Penumpasan PKI Madiun Ke Utara (1): Rencana Operasi

Penumpasan PKI Madiun Ke Utara (1): Rencana Operasi[1]

 

Operasi penumpasan PKI Madiun ke arah utara meliputi Solo-Purwodadi-Blora-Cepu-Kudus-Pati. Pada tanggal 20 September 1948 Komandan Brigade 12 Letnan Kolonel Kusno Utomo mendapat perintah langsung dari Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk merebut dan membebaskan daerah utara Jawa Tengah, dari tangan pasukan PKI. Rencana operasi Komandan Brigade 12 adalah Batalyon Kosasih dan Batalyon Kemal Idris sebagai kekuatan inti.Sedangkan daerah sasaran operasi adalah daerah pergolakan Jawa Tengah Utara bagian Timur yaitu daerah Purwodadi-Kudus-Pati-Blora-Cepu dan daerah sekitarnya. Kedua batalyon ini bergerak dari Yogyakarta ke Solo untuk melapor kepada Gubernur Militer II Kolonel Gatot Soebroto untuk menerima perintah lebih lanjut. Pada saat itu Batalyon Kemal Idris sedang bertugas sebagai pasukan basis dari KKK (Komando Keamanan Kota) Yogyakarta, dan telah pula melakukan pembersihan dan penangkapan terhadap oknum-oknum PKI di Ibu kota Yogyakarta. Setelah menerima perintah, Batalyon Kemal Idris segera bergerak ke Solo.[2] Setibanya di Klaten, daerah perbatasan antara Brigade 10 (Soeharto) dan Brigade 6 (Soeadi), Batalyon Kemal Idris dihentikan satu hari satu malam oleh pasukan Batalyon Sunitioso. Ketika terjadi huru-hara di Solo pada pertengahan bulan September 1948, Batalyon Sunitioso yang berkedudukan di Klaten mendapat perintah dari komandan Resimen 26 di Solo untuk menghalang-halangi dan menggagalkan gerakan semua gerakan pasukan Siliwangi (termasuk Batalyon Kemal Idris) dari Yogyakarta ke Solo yang diperkirakan akan menambah kekacauan di kota itu. Bentuk lain dari pelaksanaan perintah tersebut, di beberapa jembatan dan jembatan kereta api dan jalur reI Yogyakarta-Solo telah dipasang rel ranjau dan bom-bom tarik yang sewaktu-waktu dapat diledakkan.[3]

Peristiwa penghentian gerakan Batalyon Kemal Idris di Klaten oleh Batalyon Sunitioso ini hampir menimbulkan insiden. Kesalah pahaman itu terjadi dengan alasan Mayor Sunitioso belum mengetahui perkembangan situasi.[4]Masalah ini dapat diatasi setelah Mayor Kemal Idris menjelaskan kepada Mayor Sunitioso bahwa gerakan pasukannya atas perintah Panglima Besar Soedirman.[5]dan bukan untuk memperkeruh situasi di Solo. Akhirnya Mayor Sunitioso memerintahkan agar detonator dari bom-bom dan ranjau dilepas di bawah pengawasan Kapten Katamso. Selanjutnya Batalyon Kemal Idris diperkenankan melanjutkan perjalanannya ke Solo. Setelah melapor kepada Gubernur Militer Gatot Soebroto, kemudian Mayor Kemal Idris menerima perintah untuk melaksanakan operasi penumpasan pemberontak PKI ke daerah Utara.[6]

