Perebutan Kekuasaan Oleh PKI Pada Tanggal 1 Oktober 1965 (2) : Penculikan dan Pembunuhan Pejabat TNI-AD

Perebutan Kekuasaan Oleh PKI Pada Tanggal 1 Oktober 1965 (2) : Penculikan dan Pembunuhan Pejabat TNI-AD [1]

a. Penculikan Menko Hankam/Kasab Jenderal TNI H. Nasution.

Kurang lebih pukul 03.00, pasukan yang bertugas menculik Jenderal A.H. Nasution berangkat yang pertama kali dari Lubang Buaya. Pasukan ini dipimpin oleh Pelda Djahurub dari Men Cakrabirawa, dan terdiri atas 1 Peleton Brigif I Kodam V /Jaya, 1 Regu Cakrabirawa, 1 Peleton dari Yon 530/Brawijaya, 1 Peleton dari Yon 454/Diponegoro, 1 Peleton PGT, dan 1 Peleton Sukwan. Kekuatan pasukan ini merupakan pasukan terbesar sampai lebih kurang 100 orang, karena Jenderal AH. Nasution dianggap sasaran yang paling penting. Mereka menggunakan tiga truk AURI dan dua Jeep Cakrabirawa.

Di dekat rumah Jenderal A.H. Nasution, gerombolan penculik melumpuhkan regu pengawal rumah Wakil Perdana Menteri II (Waperdam II) Dr. Leimena. Dalam peristiwa itu seorang pengawal, Aipda Karel Satsuit Tubun gugur. Di depan rumah Jenderal A.H. Nasution, gerombolan bergerak menuju ke halaman. Pengawal rumah Jenderal Nasution yang berada di pekarangan tidak curiga terhadap pasukan yang memasuki halaman karena mereka memakai seragam pasukan pengawal istana, Resimen Cakrabirawa. Didahului dengan ucapan selamat malam, serentak 30 orang gerombolan penculik menyergap para pengawal yang berada di pekarangan itu. Gerombolan penculik mengepung rumah Jenderal Nasution dan memblokir jalan. Kurang lebih 15 orang masuk ke dalam rumah.

Terbukanya pintu kamar tamu dan terdengar gaduh di luar menyebabkan Ibu Nasution membuka pintu kamar. Ia melihat seorang anggota Cakrabirawa siap untuk menembak. Ibu Nasution merasa curiga, dan segera menutup kembali pintu kamarnya. Ia memberi tahu Jenderal A.H. Nasution bahwa ada anggota Cakrabirawa yang bersikap mencurigakan. Jenderal Nasution segera membuka pintu untuk melihat tamu tak diundang itu. Begitu pintu dibuka, serentetan tembakan diarahkan kepadanya. Jenderal AH. Nasution menjatuhkan diri ke lantai. Ibu Nasution segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Tembakan selanjutnya diarahkan kepada pintu kamar itu, sehingga Ibu Nasution mendorong suami nya Jenderal Nasution melalui pintu yang lain keluar ke samping rumah. Putri Jenderal A.H. Nasution, Ade Irma Suryani yang masih berumur 5 tahun digendong oleh pengasuhnya dibawa ke luar kamar. Tetapi seorang anggota Cakrabirawa melepaskan tembakan dan mengenai punggung Ade Irma Suryani. Ia menjerit, Jenderal A.H. Nasution yang mendengar jeritan anaknya bermaksud kembali masuk kamar, tetapi istrinya memberi isyarat agar segera menyelamatkan diri. Jenderal Nasution meloncat pagar tembok rumah Duta Besar lrak tetangganya. Ketika Jenderal A.H. Nasution meloncat pagar tembok, seorang penculik melihat ada orang yang melompati tembok dan menembaknya. Namun Jenderal AH. Nasution selamat. Usaha penculikan gagal.

84690290Sementara itu ajudan Jenderal A.H. Nasution, Lettu Piere A. Tendean yang pada malam itu menginap di paviliun, terbangun karena ada ribut-ribut. Ia keluar, dengan membawa senjata Garrand. Sesampainya di halaman, karena dikira Jenderal A.H. Nasution, ia langsung disergap oleh para penculik. Lettu Piere A Tendean kemudian dibawa ke Lubang Buaya.

