“PERSETUJUAN PENDAHULUAN”TERCAPAI

“PERSETUJUAN PENDAHULUAN”TERCAPAI [1]

 

7 Agustus 1962

Dua hari lagi Menteri Luar Negeri Subandrio akan berangkat ke Washington memulai perundingan formal dengan Belanda. lni keputusan sidang gabungan Dewan Pertahanan Nasional dan Musyawarah Pimpinan Negara yang diadakan di Bogor tanggal 5 Agustus.

Subandrio dan Van Royen dalam perundingan-perundingan pada akhir bulan Juli lalu mencapai “persetujuan pendahuluan” atau preliminary agreement dan hasil pembicaraannya itulah yang dilaporkannya dalam sidang di Bogor tadi. Ternyata waktu peralihan dua tahun seperti digariskan dalam usul Bunker diperpendek menjadi sembilan bulan.

Jadi dalam waktu sembilan bulan setelah ditandatanganinya nanti persetujuan antara Belanda dan Indonesia, maka administrasi atas Irian Barat akan diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah RI. Ini akan terjadi dalam bulan Mei 1963. Sesudah tanggal 18 September 1962 Sekjen PBB U Thant akan mengirimkan seorang utusan PBB ke Irian Barat untuk mengambil alih jabatan menggantikan Gubernur Belanda di Irian Barat.

Kira-kira tanggal 1 Oktober pemerintahan Belanda di Irian Barat akan berakhir bersama dengan penarikan mundur pasukan-pasukan Belanda di Irian Barat. Pegawai-pegawai Belanda kemudian diganti oleh pegawai-pegawai PBB. Bendera Merah Putih akan dikibarkan bersama-sama dengan janji­-janji PBB. Pasukan-pasukan Indonesia akan disediakan bagi PBB. Kepada rakyat Irian Barat akan diberikan hak memilih dengan bebas tidak lebih Iambat dari tahun 1969.

Bagaimanakah lantas preliminary agreement ini dicocokkan dengan janji Presiden “sebelum ayam berkokok tanggal 1 Januari 1963 Irian Barat sudah ada di tangan kita ?” Ini tentu jadi persoalan Sukarno sendiri.

Dalam sidang di Bogor, Sukarno berhasil mendesakkan supaya preliminary agreement diterima sebagai “alat perjuangan Trikora“. Apa artinya ini, wallahu’alam. Presiden menanyakan bagaimama pendapat M .H. Lukman, Wakil Ketua PKI yang hadir dalam sidang di Bogor selaku Menteri/Wakil Ketua DPR-GR. Lukman menjawab dengan memberikan  uraian panjang Iebar. Tetapi Presiden memotong uraian Lukman dan bertanya,

“Terima apa tidak, selaku alat perjuangan Trikora? “Lukman dengan berat hati menerimanya. Kemudian Presiden bertanya kepada ketua PKI DN Aidit dan Aidit menjawab segera: “Bisa menerima “.

Pihak Angkatan Perang tidak berkata apa-apa, berarti mereka juga menerima preliminary agreement. Kalangan yang mengetahui mengatakan, tadinya ALRI dan AURI mempunyai niat meneruskan invasi ke Irian Barat sebab persiapan-persiapan ke arab itu sudah jauh sekali jalannya. KSAL Martadinata yang baru kembali dari daerah Mandala melakukan inspeksi mengatakan anggota-anggota ALRI yang bertugas di sana sudah-banyak yang pakai brewok dan jenggot perjuangan seperti di zarilan revolusi dulu. Tetapi semangat menyala-nyala dari ALRI dan dari sebagian penerbang AURI dapat didinginkan oleh Presiden.

Pihak PKI tentu tidak senang dengan preliminary agreement karena itu berarti perang tidak di meletus di Irian Barat. Dan hal itu bertentangan dengan keinginan Moskow. Tetapi menyatakan oposisi terang-terangan rupanya PKI tidak berani.

Dalam sidang di Bogor itu setelah Subandrio memberikan laporannya tentang perundingannya di Washington akhir bulan Juli lalu selama satu jam, Presiden mengusulkan kepada yang hadir untuk menyampaikan salut kepada Subandrio atas hasil diplomasinya. Hadirin lalu bertepuk tangan. Ini tentu berarti juga hadirin harus memberikan salut kepada Sukarno yang kini dapat mengatakan adalah berkat politiknya itu, maka Irian Barat dapat dikembalikan kepada Republik Indonesia.

Sementara itu dalam kalangan masyarakat politik di Ibukota diketahui juga bagaimana Presiden John F. Kennedy telah ikut campur tangan dalam perundingan Indonesia-Belanda. Kennedy mengadakan pembicaraan dengan Subandrio tatkala kelihatan perundingan akan macet. Dengan terus terang ia memberitahukan, jika Indonesia melakukan perang di Irian Barat, maka Amerika Serikat akan berpihak kepada Belanda. Ia  mengatakan ia tahu kapal-kapal selam ALRI sebagian mempunyai awak kapal pelaut-pelaut Rusia dan itu  berarti Amerika harus menarik konsekuensinya apabila Indonesia benar-benar sampai melancarkan invasi ke lrian Barat.

Duta Besar AS Howard Jones pada tanggal 28 Juli dikabarkan menemui Presiden. Ia mengatakan jika pecah perang di Irian Barat, maka AS terpaksa mengerahkan kapal-kapalnya untuk “mengungsikan penduduk preman dari Irian Barat.”

Semua ini menunjukkan tekanan cukup diberikan oleh AS guna menahan Indonesia jangan sampai menceburkan diri kedalam kekerasan senjata. Tetapi juga pihak Belanda mendapat tekanan seperlunya dari AS sehingga terpaksa menerima preliminary agreement. Ketika Subandrio bertemu dengan Van Royen dan ia menerangkan tentang tuntutan Indonesia supaya sebelum akhir 1962 Belanda sudah menyerahkan pemerintahan atas Irian Barat kepada RI, maka Van Royen menjawab Belanda telah mengalah praktis dalam segala hal.

“Tetapi janganlah pula meminta hal yang demikian kepada kami. Wees niet zo onmeedogenloos (Janganlah bersikap begitu kejam),” ujar Van Royen. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 245-248.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*