Perencanaan Kudeta PKI 1965 (2): Kronologi Persiapan Kudeta dan Kegiatan Biro Chusus PKI

Perencanaan Kudeta PKI 1965 (2): Kronologi Persiapan Kudeta dan Kegiatan Biro Chusus PKI [1]

 

cropped-monumen-icon.pngPada sidang Pleno IV CC PKI pada bulan Mei 1965 telah dikomandokan “Perhebat gerakan ofensif revolusioner sampai ke puncaknya”. Komando ini merupakan pematangan situasi menuju arah pencetusan pemberontakan PKI. Sekembalinya D.N. Aidit (Ketua CC PKI) dari Republik Rakyat Cina (RRC), ia menginstruksikan kepada Sjam Kamaruzaman sebagai Ketua Biro Chusus PKI untuk mempersiapkan kekuatan militer guna memberikan pukulan terhadap Dewan Djenderal. Untuk itu Biro Khusus harus memeriksa barisannya dan diminta oleh Ketua CC PKI D.N. Aidit untuk membuat suatu konsep gerakan terbatas.[2] Konsep ini disusun sesuai dengan pola pemikiran PKI dalam bidang politik, militer, informasi, dan observasi Konsep ini dapat diselesaikan oleh Sjam pada bulan Agustus 1965. Setelah Sjam selesai dengan rencana pola-pola pemikiran organisasi dan personil yang akan duduk dalam gerakan, kemudian D.N. Aidit menyarankan Sjam agar segera mengadakan pertemuan­-pertemuan dengan tokoh pimpinan gerakan yang telah disetujui pencalonannya dan langsung memimpin rapat-rapat persiapan. Di samping itu, Sjam diinstruksikan untuk menyusun konsep Dewan Revolusi yang berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara setelah gerakan berhasil merebut kekuasaan. Dewan Revolusi mencakup semua golongan yang luas di masyarakat untuk mendapatkan dukungan terhadap gerakan ini.[3]

Sebagai tindak lanjut bertempat di rumahnya pada tanggal 12 Agustus 1965, D.N. Aidit (Ketua CC PKI) menginstruksikan kepada Sjam ketua pimpinan kolektif Biro Chusus[4] untuk mengadakan diskusi dengan anggota-anggota Biro Chusus. Pada tanggal 14 Agustus 1965 telah dilakukan pertemuan segi tiga antara Sjam, Pono dan Waluyo, bertempat di rumah Sjam untuk membahas instruksi D.N. Aidit tentang penyusunan rencana gerakan. Hasil rapat ini mengambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Bahwa gerakan ini harus terbatas dan merupakan gerakan militer.
  2. Dalam rangka ini termasuk perencanaan penguasaan instansi­-instansi vital sepeti telekom, RRI, PTT, dan kereta api.
  3. Dalam susunan rencana gerakan diperoleh tiga orang calon pimpinannya, yakni Letkol Untung dari Resimen Cakrabirawa, Kolonel Inf. Latief Dan Brigif 1 Kodam V / Jaya, dan Mayor Udara Sujono dari P3 AU.
  4. Sasaran utama dari gerakan ini adalah para Jenderal yang tergabung dalam apa yang dinamakan Dewan Djenderal.
  5. Organisasi gerakan dibagi dalam tiga bagian yaitu militer, politik dan formasi/observasi.
  6. Perlu memanggil semua Kepala Biro Chusus Daerah untuk menerima instruksi-instruksi langsung dari Sjam yaitu memeriksa persiapan pasukan/barisan yang akan dipergunakan dalam gerakan di daerah masing-masing.

Tanggal 15/16 Agustus 1965 Sjam menghadap D.N. Aidit (di rumahnya) untuk melaporkan hasil pertimbangannya dengan Pono dan Walujo, sekaligus pula dilaporkan mengenai dipilihnya tiga orang calon pimpinan gerakan. Pada kesempatan itu D.N. Aidit memerintahkan untuk menambah jumlah calon pimpinan.