 

b. Penculikan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI A Yani

Gerombolan penculik Letjen A. Yani yang dipimpin Peltu Mukidjan dari Brigif I Kodam V/Jaya berangkat dari basis Lubang Buaya pukul 03.30 tanggal 1 Oktober 1965. Gerombolan ini berkekuatan 1 Peleton dari Brigif I Kodam V/Jaya, 1 Regu Cakrabirawa, 1 Peleton dari Yon 530/Brawijaya, 1 Peleton dari Yon 454/Diponegoro, 1 Regu PGT dan 2 Regu Sukwan. Mereka menggunakan dua truk dan dua bus, tiba di sasaran pada pukul 04.25. Sersan Raswad dan beberapa anggota Cakrabirawa dengan diikuti Peltu Mukidjan masuk ke halaman rumah Letjen A Yani. Regu pengawal yang sama sekali tidak menaruh curiga kedatangan mereka ditodong dan dilucuti. Sebagian pasukan penculik itu menuju teras dan mengetuk pintu. Putra Letjen A. Yani yang berumur 11 tahun bangun dan ditanya oleh para penculik tentang ayahnya. Setelah diketahui bahwa Letjen A. Yani ada di rumah, anak itu di suruh membangunkannya, dengan pesan “ada utusan yang akan menyampaikan pesan bahwa Letjen A. Yani dipanggil oleh Presiden ke Istana”.

Letjen A. Yani yang mengenakan piyama bangun, dan menemui para penculik. Sersan Raswad mengatakan bahwa Letjen A. Yani dipanggil oleh Presiden. Letjen A. Yani tanpa curiga mengatakan “baik”, tetapi ia akan mandi dulu. Ia balik kanan untuk mempersiapkan diri. Tiba-tiba para penculik mengatakan “tidak perlu”. Letjen A. Yani marah terhadap prajurit yang kurang ajar itu, dan langsung menampar orang itu. Kemudian ia membalik sambil menutup pintu. Ketika itulah Sersan Raswad memerintahkan Kopda Gijadi agar menembak Letjen A. Yani. Tujuh peluru Thomson memecah pintu kaca dan menembus tubuh Letjen A. Yani yang kemudian jatuh dan gugur seketika.

Praka Wagimin menyeret tubuh Letjen A. Yani yang berlumuran darah ke luar rumah, dan melemparkannya ke dalam salah satu kendaraan. Selanjutnya, mereka kembali ke Lubang Buaya.

 

c. Penculikan Deputy II Men/Pangad Mayjen TNI Suprapto

Gerombolan penculik yang bertugas menculik Mayjen Suprapto dipimpin oleh Serka Sulaiman, berkekuatan dua regu. Regu I di pimpin oleh Serka Sulaiman, dan Regu II dipimpin oleh Serda Sukiman. Mereka berangkat dari basis Lubang Buaya kurang lebih pukul 03.30 tanggal 1 Oktober 1965. Komandan Pasukan Pasopati Lettu Dul Arief ikut dalam rombongan ini.

Pada malam itu Mayjen Suprapto masih belum tidur karena sakit gigi dan badannya agak meriang. Ketika Pratu Buang membuka pintu pagar, Mayjen Suprapto menanyakan siapa mereka. Di jawab bahwa mereka anggota-anggota Cakrabirawa. Mayjen Suprapto dan istrinya tidak menaruh curiga. Kemudian Mayjen Suprapto keluar dari kamarnya dan ketika membuka pintu ruang depan, di teras sudah menunggu beberapa orang anggota Cakrabirawa. Serka Sulaiman berkata bahwa Jenderal Suprapto diperintahkan segera menghadap Presiden. Mayjen Suprapto menyanggupi akan segera berangkat, tetapi akan ganti pakaian terlebih dahulu. Namun para penculik tidak mengizinkannya. Ia ditodong dan dipaksa ke luar. Beberapa orang memegang tangan Mayjen Suprapto dan memaksanya naik ke atas salah satu truk yang tersedia. Kemudian pasukan penculik kembali ke Lubang Buaya dengan membawa Mayjen Suprapto.

 

d. Penculikan Asisten I Men/Pangad Mayjen TNI S. Parman

Mayjen S. Parman diculik oleh pasukan yang dipimpin Serma Satar dengan kekuatan satu peleton terdiri atas satu regu Cakrabirawa dan satu regu dari Yon 530/Brawijaya. Pasukan itu berangkat dari Lubang Buaya menuju sasaran kurang lebih pukul 03.30 tanggal 1 Oktober 1965.

