Penumpasan Gerakan 30 September 1965 /PKI (2) : Jawa Tengah

Penumpasan Gerakan 30 September 1965 /PKI (2) :  Jawa Tengah [1]

 

a. Tindakan Panglima Kodam VII/Diponegoro

Pangdam VII/Diponegoro Brigjen Surjosumpeno dalam usaha untuk mengamankan jajarannya sebagai akibat kudeta G 30 S/PKI bertindak cepat dan tegas. Pada malam hari tanggal 1 menjelang tanggal 2 Oktober 1965 Pangdam VII/Diponegoro mengadakan rapat pimpinan di Magelang, karena Garnizun Magelang merupakan satu-satunya garnizun yang tidak mengalami gangguan G 30 S/PKI. Magelang digunakan sebagai basis operasi oleh Pangdam VII/Diponegoro. Pasukan yang berada di Magelang terdiri atas Batalyon 2 Kavaleri, Batalyon 3 dan Batalyon 11 Artileri Medan, dan Peleton Pioner dari Batalyon 2 Para. Bagi Panglima tidak ada pilihan lain kecuali harus bertindak cepat sebelum para pemberontak berkonsolidasi. Rencana Panglima sangat sederhana dan terdiri atas tiga tahap. Pertama, memulihkan rantai Komando antara Panglima dengan Korem – Korem dan Brigif – Brigif; kedua, konsolidasi Staf Kodam VII/Diponegoro; ketiga, pemulihan keamanan-ketertiban dengan merebut kembali kota Semarang.

Untuk melaksanakan rencana itu, Panglima hanya dapat menggunakan pasukan-pasukan yang ada di Magelang ditambah dengan Yon “P” dari Brigif 4 yang ada di Gombong dan sisa -sisa kesatuan dari Batalyon Para 3 yang berada di Semarang.

Dalam pelaksanaan operasi pembebasan kota Semarang, Pangdam VII/Diponegoro Brigjen TNI Surjosumpeno mengambil kebijaksanaan untuk mengompakkan kembali jajaran Kodam VIII Diponegoro, dan memisahkan oknum-oknum G 30 S/PKI dari Slagorde Kodam VII/Diponegoro.

Pasukan yang digerakkan dalam operasi pembebasan kota Semarang, dipimpin oleh Letkol Yasin Husein, dengan kekuatan :

  • 1 Peleton BTR dibantu 1 Peleton Armed sebagai Infanteri bermotor di bawah pimpinan Lettu Kav. Suwito.
  • 1 Peleton BTR dibantu dengan 1 Peleton Armed sebagai lnfanteri bermotor di bawah pimpinan Lettu Kav. Saryono
  • 1 Kompi Zipur sebagai Infanteri di bawah pimpinan Lettu Czi Efendi dibantu 1 Paleton tank.[2]

Pada tanggal 2 Oktober 1965 pukul 05.00 (setelah mengalami penundaan 11/2 jam dari rencana) pasukan segera bergerak menuju ke Semarang dipimpin oleh Letnan Kolonel Yasin Husein. Dalam gerakan itu turut pula Pangdam VII/Diponegoro.[3] Untuk menghindari korban di kalangan masyarakat, Panglima memerintahkan menunda pengepungan Markas Kodam VII dan memerintahkan mengambil posisi di Jatingaleh. Panglima memerintahkan Mayor Hartono dan Mayor Subekti untuk memanggil Kolonel Sahirman dan Letkol Usman Sastrodibroto menghadap Panglima. Ternyata Sahirman dan Usman tidak berada di tempat. Kemudian Panglima memerintahkan Letnan Kolonel Soeprapto dan Mayor Soeroto merebut RRI Studio Semarang. Pasukan Batalyon K pimpinan Mayor Kaderi yang datang dari Solo sebanyak 2 kompi yang semula ditempatkan di Semarang oleh G30S/PKI, di antaranya mengawal Kolonel Sahirman, Kolonel Marjono, Letkol Usman, Mayor Karsidi, Mayor Kirjan ternyata telah ditarik. Dua Kompi yang lain dan satu kompi dari Batalyon D dapat di lokalisir di Srondol.

