PERCAKAPAN DENGAN BUNG HATTA

PERCAKAPAN DENGAN BUNG HATTA [1]

 

11 Maret 1964

 

Senin sore yang lalu Presiden Sukarno menerima kunjungan Hatta di Istana Merdeka dan sehabis pertemuan mereka, Presiden hanya mengatakan kepada  wartawan  ketika  ditanya apa yang sudah dibicarakan. “Teman lama, teman lama.” Keesokan harinya yakni Selasa siang tanggal 10 Maret Presiden pergi ke rumah Hatta di Jalan Diponegoro mengadakan kunjungan balasan dan di situ Hatta memberi keterangan kepada pers : “Lebaran” terang sekali kedua peinimpin itu tidak mau menjelaskan apa sesungguhnya yang mereka bicarakan.

Bung Hatta tampaknya telah lebih sehat ketika yang terakhir saya kunjungi dia di hari Lebaran tanggal 15 Februari lalu. Tahun yang lalu Bung Hatta jatuh sakit. Sebagian badannya menjadi kaku susah digerakkan sehingga dia harus dirawat di rumah sakit. Atas nasihat dokter-dokter yang memeriksanya ia harus berobat di luar negeri dan mengalami pemeriksaan yang teliti di sana. Hatta telah pergi ke Swedia dan Sukarno memberikan segala fasilitas supaya Hatta Iekas sembuh.

Bagaimana pandangan Bung Hatta tentang situasi di tanah air sekarang? Saya hanya dapat menyebutkan percakapan saya dan Koko dengan Bung Hatta di bungalownya di Megamendung tanggal 25 November 1963. Kebetulan sekali Koko dan saya Jagi berada di sana dan pagi itu kami kunjungi Bung Hatta. Dari Hatta kami mendengar Presiden Kennedy baru saja meninggal dunia karena ditembak oleh seorang pembunuh bersembunyi selagi Kennedy mengadakan kunjungan ke Dallas di Texas.

Beberapa waktu lamanya Hatta dan kami membicarakan kejadian yang mengejutkan itu, peranan Kennedy dalam percaturan internasional dan kemungkinan pengaruh matinya Kennedy terhadap politik internasional. Barangkali karena percakapan dibayangi oleh suasana berita kematian Kennedy, Koko kemudian mengalihkan pembicaraan dan bertanya kepada Bung Hatta:

“Bagaimanakah sejarah kelak akan menilai Bung Karno?”

Dengan tiada ayal Hata menjawab :

“Sukarno akan dicatat sebagai orang yang telah menyalakan nasionalisme dan pergerakan rakyat di masa sebelum proklamasi kemerdekaan : Sukarno is de nationalist en vrijheidsstrijder, ” (Sukarno adalah nasionalis dan pejuang kemerdekaan) kata Hatta.

Kami membicarakan tentang konfrontasi dengan Malaysia, pemutusan hubungan dagang dengan Singapura, menjadikan Sabang pelabuhan bebas dan sebagainya. Hatta mengingatkan gagasan mengalihkan perdagangan luar negeri Indonesia sehingga menjadi tidak tergantung kepada Singapura­-Malaya sudah diajukannya pada tahun 1947.

“In 47 heb ik toch al gezegd, toen was ik op Sumatraujar Bung Hatta .

Dan ia menguraikan pikiran dan tindakan-tindakan yang dilakukannya waktu itu guna mengalihkan jurusan perdagangan luar negeri Indonesia. Hatta tidak percaya kepada kegunaan free port Sabang sebab pada hakikatnya pokok persoalan tidak terletak di situ. Pokok soalnya ialah di daerah-daerah produsen basil bumi seperti karet di Sumatra Selatan, Jambi dan lain lain yakni bagaimana memperbaiki mutu karet hingga langsung dapat diekspor tanpa melalui Singapura, bagaimana memberikan fasilitas kredit dan alat-alat kepada produsen karet, bagaimana memecahkan persoalan perkapalan. Kalau bidang itu dapat diperbaiki, maka kita sudah jauh sekali maju, kata Hatta.

“Apakah Bung percaya bahwa tindakan-tindakan ekonomi yang diambil itu baik dan bisa dijalankan?” tanya saya.

Hatta menjawab ia setuju sekali dengan pemutusan hubungan dagang dengan Singapura-Malaya sebab memang kita harus mengusahakan herstructurering (penataan kembali) perdagangan kita akan tetapi apakah bisa dijalankan oleh pemerintah ini, itu soal lain.

Kenapa? “Subandrio bukanlah seorang ahli ekonomi,” kata Hatta.

Kami singgung juga tentang berapakah jumlah partai politik yang kelak baik adanya? Hatta menerangkan  dalam taraf pertama nanti dia menganggap sebaiknya ada tiga partai saja yaitu yang berhimpun sekitar golongan Islam Pancasila, golongan Nasionalis dan golongan Komunis. Uiteinnde,lijk (pada akhirnya) akan ada dua partai yakni golongan yang berkumpul sekitar Sosialisme Pancasila dan golongan komunis, demikian Hatta .

“Bagaimana pendapat Bung Hatta tentang .golongan militer yang kini menjalankan peranan besar dalam kehidupan negara kita?” tanya kami.

Hatta menjawab,

sebaiknya kita kembali lagi kepada ide dahulu yakni suatu militia leger (tentara milisi).

Juga anggaran belanja angkatan bersenjata harus dapat kita kurangi. “Tetapi dapatkah hal itu dilakukan mengingat sudah banyak vested interest dalam kalangan angkatan bersenjata? “Hatta optimis ia menyebutkan nama beberapa perwira yang dikenalnya dari uman ia mengajar di SESKOAD dulu yang dianggapnya masih baik dan dapat diajak mengadakan perbaikan dalam tentara.

 “Apakah Bung Hatta bersedia menduduki sesuatu jabatan resmi dalam pemerintah Sukarno sekiranya Bung ditanya oleh Presiden ?”

Dengan tegas Hatta menjawab hal itu susah sekali baginya sebab bagaimanakah ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya itu secara moral nanti? “Begitu banyak teman saya ditahan tanpa prosedur hukum yang semestinya. Negara kita sekarang bukan suatu negara hukum, jadi susah bagi saya buat bekleden een officielefunctie (menduduki suatu jabatan resmi). Tapi untuk jadi penasehat tidak resmi, saya mau. Dan sekarang pun diminta atau tidak diminta saya tulis surat kepada Presiden tentang pendapat saya mengenai soal-soal ekonomi,” ujar Hatta .

Demikianlah intisari pembicaraan Bung Hatta dengan Koko dan saya di Megamendung bulan November tahun lalu. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 415-418.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*