Sesampainya di sasaran mereka masuk ke pekarangan dengan melompat pagar. Karena ribut di luar, Mayjen S. Parman terbangun dan membangunkan istrinya. Semula Mayjen S. Parman dan istrinya menduga ada perampokan di rumah tetangga. Mayjen S. Parman keluar dari kamarnya bermaksud untuk memberikan bantuan. Ketika sampai di ruang tengah terdengar ketukan di pintu. Setelah ditanya, mereka menjawab dari Cakrabirawa. Mayjen S. Parman membuka pintu. Ia heran ketika melihat banyak sekali anggota Cakrabirawa di halaman rumahnya. Serma Satar maju ke depan dan berkata bahwa Jenderal Parman diperintahkan Presiden supaya segera menghadap. Tanpa curiga ia segera bersiap untuk berangkat. Ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ketika dua orang Cakrabirawa mengikutinya dengan sangkur terhunus, ia meminta supaya mereka menunggu saja di luar, tetapi tidak dihiraukan. Ibu Parman curiga melihat tingkah laku mereka yang tidak wajar itu. Akhirnya Ibu Parman menanyakan Surat Perintah mereka. Salah seorang di antara mereka menjawab bahwa surat perintah ada pada Pelda Janto di luar.

Selesai berpakaian lengkap, Mayjen S. Parman ke luar. Di pintu, ia menyuruh istrinya untuk menelpon Letjen A. Yani untuk melaporkan kejadian itu. Ternyata kabel telpon telah dipotong. Rupanya S. Parman baru sadar bahwa ada hal yang tidak beres dengan pasukan penjemput. Kemudian Mayjen S. Parman dimasukan ke dalam kendaraan, dan dibawa ke Lubang Buaya.

e. Penculikan Deputy III Men/Pangad Mayjen TNI Haryono MT

Pimpinan pasukan yang menculik Mayjen Haryono MT adalah Serka Bungkus dari Men Cakrabirawa. Dengan kekuatan dua regu Yon 530/ Brawijaya, mereka berangkat dari Lubang Buaya menuju sasaran pukul 03.30 tanggal 1 Oktober 1965. Setibanya di rumah Mayjen Haryono MT, Serka Bungkus mengetuk pintu, Serka Bungkus berkata bahwa Jenderal Haryono dipanggil Presiden. Ibu Haryono menyampaikan pesan tersebut kepada suaminya. Mayjen Haryono MT merasa enggan, dan meminta agar para anggota Cakrabirawa itu kembali Iagi pukul 08.00. Oleh karena Serka Bungkus memaksa. Mayjen Haryono MT merasa ada sesuatu yang mencurigakan, karena itu ia menyuruh istri dan anaknya ke kamar sebelah.

Serka Bungkus dan beberapa anak buahnya tidak sabar dan berteriak agar Mayjen Haryono MT segera keluar. Karena Mayjen Haryono tidak memenuhi permintaan itu, mereka menembak pintu kamar yang terkunci itu. Setelah pintu terbuka mereka masuk ke kamar. Mayjen Haryono MT berusaha merebut senjata salah seorang dari pasukan penculik, tetapi gagal. Pada saat itulah ia ditusuk sangkur beberapa kali. Ia jatuh dengan berlumuran darah, dan diangkat ke Iuar untuk dimasukkan ke dalam truk yang tersedia. Selanjutnya Mayjen Haryono MT dibawa ke Lubang Buaya.

f. Penculikan Terhadap Oditur Jenderal Militer/Inspektur Kehakiman AD Brigjen TNI Sutojo

Pada pukuI 03.30 tanggal 1 Oktober 1965 pasukan penculik Brigjen Sutojo berangkat dari Lubang Buaya. Pasukan ini berkekuatan satu Peleton Cakrabirawa dipimpin oleh Serma Surono yang dibagi dalam tiga regu. Regu I dipimpin oleh Serda Sudibjo, Regu II dipimpin oleh Serda Ngatijo dan Regu III dipimpin Kopda Dasuki. Sesampainya di sasaran, mereka segera menyebar menempati posisi masing-masing sesuai dengan rencana. Regu I melakukan pengamanan di depan rumah, Regu III mengamankan jalan, dan Regu I bertugas mengambil Brigjen Sutojo. Brigjen Sutojo terbangun karena mendengar kegaduhan di Iuar. Ketika ditanyakan siapa yang di luar, dijawabnya bahwa ada tamu dari Malang. Sebagian Regu I dengan melalui pintu samping masuk melalui garasi, dan memaksa pembantu rumah tangga keluarga Brigjen Sutojo dengan bayonet untuk menyerahkan kunci ruang tengah.