Sementara itu Batalyon A. Kosasih yang berkedudukan di Magelang tiba di Yogyakarta pada tanggal 21 September 1948 dan melaporkan kedatangan Batalyonnya kepada Komandan Brigade Letnan Kolonel Kusno Utomo. Komandan Brigade memerintahkan agar pasukan ini segera bergerak ke Solo.[7]Dalam rangka operasi menumpas pemberontak PKI. Supaya tidak menemui kesulitan seperti yang dialami oleh Mayor Kemal Idris, sebelum pasukannya bergerak ke Solo Kapten A. Kosasih terlebih dahulu menemui Mayor Sunitioso. Pada tanggal 23 September 1948 dengan sebuah jeep dikawal oleh beberapa orang prajurit, Kapten A. Kosasih berangkat ke Klaten. Mayor Sunitioso sulit ditemui. Berkat bantuan Kapten Sunarso Komandan CPM setempat, Mayor Sunitioso berhasil ditemui. Kapten A. Kosasih menjelaskan bahwa pasukannya akan bergerak ke Solo, dan menanyakan dengan alat angkut apa pasukannya bisa dibawa dengan aman. Mayor Sunitioso meminta agar pasukan diangkut dengan mobil, sebab rel kereta api di daerah Klaten serta di beberapa tempat lainnya sudah dipasang trekbom. Setelah mendapat petunjuk dari Mayor Sunitioso ia kembali ke Yogyakarta.

Begitu tiba di Yogyakarta, Kapten A. Kosasih langsung mendapat perintah dari Komandan Brigade 12, supaya pasukannya segera berangkat ke Solo, dengan menggunakan mobil. Komandan Brigade menyatakan ikut bersama rombongan Batalyon A. Kosasih.Gerakan batalyon ini didahului oleh Komandan Brigade 12 dengan pengawal satu peleton. Namun di Klaten Letnan Kolonel Kusno Utomo beserta pengawalnya ditahan satu malam oleh anggota Batalyon Sunitioso. Setelah diketahui oleh Mayor Sunitioso, rombongan dibolehkan meneruskan perjalanannya ke Solo.[8]

Di Solo Batalyon Kosasih ditempatkan sementara di Loji Gandrung untuk istirahat dan konsolidasi. Anggota pasukannya diperintahkan agar tetap di tempat dan tetap dalam keadaan siaga. Setelah mengatur penempatan pasukannya Komandan Batalyon melaporkan diri kepada Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto. Sejak tiba di Solo, Batalyon ini secara taktis operasional berada di bawah perintah Gubernur Militer Gatot Soebroto. Kemudian Kolonel Gatot Soebroto memerintahkan kepada Kapten A. Kosasih supaya segera bergerak membantu Batalyon Nasuhi yang mengalami kesulitan dalam merebut Sukohardjo.[9]Sukohardjo harus secepatnya direbut dari tangan pemberontak, supaya operasi penumpasan selanjutnya dapat diteruskan ke Wonogiri, sesuai dengan waktu yang tersedia.[10]Semua alat angkutan yang ada boleh digunakan asal Sukohardjo dapat direbut secepatnya. Kota Sukohardjo saat itu dipertahankan oleh Brigade Jadau dari TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia).

Sebelum bergerak, Kapten A. Kosasih mengadakan briefing singkat dengan para komandan bawahan dan perwira staf batalyonnya. Ia memerintahkan perwira angkutan batalyon untuk menyiapkan kendaraan yang akan segera digunakan merebut Sukohardjo. Dengan serangan singkat pada tanggal 25 September 1948, pukul 08.00 pagi, Kantor Kabupaten Sukohardjo berhasil diduduki. Pada hari itu seluruh kota Sukohardjo dapat dikuasai Batalyon A. Kosasih. Pasukan pemberontak TLRI yang bertahan di Sukohardjo mundur dengan meninggalkan banyak korban. Dalam operasi merebut Sukohardjo ini, gugur seorang komandan peleton TNI yaitu Letnan Sobari dari Kompi Rojak Suyono.[11]

