Perebutan Kekuasaan Oleh PKI Pada Tanggal 1 Oktober 1965 (1) : Persiapan Kudeta di Jakarta

Perebutan Kekuasaan Oleh PKI Pada Tanggal 1 Oktober 1965 (1) : Persiapan Kudeta di Jakarta [1]

DSC_0437_resultSeusai rapat terakhir persiapan pemberontakan tanggal 29 September 1965 malam, Sjam beserta Kolonel Latief, Letkol Untung, Mayor Udara Sujono menemui D.N. Aidit untuk melaporkan secara rinci seluruh persiapan gerakan di Jakarta dan di daerah-daerah. Dalam kesempatan itu dilaporkan antara lain mengenai organisasi gerakan, nama gerakan, hari H dan jam D, susunan Dewan Revolusi di pusat, proses penyusunan Dewan Revolusi, dan tentang Dewan Militer.

D.N. Aidit selaku Pimpinan tertinggi gerakan mengadakan perubahan pada konsep persiapan itu, antara lain nama gerakan yang semula diberi nama Operasi Takari diubah menjadi “Gerakan 30 September”. Untuk masalah lainnya dianggap sesuai dengan keputusan politik Sidang Politbiro CC PKI yang diperluas pada tanggal 28 Agustus 1965, dan sidang Politbiro CC PKI pada hari­-hari berikutnya.[2]

Pada tanggal 30 September 1965 sekitar pukul 21.00, di rumah Sjam di Jalan Pramuka diadakan pertemuan kembali. Pertemuan ini dihadiri oleh Ketua CC PKI D.N. Aidit, Sjam, Pono, Bono, Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra, Mayor Udara Sujono. D.N. Aidit, mengadakan pengecekan terakhir atas seluruh persiapan gerakan. Ia menyerahkan daftar nama anggota Dewan Revolusi dan memerintahkan agar seluruh petugas siap, berada di pos masing-masing sebelum pukul 00.00 tanggal 1 Oktober 1965. Pertemuan itu selesai kira-kira pukul 23.00 tanggal 30 September. Selanjutnya D.N. Aidit diantar oleh Mayor Udara Sujono berangkat ke rumah Sersan Udara S. Suwardi di kompleks Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Tempat ini berdekatan dengan Cenko II (Central Komando II)

Dalam melakukan tugasnya selaku Pemimpin Tertinggi Gerakan, D.N. Aidit dibantu oleh Iskandar Subekti, Pono sebagai penghubung Cenko I, Kusno sebagai pengawal pribadi D.N. Aidit dan Mayor Udara Sujono sebagai penghubung Cenko dengan Ko.Ops. AD. di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. D.N. Aidit menempati pos yang berkedudukan di Halim Perdanakusuma, sejak pukul 23.00 tanggal 30 September 1965. Sampai pukul 03.00 tanggal 1 Oktober 1965, D.N. Aidit menyiapkan naskah yang diketik oleh para pembantunya.

Sesuai dengan rencana, Gedung P.N. Aerial Survey (Penas) di Jalan Jakarta Baypass (sekarang Jalan D.I. Panjaitan), dijadikan Cenko I. Sjam selaku Ketua Pelaksana Gerakan menempati posko ini dan menjalankan tugas sesuai dengan petunjuk Pimpinan Tertinggi. Berada di tempat ini selain Sjam, juga Pono selaku Wakil Pimpinan Pelaksana Gerakan, Brigjen TNI Supardjo sebagai penghubung Cenko dengan Presiden Soekarno, Kolonel Latief dan Letkol Untung sebagai Komandan Gerakan Militer. Sedangkan Mayor Udara Sujono dan Letkol Udara Heru Atmojo bertugas sebagai penghubung antar Cenko-Cenko.[3]

Pada pukul 01.30 tanggal 1 Oktober 1965 para pemimpin Pelaksana Gerakan mengikuti Letkol Untung untuk melihat persiapan terakhir di Lubang Buaya. Pada pukul 03.30 Brigjen Supardjo dan Mayor Udara Sujono bergabung dengan D.N. Aidit yang datang ke Ko.Ops. AD. untuk menemui Men/Pangau Omar Dhani. Kemudian mereka menuju ke rumah Komodor Udara Susanto, tetapi tidak lama. Mereka pindah lagi ke sebuah rumah yang telah dipersiapkan untuk kegiatan mereka, tidak jauh dari rumah Komodor Udara Susanto.

Sementara itu tanggal 30 September malam terjadi kesibukan yang luar biasa di Lubang Buaya. Pasukan-pasukan yang akan digunakan oleh gerakan sudah berkumpul. Antara lain dari kompi Brigif I Kodam V/ Jaya, Pemuda Rakyat, Gerwani, kompi dari Yon 454/Diponegoro dan Yon: 530/ Brawijaya, Resimen Cakrabirawa, yang tergabung dalam Divisi Ampera. Pada pukul 02.30 pagi tanggal 1 Oktober 1965 Lettu Dul Arief Komandan Pasukan Pasopati, yang bertugas menculik para Jenderal, mengumpulkan para anggotanya. Ia memberikan briefing kepada para komandan peleton, dan kemudian membagi tugas Pasukan Pasopati. Ia menjelaskan, bahwa mereka yang akan diculik adalah tokoh-tokoh Dewan Jenderal yang akan mengadakan kup terhadap Presiden Soekarno. Oleh karena itu, mereka harus ditangkap hidup atau mati. Taktik penculikan ialah dengan mengatakan bahwa mereka diperintahkan menghadap oleh Presiden. Selanjutnya para komandan pasukan dari peleton penculik kembali ke anak buahnya untuk mempersiapkan diri.

Sandi gerakan pasukan Pasopati adalah                 :

Suara     :                                               Tanya    : Ampera

Jawab     : Takari

Klakson                                                 Tanya    : 2 x

                                                                Jawab   : 3 x

Gerakan                                               Tanya    : Garuk-garuk kepala

                                                                Jawab  : Menunjuk kepala yang garuk­-garuk kepala

Pegang

Senjata                                                 Tanya    : Ibu Jari diangkat

Jawab   : Menunjuk Kepala yang diangkat

Cahaya                                                 Tanya    : 1 x

Jawab   : 4 x

Bendera Scraf                                                    : Warna Merah , kuning dan hijau dipakai di leher

Lencana                                                               :Merah Putih di saku baju

Kendaraan                                                          : Segitiga merah, kuning dan hijau

Tanda kendaraan                                             : Silang putih di belakang

Lencana malam                                                 : Di bahu kiri

Lencana pagi                                                      : Di bahu Kanan

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Kopkamtib, Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Jakarta,1978, hal. 78

[3]     Kopkamtib, Op. Cit., hal. 122

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*