Penyerbuan Maskas Trip Dan Gugurnya Moeljadi: Kesaksian H Muslich Rizza, BA

Penyerbuan Maskas Trip Dan Gugurnya Moeljadi [1]

(Kesaksian H Muslich Rizza, BA)[2]

Muslich Rizza:, BA adalah mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Kabupaten/Kota Madiun. Berikut  penuturan  kesaksiannya.

Setelah PKI berkuasa di Kota Madiun, rakyat sungguh ditekan habis-habisan. Pemerintahan PKI Muso mengumumkan: beras, gula, kopi, jagung, gaplek, kedelai, kacang, kain (sandang) serta berbagai barang kebutuhan lain sudah harus didaftarkan dalam tempo  lima  hari. Jika ketentuan  ini dilanggar, maka  barang-barang  dimaksud akan disita.

Lebih kejam lagi, setiap orang hanya diperkenankan memiliki kekayaan yang tidak lebih dari nilai Rp. 500. Kekayaan lebih dari nilai itu, baik berupa emas, intan berlian, uang dan tanah , harus diserahkan kepada pemerintah.

Sementara itu, Pemerintahan  PKI menjanji kan murid -murid Sekolah Rakyat (SR/setingkat SO) dan Sekolah Lanjutan Pertama (SLP) dibebaskan dari pembayaran sekolah. Jika saat pengambilalihan kekuasaan telah mengakibatkan adanya anak yang terpisah hubungannya dengan para orang tuanya, maka anak demikian, akan mendapat j aminan sepenuhnya dari pemerintah. Di sektor pendidikan ini, Pemerintah PKI juga menjanjikan berdirinya universitas dengan memanfaatkan gedung bekas asrama CPM di Jalan Wilis (kini, jalan terusan dari Jalan Lawu ini, menjadi Jalan A. Yani).

Pelajar di Madiun menyambut penyampaian janji tersebut dengan cemoohan. Lebih dari 6.000 pelajar yang dikumpulkan di Pendopo Kabupaten Madiun untuk mendengarkan pengumuman dan janji pemerintah  tersebut, sangat gaduh. Mereka bersorak sorai dan tepuk tangan berirama . Muntalib, Residen Madiun dari Pemerintahan PKI meminta agar pelajar dapat duduk dengan tenang, namun disambut dengan suara “sssstttl’ serentak dan panjang selama lebih lima menit.

Ketika Residen Muntalib memulai pidato, seorang pelajar berteriak : “Wah lakone awit (Wah, permainan dimulai).” Segenap pelajar tertawa terbahak-bahak bagai tiada henti menyambut celoteh itu. Kemudian disusul celoteh yang lain; “Nek dedek-e wonge ora sepiro, mung mata-matane.” (Kalau perwujudan orangnya tidak seberapa bahaya, tapi punya mata-matanya yang lebih berbahaya”). Sorak sorai menyambut celoteh kembali membahana, kemudian sssstttt, ssssttt dan terus gaduh tidak lagi dapat dikendalikan.

Alat pengeras  suara yang dipasang,  tidak  lagi mampu menembus kegaduhan .Terlebih ketika ada orang gila yang sengaja dimasukkan oleh para pelajar ke tempat pertemuan itu. Orang gila ini ke depan, kemudian memberi salam layaknya seorang pandu. Residen Muntalib terlihat putus asa. Pertemuan itupun dibubarkan. Massa pelajar meninggalkan  Pendopo Kabupaten dengan meneriakkan  yel-yel  “Minta Ganti Moeljadi.”

Kejadian di Pendopo Kabupaten Madiun itu memang terpicu oleh terbunuhnya Moeljadi—pelajar yang masih belia dan seorang anggota TRIP Brigade 17—empat hari sebelumnya, dalam rangkaian peristiwa Pemberontakan PKI 1948 di Madiun.

Pelajar di Kota Madiun telah benar-benar marah ketika mengetahui Moeljadi dibunuh pada sekitar 22 September 1948 dalam sebuah penyer buan yang dilakukan Pasukan Merah terhadap markas TRIP Brigade 17 (kini SMP Negeri 2 di Jalan HA Salim, Madiun) .

Moeljadi ditembak mati ketika tengah berjaga sebagai pengawal markas. Tragisnya, penembakan itu dilakukan oleh kakaknya sendiri (kalau tak salah bemama Moeljono) yang ikut menjadi Tentara Merah. Moeljadi yang sudah tidak bernyawa, masih pula ditusuk-tusuk dengan senapan berujung belati sangkur.

Penyerbuan ke markas TRIP itu diikuti dengan pelucutan senjata dan penangkapan terhadap sembilan pemimpin·TRIP. Tujuh orang di antaranya dibebaskan dari penjara Kota Madiun. Sedang dua orang lainnya dibunuh di Kresek. Dua orang TRIP yang dibunuh itu, satu diantaranya adalah Soetopo, pelajar SMA Pertahanan, yang baru saja meraih medali emas lomba lari cepat dalam Olimpiade Nasional (PON pertama) yang digelar di Solo.

