Persiapan Pemberontakan Bersenjata

Pemberontakan Bersenjata PKI Blitar Selatan dan Penumpasannya (2):  Persiapan Pemberontakan Bersenjata[1]

 

 

Setelah PKI mengalami kegagalan dalam pemberontakan G30S/ PKI tahun 1965 dan telah dibubarkan beserta ormas-ormas yang bernaung di bawahnya serta dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia dengan Keputusan Presiden No.1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966, maka banyak sisa -sisa tokoh PKI menyembunyikan diri sesuai dengan Tripanji-nya. Namun mereka tetap berusaha untuk menghidupkan kembali partainya dan melakukan aktivitas seeara ilegal. Mereka tidak pernah menganggap bahwa partainya bubar, dan berusaha menyusup ke berbagai macam bidang kehidupan secara ilegal dengan memperkecil grup-grup pimpinan partai.

Mereka mempraktekkan strategi dan taktik gerilya Mao Ze Dong yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi PKI ketika sedang menghadapi kehancuran. Agar mudah dipahami pengikutnya, ajaran itu disederhanakan menjadi “ngalah, ngalih, ngalas, dan ngantem” (mundur, pindah, bersembunyi di hutan dan menghantam). Setelah mengalami kehancuran, mereka mengkonsolidasikan kembali kekuatannya di daerah yang terisolasi atau di hutan-hutan (ngalas), kemudian dipergunakan untuk menghantam dari belakang (ngantem).[2] Para pemimpin PKI beserta kader-kadernya yang belum tertangkap, berusaha pindah ke tempat-tempat persembunyian yang aman untuk menyelamatkan diri, dan mengkonsolidasi kembali partainya secara ilegal, baik di tingkat pusat maupun daerah. Mereka membuat evaluasi tentang daerah-daerah mana saja yang sekiranya cocok untuk dijadikan proyek basis untuk melaksanakan taktik dan strategi sesuai dengan ajaran Mao Ze Dong yang dikenal “Dari Desa Mengepung Kota”. Mereka berusaha mengintensifkan pengacauan dengan membentuk regu-regu kerja yang sifatnya rahasia dan tertutup. Regu-regu tugasnya melakukan pengacauan di bidang politik, sosial, dan ekonomi. PKI mempersiapkan kader-kader pilihannya yang terlatih sesuai dengan bidang kerjanya, yaitu:

  1. KKM (Kerja di Kalangan Musuh) yaitu regu yang tugasnya bekerja di kalangan musuh untuk membina kembali PKI dengan jalan infiltrasi ke tubuh pemerintah dan lembaga­lembaganya termasuk menyusup dan bekerja dikalangan ABRI, ormas/orpol, kesatuan-kesatuan aksi mahasiswa dan lain-lain.
  2. Rekastra (Regu Kader Strategi), adalah regu kerja yang bertugas menyusun dan melaksanakan strategi pengacauan, antara lain mengumpulkan senjata. Hal ini dilakukan oleh PKI dengan jalan mencuri atau merampok gudang senjata. Rekastra dalam kota yang merupakan gerombolan bersenjata PKI gelap bergerak mobil ke beberapa tempat. Unit terkecil disebut sebagai Kastra (Kader strategi). Rekastra berkekuatan + 25 orang.
  3. Repan (Regu Penculik) atau regu yang melaksanakan penculikan-penculikan terhadap musuh-musuh PKI yang berada di kalangan masyarakat dan membahayakan atau dapat membongkar segala rahasia gerakan. Regu ini berkekuatan sebesar dua detasemen gerilya (Detga).
  4. Retera (Regu Telekomunikasi dan Radio Amatir) adalah regu kerja yang bertugas mengadakan pengacauan telekomunikasi dan radio, seperti menganggu gelombang-gelombang siaran RRI dan sabotase sarana telekomunikasi.
  5. Rekam (Regu Kereta Api dan Mobil) adalah regu kerja yang bertugas mengacau bergelindingnya rada-rada kereta api di atas relnya serta penghadangan-penghadangan terhadap mobil-mobil yang lewat.
  6. 3P (penculikan, penggarongan, perkosaan) adalah regu kerja yang tugasnya lebih menjurus ke arah perbuatan kriminalitas untuk mengaeau ketertiban dan keamanan masyarakat.[3]

Dari kesemua gerakan pengacauan tersebut, PKI lebih mengutamakan pengacauan bidang ekonomi.

Untuk melaksanakan semua pengacauan itu, PKI membagi daerah-daerah operasinya dalam tiga daerah yang sifat dan pelaksanaannya berbeda-beda. Jauh sebelum kudeta Gerakan 30 September/PKI, mereka telah melakukan survei ke daerah­daerah yang diistilahkan turba (turun ke bawah). Ternyata mereka mensurvei daerah pengunduran, yaitu daerah-daerah sebagai tempat mengamankan partai jika sewaktu-waktu keadaan berubah. Daerah yang direneanakan untuk diproyeksikan menjadi daerah yang dibebaskan (liberated area) terdapat di J awa Barat, J awa Tengah, maupun J awa Timur. Hasil survei tersebut menilai bahwa Sukabumi Selatan di Jawa Barat, bekas tempat kegiatan gerombolan kiri Bambu Runcing dianggap sebagai calon “liberated area” yang paling cocok. Di Jawa Tengah, daerah Merbabu Merapi Kompleks dipilih sebagai daerah yang paling baik. Sedangkan di Jawa Timur pilihan jatuh pada daerah Blitar Selatan, karena daerah ini adalah tempat yang terisolasi dan merupakan basis massa PKI sejak 1948 dan sesudah Pemilu 1955.[4]