Tanggal 19/20 Agustus 1965 diadakan lagi pertemuan pimpinan Biro Chusus Central (Sjam, Pono, Walujo) untuk menyampaikan perintah D.N. Aidit untuk segera menghubungi calon-calon penggerak yang dipilih guna mendapatkan kesanggupan mereka masing-masing duduk dalam gerakan, sesuai rencana gerakan yang telah mereka rintis bersama. Untuk ini ditentukan Pono mendatangi Kolonel Latief dan Mayor Udara Sujono sedangkan Walujo menemui Letkol Untung, dan tugas ini harus dilakukan pada hari itu juga. Dalam kesempatan ini dibicarakan juga soal tambahan tenaga pimpinan gerakan.

Tanggal 21 Agustus 1965, diadakan lagi pertemuan di rumah Sjam untuk menerima laporan hasil pertemuan Pono dan Walujo dengan ketiga orang calon itu (Letkol Untung, Kolonel Latief dan Mayor Udara Sujono). Dalam kesempatan ini dilaporkan kesediaan mereka masing-masing. Juga didapat kata sepakat untuk menambah 2 (dua) orang tenaga pimpinan penggerak, yaitu : Mayor Agus Sigit dari Brigif I Kodam V / Jaya dan Kapten Wahjudi dari Artileri. Tanggal 21 Agustus 1965 pukul 23.00 Sjam, Pono dan Walujo menghadap D.N. Aidit di rumahnya untuk melaporkan kesanggupan/kesediaan ketiga calon pimpinan penggerak itu untuk turut dalam gerakan ini. Juga dilaporkan tentang 2 (dua) orang tenaga tambahan, Mayor Agus Sigit dan Kapten Wahjudi. Juga dilaporkan tentang pembagian pekerjaan dalam menghadapi persiapan gerakan, yaitu : Sjam dan Pono mempersiapkan organisasi dan personalia dalam gerakan, sedangkan Walujo mengurus bidang informasi dan observasi.

Tanggal 22 Agustus 1965 pukul 10.00 Sjam, Pono dan Walujo mengadakan pertemuan lagi si rumah Sjam untuk membicarakan tentang pemanggilan pimpinan Biro Chusus Daerah (Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, Sumbar dan Sumut). Pelaksanaan panggilan diserahkan kepada Suwandi untuk mengirim telegram ke daerah-daerah dan selambat-lambatnya sudah hadir tanggal 10 – 15 September 1965. Kepada Pono dan Walujo supaya selalu menghubungi para calon pimpinan penggerak, dan supaya memperhatikan kesatuan-kesatuan yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Tanggal 24 Agustus 1965 diadakan lagi pertemuan pada pukul 09.00 untuk mendengarkan laporan dari Pono mengenai kesanggupan Mayor Agus Sigit dan Kapten Wahjudi, demikian pula Letkol Untung, Mayor Udara Sujono dan Kolonel Latif yang ingin menyumbangkan pikirannya dalam mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan oleh gerakan nantinya.

Tanggal 26/27 Agustus 1965 pukul 22.00 D.N. Aidit memanggil Sjam, Pono, Walujo di rumahnya untuk didengar laporannya tentang hasil pertemuannya dengan Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Udara Sujono, Mayor Agus Sigit dan Kapten Wahjudi. Selanjutnya diinstruksikan agar Sjam memimpin setiap rapat dengan mereka. Juga diinstruksikan kepada Sjam untuk menyusun konsep tentang pembentukan suatu Dewan, dan dipikirkan pula tentang sasaran dari gerakan.

Tanggal 2 September 1965 dimulai suatu pertemuan antara Sjam dengan calon-calon pimpinan gerakan (Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Udara Sujono) di rumah kediaman Kolonel Latief, pukul 20.00. Dalam pertemuan ini yang juga dihadiri Pono, sekaligus diajukan pula konsep “Dewan Revolusi” yang telah disusun itu.

Tanggal 4 September 1965 pukul 10.00 dimulai pertemuan dengan Kepala Biro Chusus Daerah Jakarta Raya di rumah Sjam.[5]

Hasil pertemuan itu, diputuskan bahwa gerakan yang akan dilakukan adalah gerakan militer.[6] Pono sebagai wakil pimpinan pelaksana gerakan, dan Walujo sebagai pimpinan bagian observasi.

