Perkembangan Komunis Internasional

Perkembangan Komunis Internasional [1]

 

Pihak komunis sesuai dengan cita-citanya untuk mengkomuniskan umat manusia teIah berusaha membentuk organisasi internasional yang bertugas mengkoordinir seluruh kegiatan komunis yang diperkirakan akan tumbuh di setiap negara di dunia ini. Dalam rangka mengkomuniskan seluruh umat manusia inilah maka didirikanlah Internatianale[2] yang dalam perkembangannya dikenal sebagai komintern seperti yang kita kenaI sekarang ini, yang akan kita bahas berikut ini.

1 . Internationale I di London Tahun 1864

Untuk membeda-bedakan dengan gerakan-gerakan sosialisme lainnya, Karl Marx mengatakan bahwa ajarannya merupakan sosialisme ilmiah. Karena sernakin banyaknya gerakan-gerakan sosialisme Eropa, maka diadakan Kongres lnternasional I tahun 1864 (nama sebenarnya Workingsman Association). Sumber ilham dari pada dibentuknya lnternationale I ialah hasil pemikiran Marx dan Engels yang diwujudkan dalam bentuk Manifesto Komunis yang antara lain berbunyi :

“Kaum komunis tak perlu menyembunyikan pendapat dan maksudnya, dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merobohkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Hendaknya golongan yang berkuasa gemetar di hadapan revolusi komunis. Kaum buruh (yang miskin) tak akan kehilangan apa-apa kecuali belenggu mereka Proletarier aller lander, verenigt euch! Burnh sedunia bersatulah!”[3]

Namun setelah lnternationale I tahun 1864 ternyata masih terdapat aliran-aliran sosialisme antara lain yang terbesar adalah: Mark, Praudhan (Prancis), Baquin, Bukanen (Italia) dan Trade Union (Inggris).

Perbedaan aliran-aliran tersebut pada umumnya berkisar mengenai cara bertindak dalam mencapai tujuan :

        1)  Ada yang dengan cara Diktator Proletoriat

      2) Ada yang dengan cara Non Diktator Proletariat menguasai pemerintahan secara damai (perjuangan parlementer).

Adanya perbedaan-perbedaan dalam mencapai tujuan diantara aliran-aliran sosialisme tersebut, maka pada kongres tahun 1876 di Philadelpia lnternationale I dibubarkan.[4]

2. Internationale II Tahun 1887[5]

Organisasi komunis lnternasional II di Paris tahun 1887 dengan nama Sosial Demokrat. Pada waktu itu pada umumnya mereka mengikuti ajaran Marx. lnternationale II ini bersifat tidak terpusat. Dengan kata lain ada kerja sama Internasional, tetapi tidak ada suatu pimpinan pusat yang mendikte.Dengan diselenggarakan Kongres lnternasional II timbul aliran Berntein. Menurut aliran Berntein untuk memperbaiki nasib buruh atau berubah keadaan tidak perlu dengan pertentangan kelas 100%, karena nyatanya keadaan buruh akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 berlainan. Ajaran Berntein lebih mendekati realitas dan tidak dogmatis terhadap ajaran Marx. Pada tahun 1912 diadakan kongres di Bazel untuk mencegah Perang Dunia 1. Kalau perang tidak dapat dihindarkan lagi, maka supaya diadakan perlawanan dengan cara merombak susunan masyarakat di negeri masing-masing. Pendek kata jika terjadi perang, maka kaum Sosialis Demokrat harus mengadakan pemberontakan, mengadakan revolusi di negara masing-masing agar kemenangan dapat dicapai oleh kaum komunis. Pada waktu Perang Dunia I meletus kaurn buruh yang dipimpin oleh kaum Sosialis Demokrat ternyata tidak rnengadakan pemberontakan melainkan membela negaranya masing-masing, karena pertimbangan kepentingan nasionalnya. Pemberontakan hanya terjadi di Rusia dan beberapa ternpat di Jerman. Yang menonjol di sini ialah bahwa dalam keadaan perang dengan negara lain “kepentingan hidup bangsa sendirilah yang diutamakan”.[6]

3. Internationale III/Komintern Tahun 1919

Kegiatan komunis semakin menguat sejak awal abad 19, terutama di Eropa. Keadaan masyarakat Eropa menurut Charles Dickens sangat menyedihkan. Kaum wanita bekerja keras menarik tambang-tambang kapal sepanjang pinggiran kapal. Perempuan dan anak-anak menarik pedati yang penuh beban di pertambangan batu bara. Banyak anak-anak di bawah umur harus bekerja dua belas sampai lima belas jam sehari. Keadaan sosial dan kehidupan perekonomian yang semacam ini bagaimanapun juga telah memberikan peluang bagi pertumbuhan ajaran Marxisme ketika itu.

Pada tahun 1917 Revolusi Oktober meletus di Rusia, dalam revolusi itu kaum Bolswijk[7] telah berhasil menggulingkan kekuasaan Tsar dianggap sebagai kemenangan besar kaum Marxis-Leninis di seluruh dunia. Dengan berhasilnya perebutan kekuasaan di Rusia itu kaum komunis bertambah yakin akan seluruh teori Marx mengenai kemasyarakatan. Kemudian tidak mengherankan kalau gerakan komunis di seluruh dunia telah memilih Moskow sebagai pusat kegiatannya. Karena itu didirikanlah Internationale III atau sering disebut Komintern pada tahun 1919 yang berkedudukan di Moskow.