Tanpa ada perlawanan, Panglima memasuki kembali Markas Kodam VII/Diponegoro. Setelah Markas Kodam VII dan RRI dikuasai, pada hari itu juga Panglima berpidato di radio yang ditujukan kepadajajaran Kodam VII, masyarakat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menjelaskan bahwa Pangdam VII/Diponegoro telah memegang pimpinan kembali. Selanjutnya pada hari itu pula disiarkan berturut-turut Pernyataan Bersama Pangdam VII/Diponegoro, Pangdak IX/Jawa Tengah, Dan Kosional dan Gubernur Jawa Tengah, yang tetap berdiri di belakang Bung Karno.

Pengumuman dari Jenderal Soeharto sangat besar pengaruhnya terhadap rakyat, ditambah dengan seruan Presiden Soekarno tentang pencegahan pertumpahan darah dan konflik bersenjata. Sejak itu, G 30S/PKI kehilangan dukungan bersenjata. Banyak anggota pasukan yang sadar dan merasa dirinya tertipu. Kesatuan-kesatuan yang diperalat G30S/PKI, kemudian kembali ke pangkalannya masing­-masing.[4]

Di Purwokerto pada tanggal 3 Oktober 1965, Letkol Soemitro menyerah kepada Kolonel Tjiptono Setyabudi, Komandan Korem 071. Dengan demikian Komando Rem 071 dapat dipulihkan: Sedangkan perwira lainnya, seperti Mayor Trisnadi Kasi I, dan Mayor Bernadi Kasi III Korem 071 ditangkap. Di Solo pada tanggal 4 Oktober 1965 Kolonel Ashari Komandan Brigif 6, beserta perwira-perwira lainnya yang ditawan oleh G30S/PKI dibebaskan pula. Di Salatiga pemimpin-pemimpin G30S/PKI merasa takut akibat pameran kekuatan yang dilancarkan oleh Kolonel Sudjono Kasdam VII. Ia menempatkan beberapa kendaraan lapis baja di tempat-tempat yang strategis, sehingga Letkol Idris menyerah tanpa syarat, dan Dan Rem 073 Kolonel Sukardi bebas dari tahanan G30S/PKI.

Misi Kasdam VII yang diikuti oleh Letkol Mardeo Ass-7 dan Letkol Purwosutedjo SH serta Kapten Iskandar berhasil. Di Yogyakarta, pada tanggal 4 Oktober 1965 Kapten Surjotomo mantan Wakil Komandan Batalyon 451 (Yon L) sebagai utusan pribadi Pangdam VII/Diponegoro menemui Batalyon tersebut dengan tugas :

1) Mengembalikan Komando Korem 072 kepada Dan Rem 072 Kolonel Katamso.

2) Mengamankan Yon L dan Yon C dari pengaruh G 30 S/PKI.

Tugas ini baru sebagian yang dapat dilaksanakan yaitu menormalisir situasi daerah Korem 072, sedangkan menemukan Dan Rem 072 beserta Kas Rem-nya belum terlaksana.

Pada tanggal 5 Oktober pukul 10.00, Panglima datang ke Markas Korem 072 dan mengadakan briefing dengan seluruh Komandan Kodim, Batalyon, Kompi di Aula Rem 072 untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Briefing berjalan dengan lancar. Pada saat itu juga untuk mengisi kekosongan pimpinan Korem 072, Kolonel Widodo Ass. 4 Kodam VII ditunjuk sebagai careteker Komandan Korem 072 berdasarkan pertimbangan keamanan. Perjalanan Pangdam VII sendiri dari Semarang pun tidak menemui kesulitan.

Pada tanggal 5 Oktober 1965 itu pula Mayor Kaderi beserta 2 kompi anak buahnya yang mengawal Kolonel Sahirman telah memisahkan diri dari tokoh G 30 S/PKI tersebut. Ia melaporkan secara tertulis kepada Panglima tentang kembalinya ke pangkalan di Solo.

Dengan demikian, dalam jangka waktu hanya lima hari, pemulihan garis komando di jajaran Kodam VII dengan Korem-­Korem dan Brigif-Brigif telah pulih kembali. Di Semarang, Mayor Sukirjan Wa Ass-5 dan Mayor Karsidi Wa Ass-2 menyerah. Pemulihan keamanan dan ketertiban di wilayah Kodam VIII Diponegoro dilaksanakan terutama dalam menghadapi ormas­-ormas dan orpol-orpol yang anti Pancasila.