Kemudian Ketua Politbiro CC PKI D.N Aidit selaku pimpinan tertinggi gerakan menginstruksikan kepada Kepala Biro Chusus untuk mengadakan rapat-rapat membahas semua rencana pelaksanaan gerakan.

Berdasarkan instruksi tersebut, Sjam sebagai pimpinan pelaksana gerakan, sejak tanggal 6 September 1965 menyelenggarakan rapat -rapat yang merupakan rapat di tingkat pusat dengan kepala Biro Chusus Daerah.

Rapat pertama

Tanggal 6 September 1965 dihadiri oleh Sjam, Pono, Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor (D) Sujono, Mayor Agus Sigit, dan Kapten Wahjudi bertempat di kediaman Kapten Wahjudi, Jalan Sindanglaya No.5 Jakarta. Acara rapat antara lain adalah :

  1. Perkenalan dengan para hadirin.
  2. Penjelasan, mengenai situasi umum tentang Dewan Djenderal dan sakitnya Presiden.
  3. Uraian mengenai instruksi Ketua CC PKI D.N. Aidit untuk mengadakan gerakan mendahului coup Dewan Djenderal.

Rapat kedua

Pada tanggal 9 September 1965 diadakan rapat kedua, dihadiri oleh orang-orang yang sama dan di tempat yang sama. Pembicaraan antara lain:

  1. Sjam menanyakan apakah ada pendapat lain sekitar penjelasan rapat pertama. Hadirin diminta persetujuannya untuk turut dalam gerakan dan pandangan tentang taktik pelaksanaan gerakan.
  2. Perwujudan pengorganisasian dan pengaturan kesatuan­-kesatuan yang ada di Jakarta.
  3. Kekuatan-kekuatan yang bisa digunakan untuk gerakan. Siapa-siapa yang dicalonkan sebagai pimpinan pelaksana.

Rapat ketiga

Dilaksanakan pada tanggal 13 September 1965, dihadiri oleh Sjam, Pono, Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor (U) Sujono, Mayor A. Sigit, Kapten Wahjudi, bertempat di kediaman Kolonel Latief, Jalan Cawang Kav. 524/525 Jatinegara. Pertemuan ini menghasilkan keputusan antara lain:

  1. Peninjauan kesatuan yang ada di Jakarta
  2. Menerima kekuatan tambahan dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (P3) AURI dari Mayor (D) Sujono
  3. Angkatan Kepolisian dan Angkatan Laut harus dinetralisir dalam gerakan ini
  4. Sasaran ditujukan kepada jenderal-jenderal Angkatan Darat
  5. Pameran kekuatan yang dinetralisir dan kekuatan-kekuatan yang akan dihadapi dalam gerakan, agar dibahas pada rapat yang akan datang.[7]

Rapat keempat

Rapat ini dilaksanakan pada tanggal 15 September 1965, dihadiri oleh Sjam, Pono, Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor (U) Sudjono, Mayor A. Sigit, Kapten Wahjudi. Bertempat di kediaman Kolonel Latief, Jalan Cawang I Kav. 524/525 Jatinegara.

Masalah yang dibahas adalah kesatuan-kesatuan yang dapat diajak serta dalam gerakan, antara lain:

  1. Batalyon Cakrabirawa pimpinan Letkol Untung
  2. Batalyon pimpinan Mayor A. Sigit (Brigif I Kodam VI Jaya)
  3. Pasukan P3 AU pimpinan Mayor Udara Sujono
  4. Artileri dari Kapten Wahjudi (belum ada kepastian)
  5. Kavaleri (belum ada kepastian)

Diberitahukan juga bahwa akan datang 2 (dua) batalyon dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Jakarta dalam rangka Hari Ulang Tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965, yang akan membantu gerakan. Kemudian Sjam menganjurkan kepada peserta rapat, agar pada rapat yang akan datang sudah ada keterangan yang konkrit mengenai kekuatan yang dapat digunakan dalam gerakan ini, demikian pula pembahasan soal organisasi.

