Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (3): Kekuatan Pasukan TNI

Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (3): Kekuatan Pasukan TNI[1]

Sampai awal 1948 sebelum Reorganisasi dan Rasionalisasi (Rera) dilaksanakan di Jawa Timur terdapat tiga Divisi TNI, yaitu :

– Divisi V Ronggolawe; dengan Panglima Divisi Jenderal Mayor Djatikusumo

– Divisi VI Narotama; dengan Panglima Divisi Jenderal Mayor Soengkono.

– Divisi VII Suropati; dengan Panglima Divisi Kolonel Bambang Soepeno.

Divisi Ronggolawe berkekuatan empat Resimen yang masing­masing, berlokasi pada wilayah karesidenan Madiun dan Karesidenan Bojonegoro. Divisi Narotama berkekuatan empat Resimen berlokasi di wilayah Karesidenan Kediri dan Surabaya.[2] Sedang dislokasi pasukan Divisi Suropati berada di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki.[3] Penggelaran pasukan itu semata-mata didasarkan bagi kepentingan pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan Belanda. Oleh karena itu penggelaran batalyon-batalyon dipusatkan di sepanjang garis demarkasi yang langsung berhadapan dengan kekuatan Belanda. Adapun dislokasi Batalyon-batalyon TNI diJawa Timur sebagai berikut :

  • Sektor pertahanan Surabaya Barat, ditempatkan Batalyon Jarot, Batalyon Sumarsono, Batalyon Cholil Tohir, dan Batalyon Darmosugondo.
  • Sektor pertahanan Surabaya Selatan ditempatkan Batalyon Bambang Yuwono, Batalyon Isa Edris, Batalyon Soetjipto, Batalyon Mobrig Polisi, dan Batalyon Mansur Solikhi.Sektor pertahanan Malang Selatan Batalyon Muchlas Rowi, Batalyon Worang (KRU-X), Kompi PT (Polisi Tentara) dan KompiTRIP.
  • SektorTulungagung, Batalyon Harsono.
  • Sektor Kediri, Batalyon Sunandar.
  • Sektor Blitar, Batalyon Mudjajin.
  • Sektor Nganjuk, Batalyon Sunarjadi dan Kompi PT Sektor Sektor pertahanan. Bojcnegoro ditempatkan Batalyon Basuki Rachmat, Batalyon Chris Sudono, Batalyon Abdullah, dan Kompi PT.
  • Sektor Madiun, Batalyon Suprapto Sokowati.[4] Namun setelah Rera, tiga Divisi Jawa Timur

Disederhanakan menjadi satu divisi. Divisi ini membawahi lima brigade yaitu :

  • Brigade 1 Sudirman di Bojonegoro,
  • Brigade 2 Surachmat di Kediri,
  • Brigade 3 Sruji (Brigade Hijrah) di Blitar,
  • Brigade 4 Sudjono di Kepanjen – Malang, dan Brigade Khusus Kretarto di Jombang. [5]

Di samping brigade-brigade tersebut sebagai kekuatan inti TNI di Jawa Timur, masih terdapat pasukan-pasukan yang berasal dari Badan-Badan Perjuangan, yang terdiri dari Pesindo, Hisbullah, dan BPRI.Sejak semula pasukan-pasukan tersebut tertampung dalam satu brigade kelaskaran yaitu Brigade XXIX di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dahlan. Brigade ini belum sempat direorganisasi.[6]

Pelaksanaan Rera di Jawa Timur berjalan seret karena menyangkut penyederhanaan kekuatan pasukan dari tiga divisi menjadi satu divisi sehingga menimbulkan berbagai permasalahan psikologis pada tubuh Angkatan Perang diJawa Timur.Sebelumnya para Panglima Komando Pertahanan Daerah sudah dilantik oleh Panglima Besar Soedirman. Untuk Komando Pertahanan I, Panglima Kolonel Bambang Soepeno, Kepala Staf Letnan Kolonel Marhadi, Komando Pertahanan II Pertempuran, Panglima Kolonel Sutarto. Komando Pertahanan III, Panglima Kolonel Bambang Soegeng dan Kepala Staf Letnan Kolonel Wadyono. Masalah siapa yang akan ditunjuk sebagai Panglima merupakan masalah yang belum terselesaikan sampai meletusnya pemberontakan PKI Madiun 1948 karena pengangkatan Kolonel Bambang Soepeno diprotes oleh para perwira Jawa Timur. Mereka menghendaki Kolonel Soengkono sebagai Panglimanya.

Dalam suasana demikian tetap dibentuk Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) dengan susunan sebagai berikut :

                Kepala Staf SPDT              : Letnan Kolonel Marhadi

                Asisten I SPDT                   : Kapten Bismo

                Asisten II SPDT                  : Mayor Rukminto

                Asisten III SPDT                 : Kapten Kartidjo

                Asisten IV SPDT                  : Kapten Slamet Ali Yunus

                Sekretaris SPDT                 : Kapten Usman Ariotedjo.