PKI jauh sebelum pecahnya kudeta G 30 S/PKI nyata-nyata telah menanamkan elemen-elemen komunis dalam tubuh ABRI umumnya jajaran Kodam VII khususnya, dan telah mempersiapkan tenaga bantuan politis, materiil, personil secara sembunyi-sembunyi. Ketika Kodam VII mengadakan regrouping, mereka telah menggunakan kesempatan itu untuk menempatkan orang-orang binaannya pada jabatan-jabatan tertentu khususnya pada bidang intelijen, personalia, dan territorial. Ketika pengkhianatan/pemberontakan G30S/PKI meletus, maka terasa sekali bahwa bidang-bidang tersebut menjadi lumpuh sama sekali.

Berhubungan dengan itu, maka dalam pelaksanaan konsolidasi itu, pimpinan Kodam VII/Diponegoro betul-betul harus mengerahkan tenaga dan fikiran dalam mengkonsolidasikan mental ideologis satuan-satuan dalam slagorde Kodam VII. Untuk penyelesaian personalia dilakukan secara prosedural dan institusionil militer serta pergeseran-pergeseran, dan penggantian-penggantian personil yang telah terlibat dalam petualangan G30S/PKI baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pejabat-pejabat yang dapat diandalkan kejujurannya baik mental maupun ideologisnya.

Dalam rangka membantu memulihkan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, pada tanggal 17 Oktober 1965 pemerintah telah mengirimkan kesatuan RPKAD dari Jakarta menuju ke Semarang dengan kekuatan satu batalyon, yang terdiri atas :

– Kompi Urip

– Kompi Kayat

– Kompi Tanjung

– Kompi Palad Komp

– Panser Kavaleri

– Peleton pasanda Peleton Pomad

Kelompok Khusus (Sejarah Militer dan Penerangan Kostrad).[5]

Komandan pasukan adalah Mayor CI Santoso. Pasukan bermalam di desa Tunjang kabupaten Brebes. Hari berikutnya, pasukan melanjutkan perjalanan menuju ke Pekalongan dan tiba di kota Semarang pada pukuI 14.30. Pada tanggal 12 Oktober 1965 Kelompok Komando Parako di bawah pimpinan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dengan dikawal peleton Letda Sintong Panjaitan tiba di Semarang pada pukul 01.30

Operasi Pembersihan G. 30 S/PKI dilanjutkan ke daerah Jawa Tengah. Iringan kendaraan berlapis baja memasuki daerah Magelang (Repro : buku Kopkamtib)
Operasi Pembersihan G. 30 S/PKI dilanjutkan ke daerah Jawa Tengah. Iringan kendaraan berlapis baja memasuki daerah Magelang (Repro : buku Kopkamtib)

Sementara itu, pada pukul 21.00 malam dengan menumpang kereta api, telah pula tiba di Semarang I Ki Yon Kavaleri di bawah pimpinan Mayor Kav. Sunaryo. Mereka ditempatkan di Yon Dodik Angmor.

Pada tanggal 13 Oktober 1965 pukul 08.00 Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo melaporkan kedatangan pasukannya kepada Pangdam VII/Diponegoro Brigjen TNI Surjosumpeno. Dalam kesempatan itu, Pangdam VII/Diponegoro berpesan supaya dalam bertindak selalu berpedoman kepada “Ambil ikannya jangan sampai keruh airnya”. Selesai penerimaan oleh Pangdam VII/Diponegoro, dilanjutkan “show of force” (pamer kekuatan) keliling kota Semarang.

b. Ditemukannya jenazah Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono.

Sementara itu di Yogyakarta usaha pencarian terhadap Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono dilakukan oleh tim Kapten Surjotomo tanpa mengenal lelah. Jerih payahnya terobati setelah berhasil mendapat keterangan positif tentang nasib kedua perwira itu. Di dalam kompleks asrama Yon L Kentungan, pada tanggal 10 Oktober 1965 ditemukan timbunan tanah yang diduga sebagai tempat penguburan kedua perwira itu. Untuk membuktikannya, ia menghadapi resiko yang berat karena Yon L masih berada di asrama tersebut.

Tanggal 18 Oktober 1965, pasukan-pasukan Yon L diberangkatkan ke luar Jawa dalam rangka tugas Dwikora. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya. Sebuah team yang dipimpin oleh Mayor CPM Moh. Said beserta anggota POM, Kesehatan Rem 072, Zi Bang Rem 072 ditugaskan untuk membongkar tempat itu. Hari Pembongkaran ditentukan tanggal 20 Oktober 1965, tetapi karena ada perintah Panglima pelaksanaannya ditunda sehari Pada tanggal 21 Oktober 1965, atas perintah Panglima timbunan tanah dibongkar.