Daerah kantong dipilih Jawa Barat, Jakarta dijadikan daerah gerilya atau daerah lampu merah.[5] Oleh karena itu dalam rangka pembinaan kekuatan (machtsvorming), sisa-sisa Gestapu/PKI mengumpulkan tokoh-tokoh pusatnya di Jawa Timur. Daerah Blitar Selatan dipilih sebagai temp at markas gerakan. Dari hasil pemeriksaan terhadap para tokoh yang berhasil ditangkap, dapat diketahui sebab-sebab digunakan Blitar Selatan sebagai basis gerakan. Pertama, daerah tersebut sangat strategis dan dari daerah itu dapat memberikan komandonya ke seluruh Indonesia.

Kedua, daerahnya ideal untuk melakukan gerilya. Ketiga, daerah tersebut adalah basis massa PKI sejak tahun 1948 dan sesudah Pemilu 1955.

Pada awal Februari 1966 pihak Kepolisian di Pekalongan berhasil membongkar organisasi PKI gelap yang bernama Ikatan Bajing Ulung atau disingkat IBU. Organisasi gelap ini sudah tersebar di seluruh daerah Pekalongan. Mereka bertugas merampok dan membunuh penduduk yang mereka pandang kaya. Organisasi gelap tersebut menggunakan para bekas narapidana (residivis). Sebelum mereka melancarkan aksinya, pihak Polri telah berhasil menggulung organisasi ini. Dari hasil pemeriksaan diketahui oorganisasi pengacau keamanan ini dipimpin oleh seorang anggota PKI Batang (Pekalongan) bernama Sadar, Lurah desa Kesepuhan. Sadar juga mengaku bahwa di samping IBU masih ada organisasi lain yang bernama “Rahasia Kucing Hitam” (RKH). Organisasi ini tugasnya menculik dan membunuh, sedangkan kelompok lain bernama GAS bertugas membakar rumah orang-orang kaya.[6]

Sementara itu pada tanggal 26 Mei 1966, sisa-sisa PKI juga mengadakan aksi-aksi kekacauan yang mengakibatkan terjadinya bentrokan fisik di Yogyakarta. Mereka menamakan skenario yang berhasil itu dengan kode “hujan gerimis”, sedang skenario yang berkode “hujan lebat” yang direncanakan gagal, karena mereka keburu ditangkap. Dari pengakuan pelaku yang ditangkap, untuk melancarkan aksi-aksi itu, mereka memperoleh biaya dari perkebunan teh dan panili di Tawangmangu dan di daerah Wonosobo, di samping dapat bantuan dari seorang warga negara asing di Solo.

Di Semarang, kader PKI bernama Sukirno alias Sumanto alias Kadir pada pertengahan 1967, mengaku berhasil membentuk “batalyon” yang anggotanya terdiri atas pegawai-pegawai dan buruh pada kantor Pos dan Telekomunikasi, PJKA, pabrik gula “Rendeng”, “pencari puntung rokok”, dan beberapa orang anggota sebuah partai di kota tersebut.[7] Mereka itu masih mendapatkan buletin-buletin gelap dari Jakarta, antara lain buletin-buletin Tri Panji Partai, Genderang, Partisan, dan Mimbar Rakjat. Organisasi membuat surat keterangan palsu, sehingga anggotanya dapat dengan aman melakukan usahanya membina kembali kekuatan PKI. Sukirno juga mengaku mempergunakan tenaga-tenaga bekas tahanan Gestapu/PKI karena dianggap sebagai tenaga-tenaga yang terpercaya dan militan.

Aktivitas kader-kader PKI secara perorangan dalam pelbagai bentuk itu dikategorikan sebagai Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka menyamar sebagai pencari puntung, kenek bus, pembantu rumah tangga, bahkan santri, ustad, dan pedukunan. Tugasnya adalah ber KKM atau mengorganisasi penjahat, pelaku kriminal, membentuk pedukunan klenik (perguruan mistik). Praktek dukun klenik ini diketemukan di daerah Banten, Bogor, dan Cirebon yang terkenal dengan nama “Gerakan Togog”, yaitu perguruan mistik gerilya politik PKI yang mengajarkan klenik, memberikan ceramah-ceramah politik, dan pembahasan situasi. Propaganda politik semacam ini ditanamkan kepada murid-murid dengan menggunakan ilmu-ilmu yang katanya dapat membuat kebal dan sakti.[8]

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid V: Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-Sisanya (1965-1981), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Berita Yudha, 14 April 1967

[3]     Angkatan Bersendjata, 5 Juni 1968

[4]     Mayjen TNI Soebijakto, op.cit., hal.40

[5]     Angkatan Bersendjata, 5 Juni 1969

[6]     Angkatan Bersendjata, 15 Maret 1967

[7]     Berita Yudha, 2 Juni 1967

[8]     Angkatan Bersendjata, 15 Maret 1967

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*