Satu jam sesudah jatuhnya Sukohardjo Kepala Staf KRU-Z Letnan Kolonel Abimanyu datang membawa perintah Gubernur Militer Gatot Soebroto, agar Batalyon Kosasih segera kembali ke Solo. Tanggung jawab keamanan Sukohardjo supaya diserahkan sepenuhnya kepada Batalyon Nasuhi. Kapten A. Kosasih dinaikan pangkatnya menjadi Mayor. Selanjutnya mendapat perintah untuk beroperasi ke daerah Purwodadi dan sekitarnya.[12]

Sementara itu pada 11 September 1948, Batalyon Soeryosoempeno dari Resimen Sarbini yang berkedudukan di Magelang mendapat perintah langsung dari Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk segera berangkat ke Solo, karena di kota ini sedang terjadi kekacauan. Tugas yang diberikan adalah pengamanan kota. Perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman disampaikan melalui Komandan CPM Letnan Kolonel A. J Mokoginta.[13]Perintah itu diterima dengan perasaan ragu-ragu. Kemudian ia melapor kepada Komandan STC Letnan Kolonel Sarbini dan kepada Panglima Komando Pertahanan Jawa Tengah Kolonel Bambang Sugeng. Ketika melapor kepada Panglima Divisi kebetulan Panglima Besar berada di sana. Beliau menegur : “Kamu kok belum berangkat”! Maka yakinlah ia bahwa pemerintah itu benar-benar perintah Panglima Besar. Dalam tugas ini Batalyon Soeryosoempeno tidak sebagai batalyon infanteri melainkan bertindak sebagai batalyon Polisi Militer (PM). Sebelum berangkat semua anggota diharuskan memakai banlengan dengan tulisan PM.

Tanggal 13 September 1948 malam hari batalyon Soeryosoempeno tiba di Solo. Mayor Soeryosoempeno segera menemui Kapten Sujono Kusumotirto Komandan Detasemen Polisi Militer Solo dan memperlihatkan Surat Perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ia menyatakan sejak saat ini tanggungjawab keamanan kota Solo diambil alih oleh Batalyon PM Soeryosoempeno.[14]

Selanjutnya ia menemui Kepala Kepolisian Karesidenan Solo Komisaris Polisi Saleh Sastranegara, dan menyatakan bahwa atas dasar perintah Panglima Besar Soedirman, tanggung jawab keamanan yang semula menjadi tugas Kepolisian diambil alih oleh Batalyon Soeryosoempeno. Tugas pengamanan di kota Solo dilaksanakan dengan hasil baik. Panglima Besar juga memerintahkan kepada Batalyon Soeharto yang berkedudukan di Beteng untuk ikut membantu mengamankan kota. Situasi kota Solo mulai aman kembali. Dalam perkembangan selanjutnya tanggung jawab keamanan di Solo diserahkan kepada Batalyon Surono pimpinan Mayor Surono,[15] yang didatangkan dari Cilacap.

Selanjutnya Batalyon Soeryosoempeno menerima tugas baru, di bawah perintahkan kepada Brigade 12 KRU-Z.

***

 

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris, Jakarta, 16 Juni 1976

[3]     Wawancara dengan Brigjen TNI (Pur) Sunitioso, Jakarta, 12 Mei 1976

[4]     Idem

[5]     Mayor Sunitioso, Mayor Kemal Idris dan Karten A. Kosasih adalah kawan satu angkatandalam latihan Seinen Dojo (latihan pemuda di Tangerang pada jaman Jepang (1943)

[6]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris.

[7]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

[8]     Wawancara dengan Letjen TNI (Purn) Kusno Utomo

[9]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

[10]    Kapten A. Kosasih mendapat perintah tertulis dari Kolonel Gatot Soebroto di secarik kertasbekas pembungkus rokok KOA untuk merebut Sukohardjo dari tangan musuh.

[11]    Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

[12]    Idem

[13]    Wawancara dengan Mayjen TNI (Pur) Soeryosoempeno, Semarang, 19 Juni 1976

[14] Wawancara dengan Mayjen TNI (Pur) Soeryosoempemo

[15] Idem

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*