Pada pukul 07.00, jenazah kedua Pamen Rem 072 dapat diangkat. Selanjutnya dengan iring-iringan kendaraan yang didahului dengan dua buah panser dan pengawal RPKAD, kedua jenazah dibawa ke Kesehatan Korem 072 untuk diotopsi oleh team dokter yang dipimpin Kolonel Dr. Sutarto.

Dengan diketemukannya jenazah Dan Rem 072 dan Kas Rem 072 tersebut, masyarakat Yogyakarta khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya meluap amarahnya terhadap G 30 S/PKI. Kedua jenazah ini diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara pada tanggal 22 Oktober 1965 dengan mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Jawa Tengah dinyatakan berkabung selama 7 hari.

Sementara itu, ex Mayor Muljono yang telah melarikan diri sejak tanggal 5 Oktober 1965, tertangkap di Kelurahan Karanggeneng, Boyolali pada tanggal 18 Oktober 1965. Orang inilah yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Dan Rem 072 beserta Kas Remnya.

c. Operasi-Operasi RPKAD

Pada tanggal 19 Oktober 1965 pukuI 23.00, pasukan RPKAD mulai bertindak terhadap sasaran gedung-gedung, rumah-rumah, bangunan – bangunan di kota Semarang yang diduga menjadi sarang G 30 S/PKI. Dalam gerakan pertama telah berhasil ditahan lebih kurang 1050 orang yang dicurigai beserta sejumlah barang bukti, dan dokumen-dokumen dapat disita. Dalam gerakan ini, diketemukan pula lubang-Iubang sebanyak 16 buah di Kampung Kedungmundu yang direncanakan untuk penguburan korban-korban keganasan mereka.

Dengan hadirnya RPKAD, golongan Nasionalis dan Agama yang semula dalam suasana takut, bangkit membantu dan mengadakan aksi-aksi. Perang plakat/pamflet berkobar seru antara golongan pendukung G 30 S/PKI di satu fihak dan golongan­-golongan Nasionalis serta Agama di lain fihak.

Sampai siang hari tanggal 20 Oktober 1965, gerakan pembersihan terus dilakukan. Bersamaan dengan itu, terjadi aksi massal dari golongan Nasional dan Agama terhadap lawannya, berupa pembakaran-pembakaran beberapa gedung PKI, Baperki, sekolah-sekolah asing/RRC, gedung Gerwani dan beberapa pabrik rokok milik pendukung G 30 S/PKI.

Pihak G 30 S/PKI ternyata tidak tinggal diam. Dengan maksud untuk membangkitkan sentimen rasial terhadap golongan ini, maka Pemuda Rakyat melakukan pembakaran terhadap toko-toko Cina di Kompleks Pekojan Semarang.

Dengan adanya gerakan-gerakan dari golongan Nasional dan Agama melawan golongan Komunis itu, maka suasana kota yang semula tenang menjadi tegang dan panas. Guna menghindarkan hal-hal yang tidak diharapkan, maka sebagai tindakan pencegahan, pasukan RPKAD melakukan patroli-patroli pengamanan di seluruh kota Semarang. Dalam melakukan gerakan-gerakan pembersihan tersebut, RPKAD tidak mendapat perlawanan sama sekali. Mereka yang diduga terlibat G 30 S/PKI disinyalir melarikan diri ke arah barat daya atau ke timur kota Semarang.

Setelah keadaan di Semarang dapat diatasi, maka pada pukul 12.00 tanggal 21 Oktober 1965 pasukan RPKAD menuju ke sasaran yang baru, yaitu Magelang. Tugas RPKAD di Semarang dipertanggungjawabkan kepada Mayor Subekti (Wadan Yon II) dengan kekuatan Kompi Drip, Kompi Ramelan dan Kompi Dakso. Pasukan-pasukan lainnya bergerak ke Magelang dan tiba di kota tersebut pada pukul 15.00. Di sini pasukan diperkuat lagi dengan Kompi Tedjo dari Batalyon 11 Magelang. Ketika memasuki kota Magelang pasukan RPKAD disambut dengan meriah oleh masyarakat di Alun-alun Magelang. Gerakan pasukan dalam bentuk show of force (pamer kekuatan) dilakukan di dalam kota.