Rapt kelima

Rapat ini dilaksanakan pada tanggal 17 September 1965 yang dihadiri oleh orang-orang yang sama pada rapat tanggal 15 September 1965 di kediaman Kolonel Latief. Dalam rapat ini disimpulkan pasukan yang ikut gerakan di Jakarta sebagai berikut :

  1. Brigif I Kodam V/ Jaya = 1 (satu) Batalyon
  2. P3 AURI = 1 (satu) Batalyon
  3. Artileri = 1 (satu) Kompi
  4. Cakrabirawa = 1 (satu) Kompi.

Di samping itu Sjam menyatakan bahwa 1 (satu) batalyon dari Brawijaya dan 1 (satu) batalyon dari Diponegoro juga sudah diajak turut serta dalam gerakan.

Diputuskan bahwa dalam rapat berikutnya sudah bisa ditentukan pembagian tugas masing-masing.

Rapat keenam

Rapat ini berlangsung pada tanggal 19 September 1965, dihadiri oleh Sjam, Pono, Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor (D) Sujono, Kapten Wahjudi bertempat di kediaman Sjam, Jalan Salemba Tengah, Jakarta. Pada rapat ini dibahas antara lain masalah organisasi gerakan (bidang politik, militer, dan observasi).

Tidak hadirnya Mayor Inf. A Sigit dalam diskusi yang terdahulu karena ia tidak yakin tentang adanya Dewan Djenderal, dan dewan itu akan merebut kekuasaan. Oleh karena itu, ia tidak dapat menyetujui gerakan yang akan dilancarkan. Sedang sebagai koordinasi ditentukan adalah Sjam. Susunan organisasi gerakan ditentukan sebagai berikut :

  • Di bidang politik : dipimpin oleh Sjam dan Pono.
  • Di bidang militer: dipimpin oleh Letkol Untung dan Kolonel Latief
  • Di bidang observasi : dipimpin oleh Walujo.
  • Di bidang Militer dibagi dalam :

– Bagian penggempuran

– Bagian teritorial

– Bagian logistik/perhubungan, cadangan/bantuan.

  • Pasukan penggempur diberi nama Pasopati di bawah pimpinan Lettu Dul Arief dari Cakrabirawa.
  • Pasukan teritorial diberi nama: Bima Sakti, di bawah pimpinan Kapten Suradi dari Brigif I.
  • Pasukan cadangan diberi nama: Gatotkaca, di bawah Pimpinan Mayor (D) Gathot Sukrisno dari AURI.

Rapat ketujuh

Rapat pada tanggal 22 September 1965 dihadiri oleh orang­-orang yang sama kecuali Mayor Agus Sigit dan Kapten Wahjudi, di tempat yang sama. Rapat membahas antara lain penentuan sasaran masing-masing pasukan :

  1. Pasopati – sasaran para Jenderal (Dewan Djenderal) Bima Sakti – sasaran RRI, telekomunikasi dan teritorial Gatotkaca – Koordinasi kegiatan di Lubang Buaya dan menghimpun tenaga cadangan.
  2. Khusus mengenai territorial Jakarta, dibagi dalam 6 sektor Dalam rapat itu juga ditentukan oleh Sjam supaya Letkol Untung menghubungi Yon 530 dan Yon 454 setelah batalyon-batalyon tersebut berada” di Jakarta.

Rapat kedelapan

Rapat yang dilaksanakan pada tanggal 24 September 1965 dihadiri oleh orang yang sama seperti pada rapat ketujuh, bertempat di kediaman Sjam. Pada rapat ini dibahas antara lain:

  1. Kesanggupan serta kesediaan tenaga-tenaga yang telah ditetapkan sebagai pimpinan pasukan-pasukan yang diharapkan dapat menyelesaikannya dalam waktu singkat
  2. Persiapan
  3. Persoalan tempat komando bagi pimpinan gerakan dan penentuan daerah mana sebagai daerah pemundurannya (Komplek Halim dan daerah Pondok Gede)
  4. Tempat komando (ditentukan di gedung Penas dan selanjutnya disebut Central Komando (Cenko).
  5. Njono diperintahkan untuk membentuk sektor-sektor serta menunjuk komandan sektor. Kemudian ditentukan sektor-sektor, antara lain:
  • Sektor Kebayoran Baru
  • Sektor Kebayoran Lama
  • Sektor Mampang Prapatan
  • Sektor Pasar Minggu
  • Sektor Senayan,dan lain-lain.