Peristiwa penyerbuan markas TRIP dan tewasnya Moeljadi sungguh memicu kemarahan pelajar di kota Madiun. Pemakaman jenazah Moeljadi ke Taman Makam Pahlawan diiringi ribuan pelajar yang kemudian melakukan demonstrasi besar-besaran. Sejumlah pelajar, ketika itu secara rahasia membentuk aliansi Pelajar Anti Muso (PAM), berani tampil secara terang-terangan. Mereka tidak lagi mengindahkan bahaya.

Mereka menempel poster-poster pertentangan terhadap Pemerintah PKI. Aktivitas perlawanan pelajar terus berlangsung hingga empat hari kemudian.

Mereka dikumpulkan di Pendopo Kabupaten Madiun untuk mendengarkan penjelasan pemerintah. Demikian pula sehari berikutnya, namun mereka kembali menggelar demonstrasi besar-besaran. Mereka berbaris menuju Taman Makam Pahlawan, menziarahi makam Moeljadi, sekaligus memperingati tujuh hari kematiannya.

  1. Muslich Rizza, BA mengungkapkan bahwa penyusupan PKI ke kalangan tokoh agama juga terjadi. Di Bojonegoro misalnya, ada seorang haji, Haji Zaini, yang bergabung dengan PKI. Ia selalu menyatakan “Jerman Timur itu komunis, nyatanya bisa maju. Begitu juga Cina, Kuba, Korea Utara . ltu kan berarti Tuhan meridloi-Nya,” katanya yang demikian  menyesatkan.

Tentu saja sinyalemen itu tak  sesuai dengan  ajaran Islam. Kita mengetahui janji Allah SWT melalui AI Quran: di dunia Allah SWT melimpahkan kenikmatan kepada siapa saja; baik yang iman maupun yang kafir; baik yang Islam maupun yang komunis; baik yang melecehkan Allah maupun yang mengagungkan Allah. Di dunia semua manusia mendapat kenikmatan. Namun, di hari akhir di akherat kelak hanya mereka yang beriman, bertaqwa  dan beramal saleh saja yang mendapat  tempat di sisi Allah SWT.

Sepanjang   pengalamannya,    H.   Muslich   melihat   orang komunis, melalui berbagai cara; baik dengan secara kasar maupun halus,  senantiasa  berupaya  agar  orang  beragama  tidak  lagi percaya  adanya Tuhan. Jika  saja  dalam  pemberontakan  kedua, 30 September  1965,  PKI mendapatkan  kemenangan,  orang-orang beriman akan dibunuh semua.  Lebih 75 persen rakyat Indonesia  akan dibunuh  dan ditinggalkan  25 persen  yang  komunis atau  yang  dekat  dengan  komunis.  “Alhamdulillah,  pemberontakan itu dapat digagalkan,” kata  H. Muslich.

Setelah pemberontakan  di Madiun  tahun  1948, sayangnya, PKI tidak dibubarkan. Di samping karena aksi polisionil kedua Belanda, juga karena PKI memang pandai dalam berdalih dan membela diri. PKI berhasil mendapat pengampun an dari Presiden Soekarno. Perist:iwa ini memberi kesempatan DN Aidit, Nyoto, Lukman dan kawan-kawan kembali menyusun kekuatan . Tumpuan perjuangan PKI ket:ika itu adalah: Buruh (SOBSI), Wanita (Gerwani), Pemuda (Pemuda Rakyat), Maha siswa (CGMI), Petani (BTl), Seniman (LEKRA), Surat Kabar (Harian Rakyat) serta sel-sel mereka yang berhasil menyusup ke dalam kekuatan TNI serta yang lain.

Tujuh tahun setelah pemberontakan itu, Pemilu pertama 1955 dilaksanakan . PKI secara nasional bisa ke luar sebagai pemenang ke-4, setelah PNI, Masyumi dan NU. Khusus di Jawa Timur pemenang pertama adalah Partai NU dan khusus di Madiun pemenang pertama adalah  PKI. Di Kotamadya Madiun, PKI menang mutlak, sehingga antara 1955 – 1965, walikota Madiun berasal dari akt:ivis PKI. Demikian juga PKI berhasil menduduki kursi Bupati Madiun, Ngawi, Magetan dan Pacitan.

Ironisnya, t:idak sedikit pemuda di daerah ini yang termakan propaganda PKI yang sejak awal memutar balik cerita Pemberontakan 1948. PKI mengatakan bahwa Peristiwa Madiun adalah provokasi Hatta . Padahal, sebagian pemuda itu punya kakek atau bapak atau paman yang menjadi korban kekejian PKI 1948. Propaganda PKI yang lihai telah menempatkan posisi politik PKI tetap berpengaruh pada Pemilu 1955, walaupun 7 tahun sebelumnya melakukan pembantaian yang keji terhadap banyak ulama di Jawa Timur.

[1]    Dikutip dari buku “KESAKSIAN KORBAN KEKEJAMAN PKI 1948, Kesaksian KH. Roqib “, Komite Waspada Komunisme, Jakarta:2005, hal 37-43

[2]    Muslich Rizza:, BA adalah mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Kabupaten/Kota   Madiun

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*