Setelah show of force (pamer kekuatan) berjalan, rakyat Magelang khususnya para pemudanya bangkit melakukan serangan terhadap obyek-obyek milik PKI, Baperki, gedung perkumpulan Cina komunis CHTH. Bahkan rumah Walikota Argo Ismoyo yang tokoh PKI itu, tidak terhindar dari aksi para pemuda itu.

Tanggal 20 Oktober 1965, Panglima selaku Pepelrada Jateng/DIY mengeluarkan keputusan tentang pembekuan kegiatan PKI, Baperki, dan ormas-ormas lainnya di bawah naungan PKI.

Dengan dikeluarkannya keputusan Pepelrada Jateng/DIY, para pendukung G 30 S/PKI mengadakan gerakan-gerakan pemogokan dan aksi-aksi teror sebagai kontra aksi. Mulai pukul 20.00, Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Stasiun Balapan Solo mogok duduk, sehingga kereta api jurusan Solo – Semarang, Solo – Jakarta dan Solo. Surabaya terhenti. Sampai pagi hari kereta api tidak ada yang keluar atau masuk stasiun. Angkutan darat lainnya, seperti bus-bus umum tidak ada yang berani keluar karena dihalang- halangi oleh Pemuda Rakyat/PKI.

Pemogokan-pemogokan dilancarkan pula di pabrik karung Delanggu, Pabrik Gula (PG) Gondangwinangun Klaten, pabrik tekstil PN. Infitex, dan perusahaan-perusahaan tembakau. Jalan raya an tara Delanggu – Gondangwinangun dirintangi dengan batang­-batang pohon.[6]

Tepat pada hari pemakaman Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugijono, Komandan Kodim Boyolali melaporkan bahwa markas Kodim Boyolali sedang dikepung oleh ratusan Pemuda Rakyat yang bersenjatakan bambu runcing. Pada tanggal 22 Oktober 1965 pukul 05.00 pasukan RPKAD yang terdiri dari satu Ton Panser dan Kompi Kajat bergerak menuju Boyolali, dan sebagian pasukan bergerak ke Solo.

Kompi Kajat dan satu Ton Panser setibanya di Boyolali dengan cepat mengadakan penangkapan dan pembersihan terhadap orang­-orang PKI dan Pemuda Rakyat yang mengadakan pengacauan. Percobaan pengepungan dan merebut Kodim Boyolali dapat digagalkan.

Sedang sebagian pasukan RPKAD yang mengadakan gerakan ke Solo, setibanya di Solo pukul 15.30 langsung mengadakan pameran kekuatan dan mengamankan Gedung Balai Kota untuk mencegah para demonstran anti PKI menduduki gedung tersebut.

Pada pukul 16.30 pasukan RPKAD bergerak ke stasiun Solo Balapan untuk membubarkan pemogokan. Komandan Resimen RPKAD (Sarwo Edhie Wibowo) menekankan agar para pemogok bekerja lagi seperti biasa. Mereka diharapkan jangan terpengaruh oleh G 30 S/PKI, dan jangan ragu-ragu untuk membantu ABRI dalam mengikis habis pimpinan G 30 S/PKI.

Pada tanggal 23 Oktober 1965 satu Kompi RPKAD bergerak ke Wonogiri. Jalan menuju ke daerah tersebut telah dirusak, dan diberi rintangan oleh orang-orang PKI. Dalam gerakan ke Wonogiri tersebut, pasukan RPKAD telah berhasil menangkap 115 orang anggota G 30 S/PKI, dan juga disita sejumlah senjata dan dokumen.

Sementara itu, di Klaten terjadi pengepungan terhadap Dodik V Klaten yang dilakukan oleh ratusan rakyat pengikut G 30 S dengan tujuan untuk merebut senjata. Pengepungan tersebut terjadi pada pukul 03.00 subuh, dan mereka telah berhasil memasuki halaman Dodik tersebut. Akan tetapi usaha penyerbuan itu dapat digagalkan, dan 135 orang penyerbu dapat ditangkap.

