PENILAIAN POLITIK TENTANG NASUTION

PENILAIAN POLITIK TENTANG NASUTION[1]

 

21 Januari 1962

Dua orang diplomat anggota kedutaan besar Amerika Serikat datang ke rumah bercakap-cakap dengan saya hari ini.

Dalam percakapan itu ternyata mereka juga belum dapat memastikan apakah yang jadi alasan sesungguhnya bagi penangkapan terhadap diri Sjahrir, Roem dan lain-lain. Tetapi mungkin mereka bersikap pura-pura? Biasanya mereka lekas tahu tentang kejadian-kejadian politik di negara ini sebab mereka punya hubungan tertentu dengan orang-orang dalam pemerintah dan tentara. Lagi pula seperti pernah ditulis oleh Louis Fischer dalam bukunya The Story of Indonesia, maka “nothing is secret in Indonesia” (tiada yang rahasia di Indonesia).

Kami membicarakan kedudukan Jenderal A.H. Nasution Kedua diplomat Amerika itu berkesimpulan penangkapan terhadap Sjahrir dan kawan-kawannya itu adalah suatu perintah pribadi dari Presiden Sukarno. Dalam hal ini Nasution tidak dikonsultasi oleh Presiden. Jadi hal itu cocok dengan apa yang disiarkan dalam masyarakat politik Ibu Kota ialah bahwa Nasution telah dihadapkan kepada sebuah fait-accompli.

Ketika saya persoalkan apakah Nasution tidak merasa perlu turun tangan dalam soal penangkapan itu, maka kedua diplomat itu memberi tafsiran, pada hemat mereka Nasution tidak merasa perlu berbuat demikian.

“Anda tahu Nasution adalah orang yang tidak pernah bersimpati terhadap partai-partai politik. Jadi kalau orang-orang politik itu kini ditahan, buat dia itu tidak berarti apa-apa. Lagi pula orang-orang politik yang ditahan itu tidak merupakan sekutu yang penting atau berharga bagi Nasution.

Buat apa dia harus membela mereka jika itu bisa berarti dia bentrokan dengan Presiden ? Nasution telah menerima bahwa dalam perjuangan Irian Barat sekarang asas persatuan Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) seperti yang dianjurkan oleh Presiden harus dilaksanakan. Maka garis itulah yang diturutinya,” kata mereka.

Lalu saya persoalkan apakah menurut diplomat-diplomat Amerika itu tidak penting bagi Nasution memikirkan bagaimana mesti menghadapi kaum komunis? Mereka menjawab bila soal Irian Barat sudah selesai, maka tidaklah sulit bagi Nasution menghadapi kaum komunis.

PKI sekarang memang mendapat kesempatan memperluas sayapnya ke pulau-pulau lain dari Indonesia, tetapi bila dikatakan PKI mendapat kemajuan besar, hal itu tidak begitu, demikian pengamatan para diplomat Amerika itu .

Mereka berkata :

Nasution can deal with the PKI later on(Nasution dapat menangani PKI kemudian).

Saya tanya apakah ada kekuatan Nasution untuk berbuat demikian ? Mereka menjawab ada. Lihat saja contoh Peristiwa Jengkol di Jawa Timur belum lama berselang. Kaum komunis di situ mencoba menghasut petani-petani melawan alat-alat negara tetapi dapat ditindas oleh Nasution Kami mempersoalkan kedudukan Nasution sendiri vis-a-vis Sukarno Saya menyangsikan apakah benar begitu kukuh kedudukan Nasution?

Apakah tidak mungkin pada suatu ketika nanti Nasution diganti begitu saja oleh Sukarno sekiranya Sukarno berpendapat dia tidak memerlukan lagi Nasution? Bagi saya suatu indikasi juga Presiden bisa berbuat apa saja dan malahan bisa memerintahkan penangkapan terhadap Sjahrir tanpa berkonsultasi dengan Nasution.

Kedua diplomat itu menjawab hal itu mungkin begitu, tetapi hanya selama perjuangan Irian Barat berjalan. Selewat itu tentu keadaan menjadi berlainan lagi.

Saya kemukakan janganlah diremehkan kenyataan yang tercapai pada sementara itu yang pasti akan memperlihatkan pola tertentu yaitu kekuasaan Presiden kian tertancap hingga tidak memberi lowongan lagi bagi Nasution berbuat yang lain. Diplomat-diplomat itu menunjukkan kepada sikap para Panglima di daerah-daerah yang tidak akan menerima begitu saja bila Nasution diganti oleh Presiden.

Selanjutnya mereka menunjukkan kepada kenyataan Panglima di Jawa Timur misalnya masih melakukan hal-hal yang tidak selalu seiring dengan sikap Presiden, antara lain dalam sikap yang ditegakkan terhadap kaum komunis dan di situ Presiden tidak berbuat apa-apa. Saya jawab:

“Belum, barangkali Presiden tidak menganggap perlu buat sementara mengambil tindakan terhadap Panglima di Jawa Timur. Presiden bisa menunggu sampai tiba saat yang dianggapnya tepat. Percayalah jika Presiden kelak mengambil tindakan terhadap Nasution, maka sebagian besar Panglima di daerah akan menerima saja tindakan itu.”

Diplomat-diplomat Amerika itu tampaknya tidak begitu yakin akan keterangan saya tadi.

Dalam percakapan itu saya memperoleh kesan, bagi diplomat-diplomat Amerika itu aspek sengketa Irian Barat lebih penting daripada aspek dalam negeri yang bertalian dengan peristiwa penangkapan terhadap Sjahrir.

Mereka ingin supaya sengketa Irian Barat jangan sampai meledak menjadi perang panas sebab akibatnya bisa jauh sekali. Blok komunis bukan mustahil masuk dalam gambaran sekiranya pecah perang dengan Belanda. Karena itulah Amerika Serikat kini memberikan perhatiannya, antara lain lewat Sekjen U Tant di PBB, agar sengketa Irian Barat dapat diselesaikan secara berunding.

Apa yang terjadi di dalam negeri Indonesia sendiri, apakah di sini akan berkembang suatu rezim fasis yang menekan unsur-unsur demokratis, bagi Amerika tidaklah menjadi hirauan yang terlalu penting. Pertimbangannya ialah pertimbangan suatu big power atau kekuasaan besar belaka.

Amerika selalu mempropagandakan dia kampiun cara kehidupan demokratis akan tetapi dalam prakteknya dia tidak segan berurusan dengan rezim-rezim totaliter atau fasis seperti misalnya di Amerika Latin. Karena itu tidak heran diplomat­-diplomat Kedutaan Besar AS tadi secara dingin memperbincangkan sengketa Irian Barat terlepas dari masalah-masalah politik dalam negeri yang lebih mendalam sifatnya. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 165- 168.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*