Perebutan Kekuasaan Oleh PKI Pada Tanggal 1 Oktober 1965 (3) : Kegiatan Para Pemimpin G 30 S/PKI

Perebutan Kekuasaan Oleh PKI Pada Tanggal 1 Oktober 1965 (3) : Kegiatan Para Pemimpin G 30 S/PKI [1]

Dalam gerakannya di Jakarta, G30S/PKI berhasil memanfaatkan fasilitas-fasilitas AURI antara lain tempat, senjata, alat komunikasi, kendaraan dan bahkan pesawat udara untuk berbagai keperluan. Hal itu terjadi karena adanya dukungan dari oknum-oknum AURI antara lain Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo, Mayor Sujono. Ketika gerakan pemberontakan itu dimulai, Men/Pangau Laksamana Madya Udara Omar Dhani sudah sejak pukul 01.00 tanggal 1 Oktober 1965 berada di kompleks Halim Perdanakusuma.

Pada pukul 03.30 MenPangau Laksamana Madya Omar Dhani bersama-sama dengan Brigjen Supardjo, Komodor Udara Susanto, dan beberapa orang lagi menerima D.N. Aidit dan pembantu­-pembantunya untuk membahas berbagai persoalan mengenai G30 S/PKI. Setelah itu, D.N. Aidit berpindah tempat ke rumah Komodor Udara Susanto, tetapi tidak lama. Ia pindah lagi ke sebuah rumah kosong yang khusus dipersiapkan, tidak jauh dari rumah Komodor Udara Susanto.[2]

Mayor Jenderal Soeharto berpidato sesaat sesudah pengangkatan jenazah"... korban tindakan biadab petualang-petualang yang menamakan G.30 S" (Repro : buku Kopkamtib)
Mayor Jenderal Soeharto berpidato sesaat sesudah pengangkatan jenazah”… korban tindakan biadab petualang-petualang yang menamakan G.30 S” (Repro : buku Kopkamtib)

Selama gerakan militer berlangsung, D.N. Aidit menerima laporan perkembangan gerakan melalui kurir maupun radio yang menghubungkannya dengan Cenko dan Ko. Ops. AURI. Ketika menerima laporan bahwa Jenderal A.H. Nasution lolos dari penculikan, ia memerintahkan agar segera dicari dan ditangkap hidup atau mati.

Sementara itu, setelah Sjam selaku Ketua Pelaksana Gerakan menerima laporan penculikan para Jenderal TNI – AD selesai, ia memerintahkan Brigjen Supardjo supaya pada pagi itu segera berangkat ke Istana Merdeka. Brigjen Supardjo ditugasi untuk menjemput dan melaporkan kepada Presiden Soekarno tentang G30 S yang telah berhasil mengamankan anggota-anggota Dewan Jenderal, dan terbentuknya Dewan Revolusi. Rencana semula delegasi yang teridiri atas pimpinan Dewan Revolusi akan pergi ke Istana. Tetapi karena Kolonel Laut Ranu Sunardi dan AKBP Anwas belum hadir di Cenko, maka Sjam memerintahkan Dan Yon 454/ Diponegoro dan Yon 530/Brawijaya ikut Brigjen Supardjo dan Letnan Kolonel Udara Heru Atmodjo sebagai “delegasi” menjemput Presiden Soekarno di Istana.

Di Cenko I, Sjam selaku Pimpinan Pelaksana Gerakan mengeluarkan draft yang akan diumumkan oleh bagian penerangan G30 S/PKI. Setelah disetujui dan ditandatangani oleh Letkol Untung, pengumuman itu segera dikirimkan kepada Kapten Suradi yang berada di RRI Pusat. Sebelumnya, pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 Pasukan Bima Sakti di bawah pimpinan Kapten Suradi yang mempunyai tugas penguasaan kota Jakarta berhasil menduduki Studio RRI Pusat dan Gedung Telekomunikasi. Pengumuman tentang penangkapan para Jenderal pimpinan Angkatan Darat yang tergabung dengan apa yang mereka namakan “Dewan Jenderal” disiarkan pada pukul 07.30. Selanjutnya, Sjam mengeluarkan dari tasnya dokumen-dokumen tentang Dekrit No.1 tentang Dewan Revolusi sebagai pemegang kekuasaan negara dan pendemisioneran Kabinet Dwikora, disusul dengan Keputusan No.1 tentang pembentukan dan susunan Dewan Revolusi Indonesia, dan Keputusan No.2 tentang Penurunan pangkat bagi Kolonel ke atas menjadi Letnan Kolonel, dan kenaikan pangkat bagi yang ikut aktif dalam G30S. Dokumen itu setelah ditandatangani oleh Letkol Untung, selanjutnya diumumkan melalui Studio RRI Pusat pukul 09.00. Pengumuman itu diulang kembali pada pukul 13.00 tanggal 1 Oktober 1965.

Kira-kira pukul 08.30 Men/Pangau Omar Dhani menerima Letkol Udara Heru Atmodjo sebagai utusan Brigjen Supardjo yang masih berada di Istana. Ia melaporkan bahwa Presiden Soekarno tidak ada di tempat. Menanggapi laporan itu, Laksamana Madya Omar Dhani memberikan fasilitas helikopter untuk menjemput Brigjen Supardjo agar segera menuju Halim Perdanakusuma dan memberikan laporan kepada Presiden Soekarno yang sebentar lagi akan tiba di Halim Perdanakusuma.[3]

Sementara itu, karena pagi hari itu pegawai Gedung Penas sudah melakukan kegiatan, Letnan Kolonel Untung mengajak kawan-kawannya untuk pindah ke Cenko II di komplek Halim Perdanakusuma. Rombongan tiba di Halim Perdanakusuma kira­-kira pukul 09.00

Kurang lebih pukul 09.00, Presiden Soekarno beserta rombongan tiba di Halim Perdanakusuma. Men/Pangau Laksamana Madya Omar Dhani memberikan laporan tentang tindakan terhadap Dewan Jenderal. Kemudian laporan itu diperinci lagi oleh Brigjen Supardjo setelah ia tiba dari Istana. Reaksi Bung Karno setelah mendengar laporan itu menganggapnya sebagai suatu tindakan kekanak-kanakan, dan tidak mendukung peristiwa tersebut serta memerintahkan untuk menghentikan gerakan tersebut.

Dengan situasi seperti itu, D.N. Aidit, Sjam, Bono dan Pono meskipun berada di kompleks Halim Perdanakusuma tidak mampu mengembangkan gerakan. Menyadari kegagalan rencananya, D.N. Aidit atas bantuan Laksdya Udara Omar Dhani meninggalkan Pangkalan Halim Perdanakusuma menuju Yogyakarta sekitar pukul 14.00. Demikian pula pimpinan tokoh G30S lainnya berpencar meninggalkan Halim Perdanakusuma, sedangkan pasukan pendukung G30S yang mengundurkan diri ke Pondok Gede menghentikan perlawanannya

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2] Kopkamtib, Op. Cit., ha1.120

[3]    Nugroho Notosusanto, Ismail Saleh, Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S?PKI di Indonesia, Intermasa. Jakarta, 1989, hal. 26

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*