PERCAKAPAN DENGAN DUTA BESAR HOWARD P. JONES

PERCAKAPAN DENGAN DUTA BESAR HOWARD P. JONES [1]

 

20 Maret 1964

 

Ada sebuah cerita mengenai semboyan “Ganyang Malaysia” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Crush Malaysiaseperti, terbaca pada coretan-coretan di dinding dan di tepi jalan  di Jakarta sekarang.

Majalah Inggris The Economist (15 Februari 1964) menulis tentang konperensi para Menteri Luar Negeri yang pertama yang diadakan di Bangkok pada bulan Februari lalu antara Subandrio, Tun Abdul Razak dan Salvador Lopez. Diceritakan, “salah satu saat puncak ialah usalta pembantu Dr. Subandrio yakni Suwito Kusumowidagdo menerakan bahwa perkataan crush (sebagaimana diterjemahkan dalam ungkapan. “Crush Malaysia”) sesungguhnya berarti dalam bahasa Jawa hanyalah serupa dengan “Chew Malaysia”. Adapun perkataan chew berarti “mengunyah” dan dengan tiada ayal The Economist memberi judul yang bersifat menyindir pada komentarnya yakni “Chewing Malaysia”.

Masalah Malaysia menjadi buah percakapan pula antara saya dengan Duta Besar Amerika Howard P. Jones tanggal 18 Maret lalu di sebuah cocktail party di rumah Paul Neilson, Direktur USIS (Badan Penerangan AS). Duta Besar Jones tanggal 17 Maret mengadakan pembicaraan dengan Presiden Sukarno. Maka saya tanyakan bagaimana pendirian Presiden tentang penyelesaian soal Malaysia, apakah ia bersedia pergi ke Konperensi Puncak (lndonesia-Filipina-Malaysia)?

Jones menjawab Presiden bukan saja bersedia melainkan mau pergi ke Konperensi Puncak (“He wants to go to the Summit Meeting”).

“Bagaimana mood atau suasana perasaan Presiden sekarang? Apakah Presiden tampaknya peka dan memperhatikan opini dunia luar bertalian dengan politik konfrontasinya terhadap Malaysia?” tanya saya.

“Anda tahu bahwa Presiden tidak memperhatikan opini pihak luar. Ia lebih memperhatikan opini di dalam negeri,” jawab Jones.

Sebagai diplomat ia tentu berbicara hati-hati dengan saya walaupun dia sudah mengenal saya sejak dia masih bertugas di Washington pada tahun 1954.

Saya tegaskan pendapat saya jika Presiden diberi pengertian tentang adanya faktor-faktor kekuatan luar atau external force dalam masalah Malaysia, maka mungkin Presiden akan memperhatikan external force itu dan menyesuaikan sikapnya? Jones menjawab:

“You cant threaten the President” (Orang tidak dapat mengancam Presiden).

“0 ya, itu saya mengerti juga. Orang harus ingat psikologi orang Jawa yang tidak mau diancam atau digertak tetapi lebih suka memilih sikap hancur sendiri daripada ditekan,” kata saya menyela. Senyuman lebar terkembang di wajah Jones dan ia mengangguk-angguk. Yes, yes, thats true.”

saya tambahkan mengatakan:

“There must be another approach” (Mestilah ada pendekatan lain).

Saya jelaskan Presiden bisa diinsafkan tentang implikasi-implikasi ekonomi dari politik yang sedang dijalankannya. Ingatlah sekarang ada pemerosotan ekonomi. Apakah Presiden tidak sadar akan hal itu? Tanya saya.

Jones menerangkan dia mendapat kesan dari percakapannya dengan Presiden hari Selasa lalu, “The President realises he has a serious problem now (Presiden menyadari dia menghadapi masalah serius sekarang). Lebih daripada itu tampaknya Jones tidak mau menjelaskan. Akan tetapi toh ditambahkannya dia agak hopefull (lebih berpengharapan) sekarang ketimbang beberapa waktu yang lalu. Setidak-tidaknya eksplosi di Kalimantan Utara dapat dicegah, kata Jones.

“Konperensi Tingkat Tinggi bakal ada tetapi tidak sesudah berlangsungnya dulu pemilihan umum di Kuala Lumpur. Kita harus menunggu saja dahulu dalam beberapa minggu ini”.

Demikian kata Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 435-437.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*