PENGANGKATAN JENAZAH ENAM JENDERAL

PENGANGKATAN JENAZAH ENAM JENDERAL [1]

 

4 Oktober 1965

 

Jenazah enam Jenderal dan seorang perwira pertama TNI/AD yang menjadi korban keganasan “G-30-S” diangkat dari satu lubang sedalam 12 meter di Lubang buaya, daerah pangkalan AURI. Setelah daerah Lubang buaya dipulihkan keamanannya dari kaum “G-30-S”, maka pasukan RPKAD melihat tanda-tanda yang amat mencurigakan karena didapati bekas peralatan belajar/latihan menembak, kendaraan dan tumpukan tanah yang tampak masih baru. Hari Sabtu tanggal 2 Oktober lubang-lubang di situ mulai diselidiki dan tercium bau mayat dari dalamnya. Penggalian dikerjakan mulai Minggu 3 Oktober jam 13.00.

Keterangan ini diberikan oleh Pusat Penerangan Angkatan Darat. TVRI menyiarkan film tentang pengangkatan jenazah keenam Jenderal yang dibunuh oleh “G-30-S” itu dari Lubang buaya.

Sementara itu Waperdam I Dr. Subandrio yang sebelum terjadi “Gerakan 30 September” berada di matra Utara hari ini telah kembali di Jakarta. Apakah dia secara” kebetulan saja tidak berada di Jakarta ketika meletus “G-30-S” itu ataukah ia mempunyai pengetabuan terlebih dahulu akan apa yang bakal terjadi? Saya hanya dapat berspekulasi belaka.

Saya sendiri tidak membaca penerbitan II arian Rakyat itu akan tetapi seorang ternan menceritakan koran PKI tanggal 2 Oktober itu menegaskan dalam editorialnya bahwa dukungan dan jiwa rakyat pasti. berada di pihak Gerakan 30 September” Apakah ini berarti PKI berdiri di belakang Gerakan 30 September atau malahan menjadi penggeraknya, tentang itu juga belum ada kepastian. Saya cenderung beranggapan PKI menjadi dalang “Gerakan 30 September” ini. Pada waktu ini banyak hal yang belum terang akan tetapi pada waktunya keIak niscaya akan” tersingkaplah bagaimana duduk perkara sebenarnya.

Sementara itu di Taman Sunda Kelapa diadakan rapat raksasa organisasi dari partai-partai agama, pelajar, mahasiswa dan golongan karya. Mereka mendesak supaya ormas­-ormas dan partai yang menjadi dalang “G-30-S” segera di­bubarkan dan kabinet Dwikora dibersihkan dari  oknum-­oknum yang terlibat dalam “G-30-S”. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 553-554.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*