Timbulnya Kongres Internationale III karena adanya perpecahan dalam kalangan Sosial Demokrat yang tidak mentaati Kongres Bazel untuk mencegah Perang Dunia I. Menurut Internationale III masyarakat sosial tak mungkin terwujud dengan jalan parlementer melainkan dengan jalan perebutan kekuasaan dengan sistem Diktator Proletariat.

Menjelang meletusnya Perang Dunia II Rusia merupakan pimpinan tertinggi kegiatan komunis internasional yang langsung menentukan setiap usaha perjuangan kaum Marxis di berbagai negara.Meskipun gerakan Marxis itu telah diorganisir dalam bentuk Internationale III atau Komintern, namun di banyak negara gerakan komunis masih bersifat gerakan di bawah tanah.Komintern ketika itu lebih banyak memberikan petunjuknya dalam usaha penyerbuan komunisme secara ilegal. Taktik dan strategi komunis yang sedemikian itu pada dasarnya merupakan salah satu cara karena pihak komunis belum mendapat simpati yang meyakinkan dari rakyat suatu negara.

Karena itu cukup difahami, kalau Komintern secara kamuflase tidak segan-segan telah memberikan dukungannya kepada setiap gerakan revolusi yang meletus di berbagai negara, walaupun sebenarnya gerakan revolusi itu tidak ada sangkut pautnya dengan garis perjuangan komunis.Antara tahun 1918 dan 1927 timbullah gerakan revolusi di Firlandia, Austria, Jerman, Hongaria, Korea, Turki, Bulgaria, Marokko dan Syria.Perjuangan tersebut telah didukung sepenuhnya oleh Komintern dalam rangka mencari simpati rakyat yang baru mengadakan revolusi.

Di lain pihak organisasi Komintern langsung telah memberikan bantuannya terhadap gerakan kebangsaan yang tumbuh di berbagai negara yang masih berstatus negeri jajahan. Sebelum meletusnya Perang Dunia II, negara-negara Eropa tertentu banyak memilki jajahannya di Afrika, Timur Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Selain itu di wilayah belahan benua itu sendiri ada pula negara-negara tertentu yang secara khusus menguasai negara tetangganya.Suburnya dunia koloni pada waktu itu sedikit banyak telah memberikan angin baik bagi pertumbuhan dan perkembangan komunisme.

Jadi tidak mengherankan kalau kegiatan Komintern menjelang Perang Dunia II terutama diarahkan ke negara-negara yang masih terjajah. Dengan berbagai macam cara telah memasukkan pengaruhnya ke daerah-daerah jajahan dan negara-negara yang mulai menganut demokrasi liberal. Keuntungan bagi komunis di kedua daerah tersebut ialah di negara-negara terjajah ideologi ini dapat dijadikan alat pembakar semangat rakyat-rakyat yang sedang berusaha merebut kemerdekaannya. Sedang di negara-negara yang sudah menganut liberalisme, faham ini dapat saja hidup meskipun tidak begitu banyak pengikutnya.

Agen-agen Komintern dengan membawa ajaran Marxisme-Leninisme dengan segala tata cara perjuangannya telah memasuki wilayah Asia Tenggara antara lain Burma, Indo China, Malaya, Indonesia, dan Filipina. Sementara itu gembong- gembong komunisinternasional te1ah pula memasuki wilayah Tiongkok, India, negara­negara Arab dan Afrika. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara legal ataupun ilegal.[8]

[1] Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid I: Perkembangan Gerakan dan Pengkhianatan Komunisme di Indonesia (1913-1948), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999)

[2]. Internatianale adalah merupakan wadah pertama bagi orgagisasi-organisasi kaum Marxis yang saat Itu mulal bersemi di berbagai negara. Pada waktu Itu garis perjuangannya untuk membebaskan kaum proletar dari kaum borjuis dan kaum feodal serta meningkatkan martabat buruh yang dipandangnya telah diberlakukan sewenang-wenang oleh golongan kapitalis, lihat Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Komunisme dan kegiatannya di Indonesia, Jakarta, tahun 1985, hal. 4-5

[3] O. Hashem, Marxisme dan Agama, Japi, Surabaya, 1963 hal. 9

[4]Said Sissahadi, Tindakan Hukum Terhadap Pemberontakan PKI tahun 1948 dan G. 30 S/PKI tahun 1965, 1hesis, Gajah Mada, Yogyakarta, tahun 1965 hal. 32

[5]Arnold C. Brackman, Indonesian Communism a History, Frederik & Pruger, New York 1953, hal. 7

[6]Said Sissahadi, Op.Gi!,hal. 33

[7]Bolswijk adalah kekuatan masyarakat dalam partai Buruh Sosial Demokrat Rusia yang

kemudian berubah menjadi Partai Komunis Rusia pada awal tahun 1918, setelah dibentuk

Uni Soviet pada tahun 1922, namanya diganti menjadi Partai Komunis Uni Soviet,lihat

Lembaga Venelitian Universitas Pajajaran tahun 1994, Op.Cit.hal. 10

[8]Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (tho 1985), Op Cite, hal. 4-9

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*