“PENGARUH PADUKA YANG MULIA”

“PENGARUH PADUKA YANG MULIA”[1]

 

22 September 1961

Setelah 24 hari lamanya berada di luar negeri pemimpin delegasi Indonesia ke KTT negara non-blok di Beograd menjadi utusan KTT untuk menyampaikan seruan kepada Presiden Kennedy di Washington, maka kemarin sore Presiden Sukarno tiba kembali di Kemayoran.

Adalah lumrah apabila Dr. J. Leimena selaku Pejabat Presiden dalam pidato penyambutan menyatakan di depan Presiden Sukarno antara lain sebagai berikut:

“Saya tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa pengaruh Paduka Yang Mulia pribadi terasa pula dalam konperensi yang penting itu dan dari hasilnya yang berupa Statement dan Declaration of Beograd itu.”

Soal politik luar negeri dewasa ini tidak begitu menarik bagi rakyat Indonesia yang sedang bergulat dengan kesukaran hidup sehari-hari. Sukarno tahu tentang hal itu dan sebagai politikus ulung tentulah dalam pidatonya kemarin dia menyinggung soal kesukaran beras. Sukarno berkata:

“Saya tahu bahwa beras hari-hari belakangan ini naik harganya, tetapi percayalah bahwa pemerintah akan berusaha mati-matian untuk  mengatasi segalanya itu. Dalam waktu yang singkat harga beras akan turun lagi.” (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 101.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*