Persiapan Penumpasan PKI Madiun (4): Kekuatan Pasukan yang Dikerahkan

Persiapan Penumpasan PKI Madiun (4): Kekuatan Pasukan yang Dikerahkan [1]

 

Pada waktu terjadinya perebutan kekuasaan tanggal 18 September 1948 di Madiun, Panglima Besar Jenderal Soedirman sedang berada di Magelang, sedangkan Kolonel A.H. Nasution Kepala Stafnya berada di ibu kota Yogyakarta. Setelah mendapat berita adanya perebutan kekuasaan di Madiun, Kolonel Nasution segera menghadap Presiden di Istana bersama Mr. Ali Sastro Amidjojo, Menteri Pendidikan. Di Istana sudah hadir pula Menteri Negara Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Presiden kemudian menugasi Nasution untuk menyusun rencana operasi berdasarkan instruksi Presiden.[2]

Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang menginstruksi kan untuk merebut kembali Madiun dan membasmi para pemberontak lewat pidato radio pada pukul 22.00 tanggal 19 September 1948. Setelah pidato radio itu, di Markas Besar Tentara (MBT) berlangsung rapat yang dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan para perwira Staf MBT guna menggariskan petunjuk operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun kepada kesatuan-kesatuan TNI. Dengan dilancarkannya operasi tersebut, diharapkan Madiun dan kota-kota sekitarnya dapat dikuasai kembali.

Di samping itu Panglima Besar Jenderal Soedirman menyampaikan Perintah Hariannya lewat RRI Yogya. Isinya antara lain menunjuk Kolonel Soengkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur dengan tugas untuk mengembalikan kedaulatan Republik.[3]

Kolonel Gatot Soebroto yang sejak tanggal 16 September 1948 diangkat menjadi Gubernur Militer II untuk daerah Madiun, Surakarta, Semarang, Pati, mendapat perintah melaksanakan operasi militer menumpas pemberontakan di Madiun. Kolonel Gatot Soebroto memberitahukan kepada Panglima Kesatuan Reserve Umum (KRU) Kolonel drg. Moestopo bahwa sebagian pasukan KRU-Z bersama pasukan lainnya akan ditugasi melaksanakan operasi penumpasan. Kesatuan Reserve Umum (KRU) dibentuk pada bulan Mei 1948. Kesatuan cadangan ini terdiriatas pasukan yang baru hijrah dan pasukan yang direorganisasi. Sebagai Panglima KRU ditunjuk Kolonel A.H. Nasution dan Letnan Kolonel Abimanyu sebagai Kepala Staf KRU. Panglima KRU kemudian diserah terimakan kepada Kolonel drg. Moestopo. KRU terdiri atas kesatuan-kesatuan cadangan, yaitu KRU-X (Seberang) berkekuatan2 brigade, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel G. Lembong, KRU-Y (Tentara Pelajar Laskar) dipimpin oleh Kolonel Holand Iskandar, dan KRU-Z (Divisi Siliwangi) pimpinannya dirangkap oleh Panglima KRU.[4]

Operasi penumpasan dipimpin langsung oleh Gubernur Militer Panglima Divisi II Kolonel Gatot Soebroto. Panglima KRU Kolonel drg. Moestopo ditetapkan pula sebagai Wakil Panglima Operasi sedang Letnan Kolonel Abimanyu Kepala Staf KRU ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi yang dibantu oleh beberapa orang asisten, yaitu Mayor Abdul Kadir, Mayor Taswin, menjadi Staf dari Gubernur Militer II.

Adapun Pasukan KRU-Z yang dikerahkan untuk operasi ini berkuatan tiga brigade, yaitu: Brigade -12, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Koesno Oetomo, berkekuatan 4 batalyon, berkedudukan di Yogyakarta Brigade – 13, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Sadikin, berkekuatan 4 batalyon, berkedudukan di Solo Brigade – 14, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Edie Sukardi berkekuatan 3 batalyon, berkedudukan di Magelang Brigade-12, mempunyai kekuatan 4 Batalyon, yaitu Batalyon Daeng dengan Komandan Batalyon Mayor Daeng Mohammad Ardiwinata, berkedudukan di Rewulu, Godean. Batalyon Achmad Wiranatakusumah berkedudukan di Beran Sleman. Batalyon Kosasih dengan Komandannya Kapten R.A. Kosasih dan Batalyon Kemal yang dipimpin oleh Mayor Kemal Idris berkedudukan di Yogyakarta.[5] Brigade-13, semula berkekuatan 4 batalyon. Satu batalyon yaitu Batalyon Rukman telah diperintahkan meninggalkan Jawa Tengah untuk melaksanakan gerakan Wingate ke Jawa Barat. Yang tinggal adalah Batalyon Sambas, Batalyon Umar, dan Batalyon Sentot.