Untuk menghindari menajamnya perbedaan pendapat itu, Letnan Kolonel Marhadi memerintahkan Markas SPDT (semula markas Divisi Kediri) dipindahkan ke Madiun. Daerah Karesidenan Madiun sendiri kemudian termasuk daerah Gubernur Militer IIIyang dipimpin oleh Kolonel Gatot Soebroto.

Belum adanya penyelesaian masalah penunjukan seorang Panglima telah menimbulkan ketegangan pada satuan-satuan yang ada. Kolonel Soengkono,[7] bekas Panglima Divisi Narotama yang tidak memegang jabatan lagi diusulkan untuk menjabat sebagai Panglima, sekalipun Markas Besar kurang berkenan. Hal ini mengundang pertanyaan, siapa yang akan diangkat menjadi Panglima hasil Rera.

Sementara itu empat dari lima brigade hasil bentukkan Rera terakhir terlibat dalam konsentrasi menghadapi kemungkinan serangan Belanda yaitu Brigade Kretarto, Sudjono, Sruji dan Soedirman. Sedangkan satu brigade lagi dipersiapkan sebagai cadangan Divisi yaitu Brigade 2/ Surachmat yang berkedudukan di Kediri :

Komandan Brigade          : Letnan Kolonel Surachmat.

Brigade Mayor

(Kepala Staf Brigade)      : Mayor Jonosewoyo

StafI                                       : –

StafII                                     : KaptenJonoatmodjo

 StafIII                                   : Kapten Sukiyat

  StafIV                                  : Kapten Akhiyat

   StafV                                   : Kapten Tulus.

Brigade 2/Surachmat berkekuatan empat batalyon, yaitu :

  1. Batalyon Sunarjadi di Nganjuk
  2. Batalyon Banoeredjo di Kediri
  3. Batalyon Harsono di Tulungagung
  4. Batalyon Mudjajin di Blitar.

Di samping itu di daerah Kediri ada beberapa batalyon yang berasal dari Mojokerto, bekas Divisi Narotama yaitu (Brigade Kretarto) :

– Batalyon Bambang Juwono di Ploso

– Batalyon Sunandar di Pare,

– Batalyon Sudarsono di Minggiran,

– Batalyon Sumarsono di Purwosari, dan

– Kompi Macan Kerah (Sampurno), Kompi Pengawal Panglima Divisi Narotama di Kediri,

– Baterai Artileri di Kertosono.

Dari Brigade Soedirman, Batalyon Suprapto Sokowati (SS) markasnya di Maospati, Madiun, sedang kompi-kompinya tersebar di beberapa kota, yaitu :

  1. Satu kompi di Ponorogo,
  2. Satu kompi di Madiun,
  3. Satu kompi di Maospati,
  4. Satu kompi di Ngawi.[8]

Di samping kekuatan pasukan tersebut di atas, di Jawa Timur masih terdapat beberapa pasukan lain seperti Mobiele Brigade Polisi, Penjaga Pangkalan AU dan pasukan KRU-X. Kekuatan Pasukan Mobiele Brigade Polisi terdiri dari :

  1. Dua kompi Mobiele Brigade Kecil (MBK) Surabaya, di Blitar.
  2. Dua kompi Mobiele Brigade Besar (MBB), bermarkas di Blitar.

Satu setengah kompi Pasukan Penjaga Pangkalan Maospati dari Angkatan Udara berada di Maospati (sekarang Iswahyudi), Madiun di bawah pimp in an OMO II Suprantyo dan di Ngunut (Tulungagung). Juga ada pasukan dari Brigade 16/KRU-X yaitu Batalyon Worang.

Kekuatan TNI di Jawa Timur yang diperintahkan untuk menumpas pemberontakan PKI berkekuatan satu Brigade yang di perkuat yaitu Brigade 2/Surachmat. Brigade ini adalah brigade cadangan Divisi.Sedangkan brigade-brigade lainnya tetap di dislokasi sepanjang garis demarkasi untuk menghadapi Belanda.

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Semdam VIII/Brawijara, Sam Karya Bhirawa anoraga, Jilid I. Surabaya 1988, hal.109

[3]     Pelaksanaan Rera di Jawa Timur sangat ruwet, Penggunaan istilah Resimen di sini dilaksanakan sebelum Rera. Setelah Rera istilah Resimen diganti dengan Brigade

[4]     Wawancara dengan Mayor Jenderal (Pur) Soengkono, Jakarta, 4 Mei 1076

[5]     Wawancara dengan Mayor Jenderal (Pur) Kartidjo, Jakarta, 14 April 1976

[6] Brigade Kelaskaran selalu ditulis dengan angka Romawi. Brigade XXIX, adalahgabungan dari Dewan Kelaskaran 14 (Surabaya) dan Dewan Kelaskaran 15 (Malang).Pada 1947 menjadi Brigade XXIX yang dipimpin oleh Letkol Dahlan.

[7]     Karena ReraJenderal Mayor Soengkono pangkatnya disesuaikan menjadi Kolonel

[8]     Wawancara dengan Letjen (Pur) M. Jasin, 13 April 1976

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*