Pada tanggal 26 Oktober 1965 dalam rangka intensifikasi operasi yang akan dilancarkan, Kolonel Sarwo Edhie telah menyelenggarakan rapat “Gabungan Staf Keamanan Surakarta” (GSKS) di Skodim Surakarta yang anggotanya terdiri atas :

  • Dan Brigif 6, Kolonel Ashari
  • Dan Dim Surakarta, Letkol Ezi Suharto
  • Dan Polres Surakarta, Ajun Komisaris Besar Polisi Drs. Sarwono.
  • Kejaksaan Surakarta
  • Dan Pangkalan Udara Panasan Surakarta, Letkol Soejoto
  • Wali Kota Surakarta
  • Kolonel Ranuwidjaja selaku wakil dari Kodam VII.

Hasil dari rapat Gabungan Staf Keamanan Surakarta tersebut adalah sebagai berikut :

  • Tidak memberi kesempatan kepada G 30 S/PKI untuk mengadakan konsentrasi/konsolidasi dengan diikuti perang urat syaraf, peranq pamflet, sambil diimbangi oleh penerangan-peneranqan secara intensif guna mencapai “showing down”.
  • Garis strategi adalah mengkonsolidasi daerah yang sudah kita kuasai. Selanjutnya selangkah demi selangkah kita melebarkan sayap untuk memperkecil bidang gerak G 30 S/PKI.
  • Membantu serta mengerahkan potensi massa non komunis yang terdiri dari golongan nasionalis dan agama melawan massa komunis, karena massa harus dilawan massa.
  • Di dalam konsolidasi dan opstelling, perlu diadakan aksi.
  • Memisahkan massa G 30 S/PKI dengan pimpinannya.[7]

Dalam kegiatan G 30 S/PKI di daerah Jawa Tengah, telah ikut terlibat beberapa orang pejabat pemerintahan, antara lain Bupati Boyolali, Bupati Karanganyar Drs.Harun Al Rasjid, dan Walikota Surakarta Utoyo Ramelan. Pada tanggal 27 Oktober 1965, Gubernur Jawa Tengah telah mengangkat Letkol Sumanta menjadi Walikota Surakarta, Letkol Saebani sebagai Bupati Boyolali, dan Kompol I Drs. Kargono sebagai Bupati Karanganyar.

Pada bulan November 1965, pelaksanaan operasi terhadap G 30 S/PKI mendapat bantuan dari Brigade Infanteri 4/Diponegero di bawah pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto. Bertugas secara bergiliran yaitu Batalyon E, F, dan G, dan masing-masing ditempatkan di Boyolali, Klaten dan Solo. Dengan datangnya pasukan tersebut, beban tugas yang dipikul pasukan RPKAD menjadi ringan. Akibatnya ruang gerak sisa-sisa G 30 S/PKI menjadi semakin sempit, dan tinggal menunggu kehancurannya. Pada tanggal 22 November 1965 pukul 21.00, tokoh utama G30S/PKI D.N. Aidit berhasil ditangkap hidup-hidup di kampung Sambeng Gede, Surakarta.[8]

Selanjutnya pada tanggal 1 Desember 1965, dalam rangka untuk mengintensifkan pencarian dan penghancuran sisa-sisa G 30 S/PKI, telah dibentuk Komando Operasi Merapi. Susunan Komando sebagai berikut :

  1. Komandan   : Kolonel Sarwo Edhi Wibowo
  2. Seksi I           : Mayor Taher, Pasi I Kodam VII dpb Parako
  3. Seksi II         : Mayor Sutjipto
  4. Pelaksana    : Mayor C.I. Santoso dibantu oleh Kapten Darjono (Kasi I Parako yang turba, merangkap Wa Dan Yon I menghadapi khusus Operasi Merapi dalam rangka pengejaran serta penangkapan ex Kolonel Sahirman dkk).
  5. Pasukan-pasukan yang diergunakan :

-Kompi Urip Kompi

-Kajat Kompi Tedja

-Kompi Sembiring

-Dibantu oleh Kompi Panzer 2 Ton (dpb Lettu Mukajat) ditambah dengan 3 helikopter AD yang dipimpin oleh Letkol Widodo.

Sementara itu, dalam menghadapi serangan dan pembunuhan­-pembunuhan yang dilakukan G 30 S/PKI dengan cara mengerahkan massa di daerah Surakarta, Boyolali dan Klaten, Komando Operasi Merapi menghadapinya dengan mengerahkan massa pula. Beratus-­ratus pemuda dilatih oleh para anggota RPKAD tentang cara-cara mengunakan senjata dan memelihara kampung halaman beserta keluarganya. Mereka juga dilatih mengumpulkan informasi dalam rangka membantu ABRI. Taktik pengerahan massa ini ternyata berhasil. Rakyat bangkit mendampingi ABRI menumpas hasil sisa-sisa G30S/PKI.

