PERTEMUAN PERTAMA KTT TIGA NEGARA DITOKYO GAGAL

PERTEMUAN PERTAMA KTT TIGA NEGARA DITOKYO GAGAL [1]

 

21 Juni 1964

 

Pertemuan pertama Konperensi Tingkat Tinggi (KIT) di Tokyo yang dihadiri oleh Presiden Sukarno, Presiden Macapagal dan Tengku Abdul Rahman diadakan kemarin. Pertemuan itu gagal. Menurut berita pers, Presiden Sukarno dalam pidato pembukaannya yang singkat langsung mengatakan bahwa seperti 1.000 kali telah dikatakannya pembentukan “Malaysia” seperti sekarang telah ditentang oleh Indonesia karena cara pembentukannya bertentangan dengan Persetujuan Manila. Macapagal kabarnya mencoba menyabarkan Sukarno tetapi tidak berhasil.

Ternyata antara Jakarta dengan Kuala Lumpur terdapat kebuntuan total sedangkan antara Indonesia dan Filipina terdapat persetujuan sepenuhnya. Dalam KIT itu Macapagal mengusulkan pembentukan sebuah komisi negara­negara Asia-Afrika yang akan mencari jalan mengakhiri sengketa. Usul Macapagal diterima oleh Indonesia sedangkan Tengku Abdul Rahman menyatakan dia menerima usul tersebut pada prinsipnya “tetapi dengan syarat bahwa segala tindakan permusuhan terhadap Malaysia dihentikan.

“Tengku mengatakan kemudian kepada pers di Hong Kong dalam perjalanannya kembali ke Kuala Lumpur : “KTI Tokyo gagal karena Presiden Sukarno tidak bersedia memberi sesuatu apa pun” Yang dimaksudkannya ialah Indonesia tidak bersedia memberikan konsesi dalam soal penarikan mundur pasukan Indonesia dari Kalimantan Utara.

Dr. Subandrio menyatakati kepada pers setibanya di Jakarta dari Tokyo : “Bagi kita bangsa Indonesia hasil pertemuan Tokyo sangat menguntungkan karena kita kini tidak lagi terikat kepada janji-janji apa pun mengenai masalah konfrontasi dan pengganyangan terhadap “Malaysia”. Kita sekarang bebas melanjutkan konfrontasi dan pengganyangan terhadap Malaysia. Presiden sendiri juga tiba di Kemayoran pada tanggal 21 Juni. Rupanya dia hendak menerima kedatangan Wakil PM Uni Soviet Anastas Mikoyan  pada tanggal 22 Juni. Mikoyan kabarnya datang atas undangan DPR/MPRS dan berniat hendak tinggal selama 10 hari di Indonesia. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 465-466.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*