Batalyon Sambas, berkedudukan di Tasikmadu dengan Komandan Batalyonnya Mayor Sambas Atmadinata. Batalyon ini terdiri dari 3 kompi teritorial, 1 kompi senjata bantuan serta 1 kompi markas. Adapun para perwira yang menjabat sebagai komandan kompi teritorial tersebut, ialah Kapten Sumantri, Kapten Syafei, Kapten E. Dachyar. Sedang Kapten Mursjid menjabat Komandan Kompi Bantuan dan Kapten Darsono sebagai Komandan Kompi Markas merangkap Wakil Komandan Batalyon dan seorang perwira Staf Letnan Tatang Aruman. Sedangkan Batalyon Umar, yang berkedudukan di Colomadu, dengan Komandan Batalyon Mayor Umar Wirahadikusumah. Batalyon ini terdiri dari 4 Kompi Senapan. Komandan-komandan kompinya adalah Kapten Oking, Kapten Lucas Kustarjo, Kapten Suparjono, Kapten Mustopo. Batalyon Sentot, berkedudukan di Sragen dengan komandan Batalyon Mayor Sentot Iskandardinata. Para komandan Kompinya adalah Letnan Satu Komir, Letnan Satu Amir Machmud, Letnan Satu Awi Somali, dan Letnan Satu Wasita Kusumah.

Brigade-14, berkekuatan 3 batalyon dan berkedudukan di Magelang, yaitu Batalyon Sudarman, Batalyon Rivai, dan Batalyon Huseinsyah. Pada bulan September 1948 menjelang pecahnya pemberontakan PKI, kepada Brigade ini di bawah perintahkan satu Batalyon Pengawal Markas Besar Tentara (MBT) berkekuatan 4 kompi yang dipimpin oleh Mayor Nasuhi.[6]

Di samping kekuatan yang berasal dari Kesatuan Reserve Umum-Z (KRU-Z), atau Divisi Siliwangi, ikut pula dikerahkan 4 Kompi Kesatuan Taruna Militer Akademi (MA) Yogya, yaitu Kompi S, Kompi T, Kompi U dari Taruna Angkatan Pertama dan Kompi R dari Angkatan Kedua. Dua Kompi Angkatan Pertama dijadikan dua detasemen. Satu detasemen di bawah perintahkan (B/P) pada Batalyon Nasuhi, sedangkan satu detasemen lainnya sebagai detasemen berdiri sendiri (B/S). Taruna Angkatan Kedua ini yang diikutsertakan dalam operasi saat itu sebenarnya sedang melaksanakan pendidikan radio telegrafi, bahasa asing dan sekolah olah raga (SORA) di Sarangan,[7] Dari pasukan Panembahan Senopati diperbantukan Batalyon Sumadi, berkedudukan di Manahan, untuk memperkuat pasukan yang dipersiapkan bergerak ke Madiun. Dengan demikian jumlah kekuatan pasukan kita untuk melakukan operasi penumpasan dad arah barat adalah 12 batalyon

***

 

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Jenderal A.H. Nasution, TNI, Jilid 2, Seruling Masa, Djakarta, 1968, ha1 238

[3]     Wawancara dengan Mayor Jenderal TNI (Purn) Soengkono, Jakarta, 4 Mei 1976

[4]     AH. Nasution, op.cit.,haI. 237

[5]     Disjarahdam VI/Siliwangi, Siliwangi Dan Masa ke Masa. Angkasa, Bandung 1979, hal. 127

[6]  Batalyon Pengawal Markas Besar Tentara (MBT) semula dipimpin oleh Mayor Sudarto (kemudian diangkat sebagai Komandan Brigade-17, Letkol Sudarto dan Wakilnya Kapten Nasuhi, wawancara dengan Mayjen Mung Parhadimulyo, Jakarta, 28 Januari1989)

[7]     Kompi “R” Korps Taruna Akademi Militer Nasional (MA) Yogya, menghadapi Madiun

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*