Sementara itu, Brigjen Sutojo membuka pintu. Pratu Sujadi serta Pratu Sumardi masuk dan mengatakan bahwa Brigjen Sutojo ditunggu di luar oleh Dan Ton, karena ada Surat Perintah dari Presiden untuk menghadap. Kedua orang itu lalu membawa Brigjen Sutojo keluar dan bertemu dengan Serda Sudibjo. Serda Sudibjo dan Pratu Sumardi segera mengapit Brigjen Sutojo dan membawanya ke luar untuk dinaikkan ke kendaraan penculik itu. Selanjutnya Brigjen Sutojo dibawa ke Lubang Buaya.

 

g. Penculikan Asisten IV Men/Pangad Brigjen TNI D.I. Pandjaitan

Pasukan penculik yang menculik Brigjen D.I. Pandjaitan dipimpin oleh Serma Sukardjo. Mereka berangkat dari Lubang Buaya pukul 03.30 tanggal 1 Oktober 1965. Pasukan penculik berkekuatan satu regu dari Brigif I /Kodam V/Jaya, dan satu regu dari Yon 454/Diponegoro.

Mereka sampai di sasaran kurang lebih pukul 04.30, dan langsung mengurung rumah Brigjen D.I. Pandjaitan. Beberapa orang langsung masuk halaman dengan meloncat pagar. Pasukan penculik bergerak menuju pavilyun dengan menembaki kunci pintunya. Dua orang keponakan Brigjen Pandjaitan yang tidur di kamar bawah ditembaki oleh anggota Pasukan penculik. Seorang di antaranya meninggal saat itu juga. Pasukan pemberontak terus menembak sehingga menghancurkan perabotan dalam rumah itu.

Salah seorang dari penculik itu membentak pelayan sambil menanyakan di mana kamar Jenderal. Para penculik lalu berteriak sambil mengancam Brigjen Pandjaitan kalau tidak segera turon. Dalam suasana gawat itu, Brigjen Pandjaitan mencoba bertahan dan mengadakan perlawanan dengan senjata sten. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena senjata itu macet.

Akhirnya, karena diancam seluruh keluarganya akan dibunuh Brigjen D.I. Pandjaitan yang mengenakan pakaian seragam lengkap turon dari lantai dua. Ia terus ditodong dan digiring ke luar oleh Serma Sukardjo dan Kopral Dikin. Setibanya di pekarangan D.I, Pandjaitan tidak dapat menahan amarahnya, karena perlakuan kasar para penculik itu terhadap dirinya. Kemudian ia dipukul dengan popor senjata dan dua orang lainnya menembaknya dengan senjata otomatis. Brigjen Pandjaitan jatuh dan gugur. Jenazahnya diangkat dan dilemparkan ke dalam kendaraan. Selanjutnya dibawa ke Lubang Buaya.

Sementara itu, seorang Agen Polisi (sekarang Bhayangkara II, Bharada) Sukitman yang sedang melakukan tugas patroli, karena mendengar bunyi tembakan mendekati rumah Brigjen D.I Pandjaitan. Setibanya di tempat itu, ia ditangkap oleh pasukan penculik dan dibawa ke Lubang Buaya.

Di Lubang Buaya, semua korban penculikan itu diserahkan kepada Komandan Pasukan Pasopati Lettu Dul Arief Selanjutnya Lettu Dul Arief menyerahkan kepada Mayor Udara Gathot Sukrisno selaku Komandan Pasukan Gatot Kaca yang menampung hasil penculikan, melaksanakan pembunuhan, dan mengubur korban -korban penculikan.

Kekuatan Pasukan Gatot Kaca terdiri atas satu Yon Cakrabirawa, satu Yon PGT / AURI, dan empat Yon Sukarelawan terlatih (Sukta) yang meliputi anggota-anggota Ormas PKI yang telah mendapat latihan di Lubang Buaya. Kedatangan para Jenderal TNI -AD yang mereka sebut dengan “Kabir-kabir”, dan anggota “Dewan Jenderal”, disambut dengan teriakan-teriakan dan ejekan-ejekan oleh sukarelawan-sukarelawati Pemuda Rakyat, Gerwani/PKI. Mereka seolah -olah berpesta pora. mabuk kemenangan. Beberapa Jenderal yang masih hidup disiksa di luar batas kemanusiaan oleh gerombolan G30S/PKI. Setelah puas, baru kemudian para perwira itu dibunuh. Para korban dimasukkan ke dalam sumur tua. Untuk menghilangkan jejak, sumur itu ditimbuni dengan sampah dan de daunan, sehingga tersamar.

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*