Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (2): Kekuatan Pasukan Pendukung PKI

Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (2): Kekuatan Pasukan Pendukung PKI[1]

Pasukan pendukung PKI di Jawa Timur terdiri dari sebagian pasukan Brigade XXIX pimpinan Letnan Kolonel Dahlan dan pasukan TLRI pimpinan Laksamana Muda Atmaji yang berkedudukan di Mojopanggung, Tulungagung. Menurut perkiraan kekuatan pasukan pendukung PKI lebih kurang berjumlah 9 batalyon. Pada masa Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin, pasukan pendukung PKI menerima fasilitas lebih dan memperoleh pembagian senjata lebih banyak dan disimpan secara rahasia, sehingga kekuatan persenjataan mereka lebih unggul.[2]

Perlu kita ketahui bahwa sekalipun Letnan Kolonel Dahlan, Komandan Brigade XXIX secara tegas mendukung PKI, namun tidak berarti bahwa seluruh anggota Brigade memberikan dukungan terhadap PKl. Pasukan Brigade XXIX yang sepenuhnya telah dipengaruhi komunis dan memberikan dukungan kepada PKI antara lain pasukan-pasukan yang berasal dari Pesindo yaitu :

– Batalyon Maladi Jusuf berkedudukan di Mojoroto dengan kekuatan 4 (empat) kompi:

  1. Kompi Salamun dipimpin oleh Kapten Salamun,
  2. Kompi Keri Jusuf dipimpin oleh Kapten Keri Jusuf (adik Maladi Jusuf).
  3. Kompi Suroso dipimpin oleh Kapten Suroso,
  4. Kompi Mustofa dipimpin oleh Kapten Mustofa.

– Batalyon Durachman berkedudukan di Madiun.

– Kompi Decking Staf Brigade XXIX (Kompi Kawal) dengan Komandannya Kapten Sukri di Kediri.

– Batalyon Mursid di Ponorogo.

– Batalyon Sidik Arselan di Blitar, kemudian dipindahkan ke Nganjuk

– Batalyon Panjang Djokoprijono, di Ponorogo.

– Batalyon Mussofa.

– Batalyon Darminto Aji di Ngawi.

– Pasukan TLRI di bawah pimpinan Munadji di Nganjuk.

– Detasemen Subardi dari Pesindo yang semula dikenal dengan sebutan P. 10 (Pembelaan 10).

Sementara itu, pada saat pemberontakan meletus tanggal 18 September 1948 terjadi perubahan yang tiba-tiba. Pasukan pendukung PKI tidak dapat digerakkan seluruhnya karena pimpinan Brigade XXIX tidak sempat menggerakkan semua kekuatan yang ada di bawah komandonya. Situasi demikian ini membuat rencana PKI berantakan karena tidak adanya koordinasi dan kekompakan antara pasukan pendukungnya serta kurangnya dukungan dari rakyat.

Tampaknya orang-orang PKI, di antaranya Letnan KoIoneI Dahlan, Komandan Brigade XXIX sengaja ingin memanfaatkan momentum Rera. Sebelum memangku jabatan Panglima Divisi merangkap Gubernur Militer Jawa Timur, Kolonel Soengkono tanpa memangku jabatan apa-apa. Dahlan mencoba mendekatinya, karena dinilai “sakit hati” terhadap kebijakan pemerintah tentang reorganisasi dan rasionalisasi (Rera). Hal yang sama dilakukan kepada perwira lain yang juga dinilai “sakit hati” di lingkungan Brigade XXIX.

***

[1]    Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Jonosewojo, Jakarta, 21 Mei 1985

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*