PENDAPAT SUBANDRIO

PENDAPAT SUBANDRIO [1]

 

15 Februari 1963

 

Tampaknya kartu-kartu Dr. Subandrio untuk menjadi Menteri Pertama tetap kuat. Kemarin dua orang teman saya bercakap-cakap dengan Subandrio tentang keadaan di dalam negeri. Ia mengatakan kini tidak begitu keras lagi perlawanan terhadap dirinya dari pihak tentara yang dulu pernah mengatakan supaya Subandrio melepaskan Luar Negeri apabila ia sampai dijadikan Menteri Pertama. Dalam pada itu dia sadar aparatur negara akan bersikap sangat skeptis terhadap dirinya apabila dia diangkat menjadi Menteri Pertama.

Subandrio yang baru kembali dari India dan sebelum itu dari RRT untuk menjelaskan usul-usul Konperensi 6 Negara di Colombo bertalian dengan masalah perbatasan lndia-RRT menceritakan beberapa hal yang menarik. Subandrio berkata, RRT dewasa ini tidak lagi merupakan “Redproblem” (masalah Merah), akan tetapi merupakan “Yellow problem (masalah Kuning).

Dengan itu dimaksudkan soal ideologi komunis bukan Iagi soal utama dalam kita minilai RRT melainkan kenyataan RRT makin lama makin keras semangat kecinaan nya dengan nasionalismenya yang bersifat ekspansif. ltulah yang harus kita perhitungkan sebagai bangsa yang hidup di Asia Tenggara. Menurut pendapatnya, RRT akan menyelenggarakan hubungan baik dengan Indonesia karena Indonesia dianggap berguna bagi RRT sebagai “jembatan” yang akan melepaskan kelak RRT dari isolasinya sekarang.

Di New Delhi Dr. Subandrio berbicara dengan PM Nehru dan Presiden Radakrishnan. Kedua pemimpin India ini mengatakan India memang secara industrial dan administratif lebih maju daripada Indonesia. “Tetapi satu hal telah kami lalaikan. selama ini yaitu bekerja untuk national cohesion (kepaduan nasional) bangsa dan negara kami. Dan hal ini ada dikerjakan oleh Indonesia,” kata pemimpin-pemimpin India tersebut.

Nehru meminta kepada Subandrio memberikan jasa-jasa baiknya supaya RRT sedikit ditahan dan dikekang dalam kecenderungan ekspansionismenya sebab jika hal itu tak dilakukan oleh RRT, maka India makin jatuh di bawah dominasi Amerika Serikat. Dan menurut Subandrio, hal itu kini amat ditakutkan oleh Nehru.

Berbicara tentang kemungkinan terbentuknya Kabinet Nasakom, Subandrio mengatakan dalam konstelasi dunia sekarang di mana perkembangan menunjukkan adanya usaha saling mendekati antara Krushchev dengan Kennedy (setelah peristiwa Kuba) dan kian terwujudnya suatu “kepentingan bersama” di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka tidaklah usah dikhawatirkan memasukkan PKI kedalam kabinet. (SA)

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 334-335.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*