Pada tanggal 8 Desember 1965, pimpinan Operasi Merpati mendapat informasi, bahwa Kolonel Sahirman dan kawan-kawannya berada di daerah Merbabu. Untuk melaksanakan operasi pengejaran terhadap Kolonel Sahirman dan kawan-kawannya tersebut, dilakukanlah kontak dengan Batalyon E yang berada di Boyolali. Pada tanggal 9 Oktober, 1 peleton dari Yonif E yang dipimpin oleh Letda Tarwan bergerak ke Cemorosewu di lereng Merbabu bagian Timur. Gerakan pasukan diikuti oleh pemuda-pemuda terlatih dari daerah Ampel. Pada pukul 05.00 pasukan berhasil menyergap gerombolan yang dicari dan berhasil menewaskan sebagian dari gerombolan itu. Di samping itu berhasil pula ditangkap seorang Gerwani yang bernama Hartini alias Lestari, serta menyita sebuah pistol FN 46 milik Letkol Usman Sastrodibroto.

Pada pukul 11.00 beberapa perwira Staf Komando Operasi Merapi mengadakan pengecekan ke tempat kejadian. Ternyata yang tertembak mati ialah :

  1. Letkol Usman Sastrodibroto
  2. Mayor Sumadi
  3. Kapten Sukirno
  4. Darmin, BTI Cabang Boyolali
  5. Astiyo, anggota DPRD GR Boyolali
  6. Edi Bagiyo, Guru SD merangkap anggota DPRD-GR Boyolali.[9]

Pada hari itu juga dapat ditangkap seorang anggota gerombolan yaitu Letnan Udara I Soekarno atas bantuan rakyat, dan menyita sebuah pistol FN 46. Sisa gerombolan yang diperkirakan berjumlah 9 orang berhasil melarikan diri. Pada tanggal 10 Oktober 1965, dua peleton pasukan RPKAD di bawah pimpinan Letda Dawud, melakukan pengejaran ke Cemorosewu, Candisari dan Jlaren. Ketika itu TNI berhasil menangkap seorang gerombolan bernama Pawirodono, dan menyita sebuah sten. Pada tanggal 13 Desember 1965, satu peleton RPKAD melanjutkan tugas pengejaran.

Selanjutnya sebagai akibat dari tekanan terus-menerus dari pasukan RPKAD dan Batalyon Infanteri E dan F yang bergabung dalam Komando Operasi Merapi, serta diikuti oleh gerakan massa rakyat yang telah disadarkan, rnaka sisa gerombolan Kolonel Sahirman dan kawan-kawan tidak dapat bertahan lagi. Pada tanggal 14 Desember 1965, Kolonel Sahirman, Kolonel Maryono dan Mayor RW. Sukirno turun dari gunung, dan berhasil disergap dan ditembak mati.

Demikianlah dalam waktu singkat Gerakan 30 September di Jawa Tengah dapat dipatahkan. Kepercayaan rakyat kepada pemerintah kembali pulih, karena tindakan-tindakan pemerintah yang positif dalam memulihkan keamanan dan ketertiban, serta kerjasama yang baik antara pemerintah dan rakyat dalam berbagai tugas negara.

Pada tanggal 25 Desember 1965 pasukan RPKAD telah menyerahkan kembali tugas keamanan daerah kepada pemerintah dan pimpinan militer setempat. Selanjutnya, pasukan RPKAD segera bergerak menuju Jakarta untuk menunaikan tugas-tugas baru.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Sejarah TNI-AD 1945-1973, IV, Peranan Perjuangan TNI-AD Dalam mempertahankan kemurnian Pancasila, disjarah TNI-AD. Bandung, 1982

[3]     Kopkamtib, gerakan 30september Partai Komunis Indonesia, Jakarta, 1978. Hal 173

[4]     Sejarah Militer kodam VII/Diponegoro, Sirnaning Yakso katon Gapuraning Ratu II, semarang, 1971, hal. 199

[5]     Sejarah militer kodam VIII/Diponegoro, op, Cit., hal 201

[6]     Lajarah, Hankam,. Op. Cit., hal. 98

[7]     Disjarah AD, Op, Cit., hal. 194

[8]     Disjarah AD, Op. Cit, hal. 184

[9]     Beritha Yudha, 11 Desember 1965

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*