PENGALAMAN PERMESTA DITINJAU KEMBALI

PENGALAMAN PERMESTA DITINJAU KEMBALI[1]

 

13 April 1962

 

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah hasil penelitian tentang pengalaman-pengalaman Permesta selama memberontak terhadap pemerintah pusat. Penelitian itu dilakukan oleh seorang bekas perwira staf Permesta. Untuk melengkapkan catatan baiklah saya kemukakan di sini beberapa hal yang menarik dalam penelitian teresbut. Maka dikatakannya :

  1.  Proklamasi Republik Persatuan Indonesia di bulan Februari 1960 telah membawa perpecahan dan disintegrasi di kalangan Permesta.
  2. Sebagai akibat pembunuhan terhadap Wakil Perdana Menteri J. Warouw di salah satu tempat di Minahasa Selatan, maka timbul lah dua  golongan yakni “golongan Selatan” di bawah Ventje Sumual yang menjadi KASAD Revolusioner dan “golongan Utara” di bawah Somba.
  3. Pada tanggal 1 November 1960 Alex Kawilarang mengambil alih seluruh komando perang di daerah  Permesta.
  4. Pada bulan Maret 1961 Ventje Sumual dipecat lalu diadakan reorganisasi dalam Angkatan Perang Revolusioner.
  5. Sejak permulaan tahun  1960 diadakan  pendekatan dari Jakarta terhadap pimpinan Permesta dan diusahakan adanya penyelesaian damai.
  6. Perundingan berjalan setahun lamanya dan pada akhir triwulan pertama tahun 1961 terdapat penyesuaian pikiran.
  7. Pada tanggal 4 April 1961 berlangsung peristiwa penandatanganan pernyataan dan naskah penyelesaian masalah Permesta antara Somba dan Pangdam Kodam XIII/Merdeka yang dikenal sebagai Peristiwa Malenosi (dekat Amurang) . Kemudian tanggal 14 April diadakan inspeksi oleh Deputy MKN Hidayat di Woloan (dekat Tomohon) terhadap pasukan Permesta dan tanggal 12 Mei 1961 inspeksi oleh MKN Nasution di Papakelan (dekat Tondano) .
  8. Permesta telah mengambil jalan tersendiri terpisah dari Republik Persatuan Indonesia (RPI) di Sumatra karena sudah lama tak ada hubungan dan koordinasi.
  9. Permesta telah bertahan tiga tahun lamanya dengan 30 batalyon infanteri dalam daerah yang lebar 30 km dan panjang 90 km. Di antaranya 15 batalyon adalah tentara regular.
  10.  Karena perpecahan intern, maka hanya sepuluh persen senjata Permesta yang ditujukan terhadap lawan dan kekurangan mesiu kemudian menyebabkan kedudukan Permesta menjadi sulit.

Demikian survey yang berisi pengalaman-pengalaman Permesta selama tiga tahun dan untuk pengetahuan sejarah bagi ahli sejarah kita barangkali catatan-catatan ini ada manfaatnya.(SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 206-207.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*