Tugas Komandan Sektor memberikan bantuan kepada gerakan.

  • Di samping adanya sektor-sektor, di setiap Komite Seksi PKI didirikan pos komando, pos lapangan, dan pos koordinasi.
  • Pada tanggal 28 September 1965 kode-kode untuk pasukan dibagikan. Kode-kode itu dibuat oleh anggota Gerwani yang ikut latihan di Lubang Buaya.
  • Pada tanggal 30 September 1965 kepada mereka yang ikut dalam gerakan diperintahkan untuk siap siaga di pos yang telah ditentukan.

Rapat kesembilan

Pada tanggal 26 September 1965 rapat tersebut dihadiri oleh para anggota yang hadir pada rapat kedelapan, dan bertempat di kediaman Sjam. Masalah yang dibahas berkisar pada :

  1. Laporan Mayor (U) Sujono tentang persiapan Central Komando (Cenko) di Gedung Penas (P.N. Areal Survey). Persiapan daerah pemunduran di Halim dan Pondok Gede. Penentuan Cenko I dan Cenko II (Gedung Pennas dan rumah kediaman Sersan Udara Anis Suyamo di Kompleks Halim)
  2. Pembentukan sektor-sektor teritorial (selesai)
  3. Kesimpulan (Rencana pelaksanaan gerakan yang dianggap selesai).

Dengan selesainya segala persiapan gerakan, maka diputuskan untuk mengadakan pemeriksaan secara menyeluruh.

Rapat kesepuluh

Rapat ini diadakan pada tanggal 29 September 1965 yang merupakan rapat terakhir bagi rencana pelaksanaan gerakan.

Rapat ini dihadiri orang-orang yang sama pada rapat kesembilan, bertempat di kediaman Sjam.

Rapat ini menghasilkan beberapa keputusan, antara lain sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan organisasi gerakan militer dan tenaga cadangan/bantuan serta pasukan Yon 530 dan Yon 454
  2. Penentuan sasaran gerakan, serta pengamanan para anggota Dewan Djenderal, setelah diambil tindakan
  3. Penentuan Hari H dan Jam D bagi gerakan, yakni tanggal 30 September 1965 sesudah tengah malam
  4. Penentuan nama gerakan atas keputusan Ketua CC PKI D.N. Aidit, karena dimulai pada tanggal 30 September 1965, maka diberi nama Gerakan 30 September
  5. Semua komandan gerakan sudah harus berada di Cenko I pada pukul 23.00 tanggal 30 September 1965
  6. Sesuai penjelasan Sjam, bahwa gerakan ini akan melahirkan “Dewan Revolusi” dengan mendemisionerkan Kabinet Dwikora, sedang Letkol Untung ditunjuk sebagai ketuanya.

Setelah penentuan hari H dan jam D pada rapat ke-10 tanggal 29 September 1965 itu, kepada semua sektor dan pos-pos dibagikan perlengkapan pakaian dan senjata. Kepada mereka diberi perintah supaya pada tanggal 30 September siap-siaga di posnya masing-masing.

Dalam rangka gerakan itu sebagian dari anggota CC PKI dikirim ke berbagai daerah membantu CDB menyiapkan gerakan di daerahnya masing-masing, karena para ketua CDB sudah diikutsertakan dalam rapat-rapat Politbiro diperluas, serta mengetahui rencana gerakan di pusat. Sekembalinya di daerah masing-masing segera menyiapkan rencana gerakan di daerahnya.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Berita Acara pemeriksaan terhadap Sjam Kamaruzaman (BAP)

[3]     Angkatan Bersendjata, 21 Februari 1968

[4]     Ibid

[5]     Alex Dinuth (Penyunting), Dokumen Terpilih Sekitar Pemberontakan G 30 S/PKI, Lembaga Pertahanan Nasional, Jakarta, 1993, haI 9-11

[6]     Angkatan Bersenjata, 22 Februari 1968

[7]     Berita Yudha,17 Februari 1966

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.