meloncat jadi Rp 100,00. Ayam betina seekor dari Rp 60,00 menjadi Rp 150,00. Harga rokok sebungkus “Lancer” kini mencatat Rp 20,00, rokok “Escort” idem, “Commodore” Rp 25,00 Dengan kenaikan harga yang luar biasa di pasaran itu konsumen, terutama yang terdiri dari buruh yang menerima upah berada dalam keadaan harus menekan lagi anggaran rumah tangganya yang sudah lam a tertekan itu, tulis “Antara”.

Baru-baru ini Bung Hatta memberikan keterangan kepada pers di Wina. Hatta menyokong politik Sukarno dalam soal Irian Barat. Akan tetapi di samping itu dia mengecam keadaan di dalam negeri yang disebabkan oleh kebijaksanaan Sukarno seperti keadaan di biaang ekonomi. Keterangan Hatta itu tidak disiarkan dalam pers dalam negeri (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 189-190.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*